Trubus.id — Pembudidaya belut dapat memilih membudidayakan belut menggunakan media lumpur atau air bening. Meskipun begitu, setiap budidaya memiliki kendala masing-masing.
Menurut M. Fajar Junariyata, peternak belut di Kecamatan Babakanmadang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, sarana pembenihan memerlukan media lumpur. Sementara itu, pembesaran bisa menggunakan lumpur atau air bening.
Keduanya memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Lumpur memiliki kandungan bahan organik dan mineral tinggi sehingga memungkinkan tersedianya pakan alami bagi belut.
Sementara itu, menggunakan air bening memudahkan pengawasan, tetapi mesti menerapkan budidaya intensif seperti pemberian pakan karena risiko lebih tinggi. Fajar menambahkan, budidaya belut kian ekonomis jika pembudidaya bisa mengembangkan pakan mandiri. Hal ini karena kebutuhan pakan belut 3% dari bobot harian agar hasil optimal. Beberapa pakan yang lazim diberikan antara lain cacing dan keong mas.
Sementara itu, Hady Fahrensyah, pembudidaya di Kabupaten Serdangbedagai, Sumatra Utara, mengatakan, jenis pakan amat berpengaruh terhadap pertumbuhan belut. Ia mencontohkan menggunakan pakan keong akan membutuhkan waktu budidaya hingga 4 bulan hingga belut siap panen.
Adapun racikan sisa udang dan ikan laut hanya 3 bulan. Ketersediaan pakan itu memungkinkan karena lokasi budidaya Hady dekat pantai. Memang banyak kendala menangkarkan belut antara lain serangan hama penyakit yang makin mengganas, terutama saat peralihan musim.
Kendala lain berupa distribusi, terutama saat pandemi Covid-19 yang menyebabkan perniagaan terganggu. “Bisa dibilang 2 tahun terakhir banyak pembudidaya belut gulung tikar terdampak pandemi,” kata Fajar.
Pembudidaya sulit menjual belut saat masa pandemi karena distribusi terhambat, pasokan terganggu sehingga permintaan turun. “Olahan seperti keripik dan dendeng belut pun tidak terjual saat pandemi,” kata Fajar.
Andai mampu mengatasi beragam aral itu, pembudidaya belut bisa kembali untung. Dua tahun setelah pandemi, permintaan berangsur-angsur meningkat dan pulih seperti sedia kala.
Menurut Roy Ruslan, eksportir di Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi, Jawa Barat, yang kini mengembangkan program budidaya belut di perkotaan saat pandemi berangsur menurun, permintaan belut kembali tumbuh.
Budidaya belut bisa menggunakan tong dan dibuat bertingkat untuk skala rumah tangga dan pertanian perkotaan. Kegiatan itu bertujuan membangkitkan ketahanan ekonomi keluarga secara mandiri yang dimulai di Jakarta dan sekitarnya.
