Trubus.id — Kentang baru bio granola menjadi salah satu varietas yang digemari petani. Hal ini karena kentang bio granola memiliki beragam keunggulan. Potensi kentang bio granola juga tinggi mencapai 30 ton per hektare. Selain itu, kentang bio granola lebih tahan terhadap penyakit hawar daun.
Serangan hawar daun menjadi salah satu momok bagi petani kentang. Hal ini karena saat tanaman terkena hawar daun, hasil panen bisa berkurang separuh, bahkan hingga seluruhnya alias gagal panen.
Musuh utama tanaman kentang salah satunya Phytophthora infestans. Phytophthora infestans merupakan penyebab penyakit hawar daun. Harap mafhum cendawan patogen itu menyukai lingkungan yang basah dan lembap.
Kentang bio granola adalah rakitan tim peneliti Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian (BB Biogen), Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa), Universitas Jember, Politeknik Negeri Jember, dan Universitas Airlangga.
Bio granola dapat menghasilkan umbi 21,67–29,25 ton per hektare. Populasi tanaman sekitar 35.000 per hektare dengan bobot umbi 0,73–1,14 kilogram per tanaman. Satu tanaman mengeluarkan 7–10 umbi.
Petani memanen bio granola 100 hari setelah tanam (hst). Rasa umbi enak dengan kandungan karbohidrat 8,22%. Umbi dapat disimpan pada suhu ruang hingga 90 hari. Bio granola telah memperoleh sertifikat aman lingkungan dan aman pangan sehingga pada Juli 2021 varietas itu resmi terdaftar di Kementerian Pertanian.
Hemat biaya
Menurut Kusmana, S.P., salah satu pemulia bio granola, penyakit hawar daun menyebabkan kerugian 47–100% alias gagal panen terutama pada musim hujan. Petani biasanya mengeluarkan dana Rp40 juta per hektare untuk membeli pestisida.
Dengan varietas anyar bio granola, biaya pestisida hanya Rp10 juta per hektare. Itu cukup untuk 5–6 kali semprot atau maksimal sepuluh kali. Biasanya, petani menyemprot sampai 30 kali. Tentu hal ini bisa menghemat sepertiga.
Bio granola dapat beradaptasi dengan baik di dataran tinggi lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut (m dpl). Kusmana menekankan produktivitas, karakter umbi, dan umur panen bio granola tidak jauh berbeda dengan granola. Adapun daging umbi bio granola berwarna putih sebab mewarisi karakter umbi katahdin, sedangkan umbi granola berwarna kuning.
Menurut Kusmana, bio granola memiliki peluang untuk dijadikan kentang industri, terutama industri rumah tangga. Itu lantaran bio granola memiliki berat jenis atau specific gravity (SG) dan kandungan pati lebih tinggi daripada granola.
