Thursday, August 11, 2022

Jeruk Imlek : Serbuan Hoki di Tahun Tikus

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Serbuan tabulampot jeruk dari Chung kuo-sebutan negeri China-setiap menjelang imlek menjadi sebuah tradisi. Dari tangan importir, jeruk imlek menyebar ke tangan warga Tionghoa melalui berbagai jalur: penangkar buah, mal, dan pameran. ‘Sejak 4 tahun terakhir betul-betul booming. Itu karena Gus Dur (Abdurahman Wahid, red) membuka keran kebebasan warga China untuk berekspresi dalam berbudaya,’ kata Eddy Lukito, importir tabulampot jeruk imlek di Kedoya, Jakarta Barat.

Menurut pemilik nurseri Golden Image itu sebelum era reformasi ia hanya mengimpor 2 kontainer per tahun. Kini mencapai 4-6 kontainer. Satu kontainer 40 feet setara dengan 400-500 tabulampot berukuran kecil dan sedang. Tabulampot ukuran besar, tinggi 2 m, 1 kontainer setara 150-200 tatanaman. Sejatinya, kebebasan mengekspresikan kebudayaan China telah berlangsung sejak 8 tahun silam. Namun, laju impor besar-besaran baru terjadi 4 tahun belakangan secara bertahap.

Pemain lain pun tak mau ketinggalan dengan Eddy yang mengimpor jeruk imlek sejak 20 tahun silam. Sebut saja Eddy Suharry dan William Widranata yang juga malang-melintang mendatangkan jeruk imlek. Kali ini Eddy mendatangkan 2 kontainer berisi 1.000 tabulampot jeruk imlek. Sedangkan William sudah menyetok 500 pot beragam ukuran, mulai tinggi 50 cm hingga 2 m. ‘Meski tahun baru masih sebulan. Sudah laku 100 pot,’ kata pengelola nurseri Istana Alam itu. Jeruk imlek itu dibandrol dengan harga Rp1-juta-Rp5-juta per pot.

Rezeki

Larisnya jeruk imlek pada saat Sin Tjia-sebutan tahun baru China-tak lepas dari kepercayaan yang dianut keturunan Tionghoa secara turun-temurun. ‘Jeruk imlek warnanya kuning menyala. Itu sebuah simbol emas alias kekayaan,’ kata Suparman, pemilik nurseri Gayatri di Jakarta. Semakin banyak jeruk berwarna kuning pada tabulampot, maka rezeki atau hoki yang diperoleh semakin banyak.

Kepercayaan lain yang tak kalah penting pun diulas William. Jeruk yang berbuah banyak melambangkan keluarga. Dompolan buah yang menyatu dimaknai sebagai persatuan dalam keluarga. Sedangkan rasa manis-asam dan penampilan keseluruhan yang cantik dipercaya mendatangkan keharmonisan keluarga. ‘Keluarga makmur dan harmonis tentu menjadi idaman setiap orang. Tak terkecuali pada tahun tikus ini,’ kata William.

Satu lagi yang disukai warga Tionghoa pada jeruk imlek asli dari China. Buah yang melekat pada tangkai sanggup bertahan 4-6 bulan. Terutama untuk jenis lazim, yakni jeruk kip alias kimkit. Sementara jenis sakam, tergolong jeruk besar, bertahan hingga 4 bulan. ‘Siapa pun pasti bangga punya tanaman buah dalam pot selalu berbuah,’ ujar Eddy. Wartawan Trubus Lastioro Anmi Tambunan, pernah melihat jeruk imlek yang bertahan hingga setahun di salah satu nurseri di Depok.

Guangdong

Menurut Eddy jeruk imlek masuk ke Indonesia pada era 1980-an. Ketika itu jeruk masih dikirim dari Malaysia dan Singapura. Baru pada akhir 80-an dan awal 90-an importir mendatangkan langsung dari sentra jeruk imlek di China. Di sebuah distrik di Provinsi Guangdong, terdapat sebuah daerah yang menjadi perkebunan tabulampot jeruk imlek. ‘Pemandangannya seperti singkong di Lampung. Hampir setiap penduduk punya kebun,’ katanya.

William menyebut Distrik Shunde, Kota Foshan, Provinsi Guangdong, sebagai sentra jeruk imlek di China. Dari sentra itulah jeruk imlek dikirim ke mancanegara setiap menjelang awal tahun. Menurut Eddy pasar mereka ialah negeri jiran: Hongkong, Singapura, Indonesia, dan Malaysia. ‘Hongkong menyerap paling banyak,’ katanya. Seperti di Indonesia, konsumen mereka ialah warga negara keturunan China.

Ketergantungan 4 negara itu pada jeruk imlek asal China bukan tanpa sebab. Menurut Dr Winarto MSc, mantan direktur Buah Direktorat Jenderal Hortikultura Departemen Pertanian, daratan Tiongkok memang cocok untuk penanaman jeruk yang aslinya buah subtropis. ‘Produksi di sana bisa jauh lebih tinggi,’ katanya.

Di sana 2 bulan menjelang imlek, pentil jeruk mulai bermunculan secara serempak. Jadi, setiap tahun baru selalu bertepatan dengan panen jeruk. Menurut Eddy fenomena yang tak pernah meleset itu karena penanggalan China selalu dikalibrasi setiap 4 tahun sekali. (Destika Cahyana/Peliput: Lastioro Anmi Tambunan).

 

Previous articleCoba Sendiri
Next articleAgar si Belang Prima
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img