Tuesday, November 29, 2022

Kedelai : Bukan Reinkarnasi Malabar

Rekomendasi

Tak ada teknologi budidaya yang njlimet untuk meraih produktivitas yang menjulang itu. Pekebun di sana hanya memberikan pupuk organik cair sebagai sumber nutrisi. Produksi itu mematahkan mitos bahwa kedelai di Indonesia tak mungkin berproduksi tinggi, hingga 3 ton per ha. Faktanya, pekebun di Grobogan mampu menuai 3,6 ton. ‘Jika tak ada banjir, intensitas matahari memadai, produksi mungkin bisa lebih tinggi,’ ujar Ali Muchtar, sekretaris Kelompok Tani Kabul Lestari di Grobogan. Banjir menggenangi lahan ketika kedelai berumur 50 hari menjelang pengisian polong.

Produksi setinggi itu luar biasa, lantaran kedelai sebetulnya tanaman subtropis. Di Amerika Serikat, produktivitas Glicine max rata-rata 3 ton per ha. Itulah hasil seleksi Tjandramukti yang dilakukan terus menerus selama belasan tahun. Tjandra, kelahiran Grobogan 20 Februari 1936 adalah peternak, produsen kompos, dan pedagang palawija. Ia tertarik menyeleksi kedelai varietas lokal lantaran pasar menghendaki kedelai genjah alias berumur pendek dan berukuran biji besar mirip kedelai impor.

Biji besar

Pada 1996 untuk pertama kalinya, hasil seleksi itu dikebunkan di Desa Simo, Kecamatan Kradenan, Grobogan. Saat ini kedelai temuan Tjandra itu dikebunkan secara luas-mencapai 18.000 ha-hanya di Grobogan. Selain itu anggota famili Fabaceae itu juga dibudidayakan pekebun di Kabupaten Blora, Pati, dan Sragen, bahkan hingga Tegal dan Brebes. Pekebun di Grobogan menyebut hasil seleksi itu malabar versi grobogan.

Sebutan malabar itu mengacu pada nama varietas hasil silangan Pusat Penelitian dan Pengembangan Pertanian yang dirilis pada 1990. Varietas yang menghasilkan 1,93 ton per ha itu hasil silangan varietas lokal Sidoarjo dan wilis. Umur produksi malabar hanya 70 hari, warisan induknya. Namun, menurut Muchlis Adi, periset Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian (Balitkabi) temuan Tjandra berbeda dengan malabar.

‘Munculnya nama malabar pada jenis kedelai itu karena salah paham di kalangan pekebun kedelai. Karena umurnya genjah, maka pekebun menamakan kedelai itu malabar. Sampai sekarang asal-usul kedelai itu belum diketahui,’ kata Muchlis, pemulia kedelai. Untuk memastikan asal-usul hasil seleksi itu, Balitkabi tengah meneliti DNA. Disebut varietas lokal grobogan juga tidak tepat. Soalnya, ukuran biji relatif besar, 16 gram per 100 biji. Padahal, kedelai lokal lazimnya kecil, cuma 8 gram.

Resisten

Sosok temuan baru itu amat tinggi, 65-70 cm, ujung daun runcing dan tebal. Sebuah tanaman terdiri atas 3-4 cabang yang masing-masing menghasilkan 2-3 tangkai polong. Kulit polong tebal, tidak pecah hingga panen, polong dominan berisi 2-3 biji yang kuning ke emas an dan mengki lap. Bentuk biji bulat. ‘Seluruh daun rontok pada saat panen sehingga dapat menjadi pupuk hayati bagi tanaman padi,’ ujar Adi Widjaja MSc, anak Tjandramukti.

Kedelai yang akan diusulkan sebagai varietas unggul itu juga resisten hama ulat plutela, penggerek polong, ulat grayak, dan rengit. ‘Di Desa Panunggalan yang saat ini telah menggunakan malabar versi grobogan, mereka tidak menyemprot herbisida sama sekali. Penyemprotan insektida hanya dilakukan sekali dengan racun kontak untuk antisipasi serangan penggerek,’ kata Adi.

Menurut Prof Dr Achmad Baihaki, ahli kedelai dari Universitas Padjadjaran, tanaman apa pun berinteraksi dengan lingkungan. Kedelai yang produktivitasnya tinggi itu karena memang sesuai dengan lingkungan makro-iklim, ketinggian, jenis tanah, dan curah hujan-serta lingkungan mikro seperti teknologi budi daya, pemupukan, dan jarak tanam. Itulah sebabnya, sebuah varietas kedelai unggul di sebuah daerah belum tentu unggul jika dikembangkan di daerah lain yang lingkungannya tak sama.

Varietas arjasari yang ia riset, misalnya, produktivitasnya 5,8 ton per ha ketika ditanam di Oinde, Nusa Tenggara Barat. Namun, ketika dibudidayakan di Banten, produktivitasnya 4,8 ton. Secara ratarata, varietas yang dirilis pada 2005 itu mencapai 3 ton. Oleh karena itu, ‘Sebaiknya kita memang perlu mengembangkan varietas unggul lokal,’ ujar doktor pemuliaan alumnus University of Minnesota, Amerika Serikat itu.

Artinya, kita tak perlu menyeragamkan varietas untuk seluruh lahan di Indonesia. Penyeragaman varietas hanya akan meningkatkan serangan hama atau penyakit. Ia mencontohkan pada 1974-1975 ketika Indonesia menyeragamkan varietas padi, terjadi serangan wereng. Dengan demikian sejatinya untuk menciptakan swasembada kedelai bukan hal sulit.

‘Hanya saja kebijakan pemerintah kita tidak konsisten. Di sisi lain, bangsa ini senang dengan barang-barang impor, termasuk kedelai,’ ujar dosen Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran itu. Padahal, kita mempunyai varietas lokal yang tak kalah hebat seperti yang dibudidayakan para pekebun di Grobogan itu. (Sardi Duryatmo/Peliput: Lani Marliani)

 

Previous articleCoba Sendiri
Next articleAgar si Belang Prima
- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id — “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img