Thursday, February 19, 2026

Kemarau Basah Picu Serangan Busuk Daun pada Kentang, Begini Solusinya

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id – Petani kentang di Kabupaten Garut, Jawa Barat, seperti Ridwan, merasa waswas setiap kali hujan turun. Curah hujan tinggi di musim kemarau ini menandakan kemarau basah yang memicu serangan penyakit busuk daun.

Penyakit busuk daun bisa menurunkan hasil panen hingga 20 persen jika menyerang saat tanaman berumur 25 hari. “Saat itu masih bisa tumbuh tunas baru setelah pengendalian, tetapi jika lebih dari 40 hari, panen makin kecil,” ujar Ridwan.

Kentang yang terserang pada umur di atas 40 hari masuk fase generatif dan fokus pada pembentukan umbi. Ridwan biasanya memanen 8 ton dari lahan 2.800 meter persegi, namun akibat penyakit hanya menuai 6,4 ton.

Wirausahawan pertanian, Satria Prima Budi Utama, S.P., M.P., M.Sc., menjelaskan gejala awal penyakit disebabkan oleh Phytophthora infestans. “Bercak kecil hijau keabu-abuan muncul di daun, lalu menghitam dan membusuk,” ujar alumnus National Pingtung University of Science and Technology, Taiwan itu.

Menurut Satria, cendawan berkembang secara seksual maupun aseksual tergantung kondisi lingkungan. “Spora hasil reproduksi seksual pada kondisi mendukung akan menginfeksi jaringan tanaman kentang,” katanya.

Jika tanaman dalam kondisi lemah, serangan cendawan bisa menjadi sangat virulen. Hal itu memperparah kerusakan dan mengancam panen secara keseluruhan.

Hendry Puguh Susetyo, S.P., M.Si., menyebut suhu 18–21°C dan kelembapan di atas 80% ideal bagi perkembangan penyakit. Saat kemarau basah, kondisi tersebut makin sering terjadi di lahan pertanian.

Ineu Sulastrini, S.P., menyebut busuk daun sering muncul saat peralihan musim. “Satu titik terserang. Apabila terjadi hujan setelahnya dalam seminggu bisa habis semua,” kata alumnus Fakultas Pertanian, Universitas Bandung Raya itu.

Menurut Ineu, cendawan Phytophthora infestans menular lewat udara dan percikan air. Serangan pada tanaman dewasa lebih ringan karena umbi telah masuk fase pengerasan kulit.

Namun pada kondisi parah, penyakit ini bisa membuat petani gagal panen total. “Kerugian akibat cendawan ini bisa mencapai 100 persen,” ungkapnya.

Pencegahan menjadi cara paling tepat untuk menghindari kerugian besar. Satria menekankan bahwa faktor abiotik sangat memengaruhi kemampuan cendawan menyerang tanaman.

Manipulasi lingkungan seperti penggunaan mulsa plastik hitam perak efektif mencegah serangan. “Mulsa menjaga kelembapan tanah dan mencegah pencucian hara serta pemadatan tanah,” kata Satria.

Langkah lain yang bisa dilakukan adalah penggunaan musuh alami seperti Trichoderma spp. Jenis yang umum di Indonesia antara lain T. harzianum, T. koningii, dan T. longibrachiatum.

Menurut periset di Jurusan Biologi Universitas Diponegoro, Susiana Purwantisari, Trichoderma bersifat antagonis terhadap cendawan patogen. “Pengendaliannya spesifik target dan bisa meningkatkan produksi tanaman,” jelasnya.

Trichoderma bisa diaplikasikan langsung ke tanah, melalui benih, atau lewat kompos. Selain mudah dibudidayakan, cendawan ini juga tahan disimpan dalam waktu lama.

Namun jika serangan sudah melebihi ambang ekonomi, Ridwan menggunakan fungisida kimia. Ia mencampur 250 gram fungisida berbahan aktif fluopikolid dan propineb ke dalam 20 liter air.

Penyemprotan pertama dilakukan saat tanaman berumur 20 hari. Ridwan menyemprot ulang setiap lima hari saat musim hujan atau delapan hari saat kemarau hingga umur tanaman 90 hari.


Artikel Terbaru

Hidroponik di Dataran Rendah: Tantangan Suhu Tinggi dan Strategi Menjaga Produktivitas

Budidaya hidroponik di dataran rendah kerap menghadapi kendala serius seperti produksi sulit melonjak cepat. Penyebab utamanya suhu di dalam...

More Articles Like This