Friday, January 16, 2026

Kampiun di Kaki Lawu

Rekomendasi
- Advertisement -
Red dunhill milik Tan Bing Kiat menjuarai kelas jenmanii variegata senior karena warna stabil dan pertumbuhan daun teratur.
Red dunhill milik Tan Bing Kiat menjuarai kelas jenmanii variegata senior karena warna stabil dan pertumbuhan daun teratur.

Menjadi yang terbaik di kontes anthurium tersukses.

Tan Bing Kiat tersenyum bahagia. Musababnya anthurium milik Tan menjadi kampiun di kelas paling bergengsi yakni jenmanii variegata senior pada Kontes Nasional Anthurium Solo Raya. Kemenangan pehobi dari Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, itu semakin lengkap karena anthurium lain koleksinya menjadi jawara di kelas madya.

Ia patut berbangga karena kualitas peserta di kelas jenmanii variegata senior dan jenmanii madya hampir berimbang. Dampaknya, “Juri mesti lebih jeli untuk menentukan pemenang,” tutur ketua dewan juri, Eddy Pranoto. Menurut Eddy persaingan sengit juga terjadi di kelas jenmanii pemula, prospek, dan utama. Aspek penilaian meliputi kesehatan, penampilan, dan karakter.

Ukuran daun yang hampir sama besarnya modal anthurium milik Eddy Pranoto menjadi jawara kelas jenmanii utama.
Ukuran daun yang hampir sama besarnya modal anthurium milik Eddy Pranoto menjadi jawara kelas jenmanii utama.

Jemur rutin
Red dunhill, jenmanii variegata senior milik Tan, memang layak juara karena memiliki banyak keunggulan. ”Warna stabil, pertumbuhan daun teratur, dan sosok tanaman serasi dengan pot,” ucap juri asal Malang, Jawa Timur, Ujud Rofianto. Tan mendapatkan red dunhill dari Eddy pada April 2015 setelah merogoh kocek Rp30-juta. Juara pertama di kelas jemani variegata senior menjadi prestasi terbaik red dunhill. Sebelumnya anthurium itu menjadi juara kedua ketika berlaga di Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Bagaimana cara Tan merawat sang jawara? Sepekan sekali saat sore ia memberikan pupuk mengandung vitamin B-1 dengan konsentrasi 1 liter pupuk per 1 cc air. Agar terhindar dari hama, Tan menyemprotkan insektisida berbahan profenofos dengan takaran 1 cc/1 l air. Sebulan menjelang lomba tanaman ia menjemur laceleave di bawah sinar matahari pada pukul 07.00—08.00.

Tujuannya mencerahkan dan memunculkan warna. “Hindari penjemuran terlalu lama karena merusak daun,” kata Tan yang menurunkan 6 anthurium koleksinya pada lomba itu. Ia menggunakan media tanam berupa pakis, biji kapuk, dan pasir malang dengan perbandingan 3:1:1. Setiap sore Tan menyemprot daun, sedangkan penyiraman media lima hari sekali. Sehari sebelum lomba ia mengelap daun.

Komunitas Anthurium Solo Raya penyelenggara kontes.
Komunitas Anthurium Solo Raya penyelenggara kontes.

Daun memutar
Kebahagiaan juga milik Muhamad Eko Iriyanto karena anthos oura koleksinya, lexus, menjadi yang terbaik di kelas jenmanii prospek. Padahal kontes yang berlangsung di Balai Desa Karang, Karangpandan, Karanganyar, Jawa Tengah, itu kali pertama lexus berlaga di kontes anthurium nasional.

Penampilan tanaman anggota famili Araceae itu memang mengagumkan. Daunnya memutar, berdaun kompak, dan tanaman sehat. Bentuk daun yang memutar itu asal nama lexus yang juga nama angin yang berputar kencang, lesus. Menurut Rofi—sapaan akrab Ujud Rofianto—lexus pantas menjadi pemenang karena karakter dan penampilannya lebih unggul dibanding pesaingnya.

Banyak pencinta anthurium kesengsem lexus milik Muh Eko Iriyanto yang bersosok unik.
Banyak pencinta anthurium kesengsem lexus milik Muh Eko Iriyanto yang bersosok unik.

Tersukses
Acara yang diselenggarakan Komunitas Anthurium Solo Raya itu berlangsung meriah. Sebanyak 160 peserta mengikuti adu elok itu. Padahal, panitia hanya menargetkan 150 peserta. Lazimnya 125—150 kontestan yang berlomba pada adu molek anthurium lainnya. “Penyelenggaraan kontes ini termasuk yang paling sukses,” kata ketua panitia, Sri Hartono.

Peserta berasal dari berbagai daerah di Indonesia seperti Jakarta, Surakarta, Salatiga, Karanganyar, dan Malang. Penjurian kontes juga sesuai jadwal yaitu pukul 13.00—16.00. Lebih lanjut Hartono mengatakan kontes bertujuan menjalin silaturahmi antarpencinta anthurium sekaligus mengangkat pamor tanaman hias itu agar bangkit kembali.

Acara yang berlangsung pada 30 Agustus 2015 itu melombakan 11 kelas, lazimnya 9 kelas. Tiga kelas baru yang digelar yaitu jenmanii variegata putih/pure, variegata campuran, dan hijau campuran. Kehadiran kelas baru itu agar penilaian lebih adil. Pemilik tanaman kerabat aglaonema itu antusias dengan kehadiran kelas baru. “Harapannya jumlah peserta di 3 kelas baru itu bertambah banyak pada kontes selanjutnya,” kata Eddy. (Riefza Vebriansyah)

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img