Trubus.id—Daun janur dan lontar bahan baku rangkaian untuk menghasilkan karya seni sarat budaya. Di tangan Sigit Paripurno daun kelapa muda alias janur menjadi karya seni filosofi. Daun kelapa Cocos nucifera menjelma menjadi wujud burung merak yang tengah membentangkan ekor.
Tubuh merak berbalut gradasi warna hijau muda dan tua yang selaras. Keberadaan helikonia Heliconia rostrata menambah atraktif penampilan sang merak. “Merak merupakan simbol pernikahan dalam adat masyarakat Jawa,” kata perangkai asal Daerah Istimewa Yogyakarta itu.
Seluruh tubuh merak berasal dari anyaman janur. Ia menggunakan dua anyaman janur tradisional yakni panjang ilang alias piring dan bleketepe. Panjang ilang biasa digunakan sebagai wadah makanan maupun sesajen, sedangkan bleketepe lazim ditemui pada pintu masuk pernikahan adat Jawa.
Di tangan Sigit, janur bertransformasi menjadi rangkaian instalasi yang memukau. Sigit juga membuat rangkaian dari daun lontar (Borassus flabellifer) dalam wujud sepasang merak dengan ekor menjuntai. Ia memanfaatkan 2 jenis kreasi lipatan yaitu candranaya dan nayaka.
Penampilan sepasang merak itu semakin manis dengan kehadiran anggrek bulan kuning dan dedaunan berpenampilan menawan seperti philodendron, monstera, dan anthurium. Sigit berharap masyarakat semakin mencintai rangkaian bernuansa lewat karya seni.
