Tuesday, July 23, 2024

Kreativitas Anteng Hasilkan Rupiah dari Kotoran Sapi

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id— Sudah 5 tahun Anteng Sugiharti bekerja di sebuah pabrik sepatu internasional ternama di Jakarta. Namun, Anteng memutuskan kembali ke Desa Amanjaya, Kecamatan Buaymadang, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur, Sumatra Selatan, untuk berwirausaha.

Anteng memilih berniaga di bidang fesyen. Sayangnya usaha itu tidak memberikan hasil menggembirakan. Suatu hari perempuan 30 tahun itu melihat tumpukan kotoran sapi di kandang milik ayahnya.

Ayah Anteng merupakan petani yang juga memelihara sapi. Itulah sebabnya Anteng risau melihat kotoran sapi karena khawatir mengundang penyakit. Kotoran itu juga mengganggu lingkungan. Oleh karena itu, terbersit keinginan Anteng untuk mengolah kotoran sapi menjadi pupuk organik.

Langkah Anteng mengolah kotoran sapi menjadi pupuk tak semulus yang dibayangkan. Harap mafhum, sarana dan prasarana pengolahan kotoran sapi belum tersedia. Ia juga belum berpengalaman mengolahnya.

Meski demikian alumnus Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Nurul Huda, OKU Timur, itu memanfaatkan alat-alat sederhana seperti ember dan tampah alias penampi. Ia bertekad menghasilkan produk berkualitas tinggi dan bermanfaat bagi masyarakat setempat.

Selain itu Anteng juga menggali informasi dari berbagai sumber, termasuk dari kakaknya yang sarjana pertanian. Ia merancang mesin dengan memanfaatkan mesin pengaduk beton. Peranti itu untuk membuat granula atau butiran pupuk.

Anteng mencari mesin penghancur maupun mesin pembentuk granula atau bulatan kecil-kecil seperti butir padi. Proses produksi pupuk bermula dari pengumpulan kotoran sapi, lalu fermentasi selama 7—21 hari.

Kemudian ia menjemur bahan baku hasil fermentasi itu di bawah sinar matahari langsung. Anteng menghancurkan bahan baku itu menggunakan mesin. Tujuannya supaya pupuk mudah dibentuk menjadi granula.

“Dalam satu jam mesin menghancurkan 1 ton bahan baku hasil fermentasi kering,” jelas Anteng.

Bahan baku yang halus lantas dimasukkan ke dalam mesin pembentuk granula. Mesin sederhana itu merupakan rakitan sendiri dengan memanfaatkan mesin pengaduk beton. Mesin itu menghasilkan 35 kg granula dalam waktu 7—10 menit.

Langkah berikutnya pupuk dalam bentuk granula harus melalui proses pengeringkan di bawah sinar matahari. Durasi pengeringan menyesuaikan intensitas sinar matahari.

Anteng menuturkan, pengeringan menggunakan energi sinar matahari lantaran untuk mempertahankan bakteri baik dalam pupuk. Ia was-was jika menggunakan mesin pemanas, bakteri baik yang membantu pertumbuhan tanaman berkurang.

Ciri pupuk benar-benar kering, saat digenggam tekstur pupuk tidak saling menempel. Jika masih menempel satu sama lain, pupuk belum kering.

Anteng mengemas pupuk organik ke dalam karung plastik berbobot 35 kg. Kini Anteng memproduksi 35 karung pupuk organik setiap hari. Pupuk organik bikinan Anteng dipakai oleh sejumlah petani beragam komoditas seperti padi, jagung, dan mentimun.

Produsen itu juga tengah mempersiapkan produk dengan kemasan mini untuk target konsumen rumah tangga. Tujuannya memperluas pasar. Ia terus belajar untuk meningkatkan kualitas produk, termasuk berkoordinasi dengan Dinas Pertanian, Kabupaten OKU Timur.

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Pakai IoT di Kebun Jeruk, Hasil Panen Optimal

Trubus.id—Penggunaan internet of things (IoT) untuk pertanian turut membantu meningkatkan hasil panen dan kualitas produk. Pekebun jeruk di...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img