Monday, November 28, 2022

Lahirnya Gajah Yaman dan Tangan Dewa

Rekomendasi

Penantian selama 1 jam pun terbayar lunas. Di tangan Merta 2 Adenium arabicum berumur 80 tahun itu berubah wujud: gajah yaman dan tangan dewa. Keduanya menjadi arabicum unik terbesar, tertua, dan terlangka di nusantara. Lebarnya masing-masing 70-80 cm. Lazimnya, arabicum unik yang pernah muncul hanya 20-30 cm. Umurnya pun relatif muda, 2-4 tahun dan varian arabicum: ra chinee pandok. Bukan arabicum yaman dataran rendah maupun dataran tinggi.

Gajah yaman dan tangan dewa disebut langka karena bahan tanaman didatangkan langsung dari Yaman, habitat asli arabicum. ‘Bila didatangkan langsung dari Yaman, kemungkinan besar arabicum spesies,’ kata Aris Budiman, pemilik nurseri Watuputih, Yogyakarta. Maklum, arabicum yang beredar di Indonesia sebagian besar berupa hibrid. Ia datang ke Indonesia setelah diimpor dari Thailand 3-4 tahun silam. Konon, pekebun di negeri Gajah Putih mendapatkan arabicum pertama kali dari Arab Saudi.

Sejatinya-meski tak langsung didatangkan dari Yaman-kehadiran arabicum unik cukup fenomenal. Pasalnya, 99% adenium unik di Indonesia berasal dari Adenium obesum. Itu karena obesum mempunyai akar yang cenderung membentuk umbi dengan berbagai bentuk. Variasi bentuk itulah yang diasosiasikan menyerupai sesuatu di alam. Menurut Aris Budiman, karakter itu umumnya tak ditemui pada arabicum. Lazimnya, akar dan batang arabicum membentuk caudeks, dengan percabangan merumpun.

Diacungi jempol

Lantaran itulah tangan dingin I Gede Merta mendapat acungan jempol. ‘Daya imajinasinya sangat tinggi. Ia mampu menerjemahkan caudek dan percabangan arabicum yang sangat abstrak menjadi realis,’ kata Usnelly Usman, pemilik Socotra Garden, di Ciledug, Tangerang. Nelli tak menyangka arabicum yang diboyongnya langsung dari Yaman itu berubah wujud menjadi gajah dan tangan dewa. Ia pun bersama 150 pengunjung lainnya menjadi saksi mata lahirnya 2 arabicum unik istimewa itu.

Menurut Merta, Adenium arabicum yang didatangkan langsung dari Yaman memang tergolong langka dan berumur tua. ‘Ukuran caudeksnya besar dengan berbagai variasi bentuk. Bila diamati dengan seksama bisa muncul imajinasi bentuk-bentuk tertentu,’ kata pemilik nurseri Paras Bali itu. Variasi bentuk caudeks itu muncul karena kontur di habitat asli sang arabicum beragam: bukit berbatu datar, bergelombang, hingga tebing. Pun arah percabangan mengikuti arah datangnya cahaya atau searah tiupan angin yang dominan.

Pada arabicum yang menjadi bahan gajah yaman, arah percabangan tak seperti lazimnya karena mengikuti cahaya datang. ‘Bentuknya tak merumpun ke atas, tapi ke samping. Salah satu cabang yang dominan dijadikan belalai,’ kata Merta. Diduga ia tumbuh di dataran tinggi Yaman. Sementara pada bahan tangan dewa, arabicum berasal dari Yaman dataran rendah. Itu terlihat dari caudek yang cenderung meninggi. Bentuk percabangannya yang unik itu di mata Merta menyerupai sebuah tangan raksasa: tangan dewa.

Bentuk pola

Menurut Merta, arabicum unik berkualitas muncul dari imajinasi dan komponen pohon yang mendukung. ‘Pada gajah, caudeks sudah membentuk tubuh gajah. Belalai muncul dari percabangan. Kita tinggal memoles. Begitu juga pada tangan dewa. Cabang yang tumbuh sudah menyerupai tangan yang menekuk. Jadi tak ada unsur pemaksaan bentuk,’ tutur Merta. Maklum, saat awal demo dimulai banyak pengunjung berteriak, ‘sadis’ melihat cara Merta memotong dengan menggunakan gergaji.

Pemotongan dengan gergaji hanyalah membentuk pola guna menegaskan bentuk yang diinginkan. ‘Ukuran cabang sangat besar. Penggunaan gergaji masih ditoleransi,’ katanya. Berikutnya, luka potongan dihaluskan dengan pisau tajam. Luka yang terbuka lalu diolesi dengan ramuan khusus-antibakteri, antifungi, dan antijamur-agar cepat pulih. Percabangan lalu diarahkan sesuai bentuk yang diinginkan. Pengawatan dan penarikan cabang bisa menjadi pilihan.

Menurut Merta, gajah yaman dan tangan dewa yang baru saja dibentuk mesti dihindarkan dari guyuran hujan. ‘Karena luka yang terjadi sangat lebar, maka kemungkinan busuk sangat besar bila terkena hujan,’ katanya. Untuk mencegah hal itu, 2 hari berselang, arabicum unik itu diboyong ke asalnya, sebuah nurseri di bilangan Ciledug, Tangerang. Di sana keduanya menghuni sebuah rumah plastik yang melindunginya dari air hujan. (Destika Cahyana/Peliput: Argohartono Arie Raharjo)

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Cara Membangun Rumah Walet agar Walet Mau Bersarang

Trubus.id — Rumah walet tidak bisa dibuat asal-asalan. Perlu riset khusus agar rumah itu nyaman ditempati walet. Mulai dari...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img