Pasteurisasi bagian penting dalam budidaya jamur merang. Menurut Dr I Nyoman Aryantha dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati, Institut Teknologi Bandung, pasteurisasi berguna agar kumbung dan media tanam bebas hama dan penyakit. Kumbung dan media tanam tidak steril bisa menyebabkan pekebun gagal panen. “Kumbung biasanya dialiri uap panas selama 5 – 8 jam bergantung ukuran kumbung,” tutur Nyoman.
Dalam melakukan pasteurisasi, pekebun memanfaatkan drum bulat bekas minyak tanah bervolume 200 liter. Untuk sebuah kumbung berukuran 7 m x 5 m butuh 3 drum bekas minyak tanah. Drum-drum itu diisi air dan dipanaskan memakai kayu bakar hingga mendidih. Uap panas yang keluar disalurkan melalui pipa besi berdiameter 5 – 10 cm ke dalam kumbung.
Rata
Menurut Carmin, ketua kelompok tani pembudidaya jamur merang Sri Cendana, pasteurisasi memakai drum bulat boros kayu bakar dan lama. Untuk sekali proses pasteurisasi, misalnya, butuh sekitar 10 – 12 m3 kayu bakar. “Jika 1 m3 kayu bakar harganya Rp100.000, biaya untuk satu kumbung mencapai Rp1-juta – Rp1,2-juta,” tutur Carmin.
Kondisi itu tercipta karena jilatan api cenderung mengikuti bentuk drum, sehingga luas permukaan yang dipanasi sedikit. Belum lagi volume air yang harus dididihkan lebih banyak sehingga ujung-ujungnya pemanasan air berjalan lambat. Walhasil produksi uap panas lambat dan sedikit.
Oleh sebab itu tungku perlu dimodifikasi. Caranya, drum dipotong vertikal sehingga terbelah dua sama besar. Tutuplah permukaan drum yang terbelah dengan lempengan besi berketebalan 2 – 5 mm atau memanfaatkan sisa potongan drum yang sudah ditempa hingga rata. “Pengelasan harus rapi di ujung-ujung sambungan supaya drum tidak bocor,” tutur Carmin. Tangkupkan drum sehingga permukaan yang rata (bidang pemanasan) berada di bawah. Menurut Nandang Nurdin SP dari Bidang Hortikultura, Dinas Pertanian dan Peternakan, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, modifikasi itu membuat bidang pemanasan lebih luas. Air pun lebih cepat mendidih dan menjadi uap.
Pada bagian atas drum selanjutnya dibuat lubang berdiameter 5 – 10 cm untuk memasukkan air. Agar lebih praktis, lubang tersambung dengan pipa atau selang ke kran air. “Kran cukup diputar dan air mengalir,” tutur Ito Warsito, pekebun di Indramayu yang sudah mengaplikasi teknologi tungku itu.
Lebih hemat
Untuk mengalirkan uap air yang terkumpul, di bagian samping drum dibuat lubang bergaris tengah 5 – 10 cm dan ditancapkan pipa. Pipa besi itu lalu disambungkan ke lubang pasteurisasi pada bangunan kumbung. Panjang pipa bergantung jarak antara tangki dengan kumbung. “Jaraknya tidak boleh terlalu dekat karena dikhawatirkan api menjilat dinding kumbung bila ada angin kencang,” ungkap Carmin yang menyebutkan jarak ideal berkisar 4 – 5 m.
Untuk sebuah kumbung dibuat 3 lubang pasteurisasi yang letaknya bisa di depan atau belakang kumbung. Jarak antarlubang diatur 50 cm. Lubang-lubang itu sebaiknya dibiarkan terbuka agar mudah memasukkan pipa pasteurisasi.
Setelah media tanam ditebar merata di rak-rak bambu di kumbung, barulah pasteurisasi dimulai (untuk pembuatan media tanam, lihat Trubus edisi Maret 2011). Sebelum itu pastikan bagian dalam kumbung bersih dari kotoran dan tidak ada yang bocor sehingga mengganggu proses pasteurisasi. Setelah pemeriksaan, drum pasteurisasi baru diisi air sampai penuh dan dididihkan.
Proses pasteurisasi dipertahankan sampai suhu kumbung mencapai 60 – 700C. Kondisi itu dibiarkan stabil selama 4 – 6 jam. Setelah 5 jam proses pasteurisasi, tambahkan kembali air sebanyak separuh volume drum. Selanjutnya kumbung didiamkan selama 1 hari agar suhu di dalam turun mencapai 350C. Barulah bibit jamur merang ditabur. Berkat tangki modifikasi, kelompok tani Sri Cendana berhemat Rp900.000 – Rp1-juta setiap kali pasteurisasi. (Faiz Yajri)
