
Memanfaatkan limbah menjadi pot unik.
Trubus — Torenia itu tampil aduhai. Bunga-bunganya yang putih ungu menyembul dari sebuah pot berbentuk kerucut cokelat terang. Sepintas penampilannya mirip buket atau bunga tangan. Pot unik itu terbuat dari limbah produsen sapu rumahan. “Limbah sabut kelapa itu biasanya hanya jadi bahan bakar membuat batu bata dan genteng,” ujar Sumardiono yang tergerak memanfaatkannya sebagai pot.
Melihat limbah itu, Sumardiono menangkap peluang dengan memberi nilai tambah produk turunan kelapa itu. Profesinya sebagai wirausahawan tanaman hias membuat pria 52 tahun itu mendapat ide untuk menyulap limbah menjadi pot. “Kalau di dunia tanaman hias, rata-rata hanya di buat pot dan media tanam anggrek dan bentuknya hanya kotak saja,” ujar produsen pot di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, itu.

Model baru
Menurut guru besar Budidaya Pertanian, Universitas Brawijaya, Prof Sumeru, pot sabut kelapa unggul dari segi keindahan dan mampu menjaga kelembapan tanaman. “Sabut kelapa bisa mempertahankan kelembapan tanah lebih lama. Cocok untuk tanaman anggrek,” ujar pengampu mata kuliah dasar hortikultura itu. Menurut alumnus Departemen Agronomi dan Hortikutura Institut Pertanian Bogor, Ir. Arry Supriyanto, M.S., pot sabut kelapa mengandung banyak kalium.

“Kalium juga dibutuhkan tanaman. Tetapi sabut kelapa juga banyak taninnya. Tanin yang berlebihan bisa menyebabkan tanaman mati, jadi sebelum dipakai lebih baik dicuci terlebih dahulu,” ujar peneliti purnatugas di Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan buah Sub Tropika (Balitjestro) itu.
Sumardiono mulai membuat pot dengan bahan limbah sabut kelapa itu pada akhir Mei 2019. Semula pot-pot itu hanya menjadi hiasan halaman rumah. Namun, ketika ada rekan dan tetangga yang berkunjung ke rumah Sumardiono, mereka mengapresiasi. “Kenapa tidak dijual saja Pak, saya juga ingin dibuatkan,” ujar Sumardiono menirukan rekan-rekannya. Ia tak membatasi bentuk-bentuk pot sabut kelapa itu. “Saya juga menerima pesanan bentuk-bentuk baru sesuai keinginan konsumen,” ujar Sumardiono.

Selain sebagai tantangan dalam berbisnis, ia juga merasa terbantu karena menemukan model-model baru yang sebelumnya tak terbayangkan. Harga pot sabut kelapa bervariasi tergantung ukuran dan kesulitan membuatnya. Misalnya pot sabut kelapa berbentuk kotak setinggi 13 cm, Sumardiono menjualnya Rp20.000. Adapun harga pot kerucut setinggi 32 cm hanya Rp20.000. Sementara harga pot memanjang 47cm dan tinggi 18 cm mencapai Rp55.000.
Pria kelahiran 21 Mei 1967 itu menjual sekitar 15—20 pot sabut kelapa setiap hari. Para pembeli dari berbagai daerah di Jawa Timur seperti Kabupaten Tulungagung, Blitar, dan Kediri. Anaknya, Gigian Fista Nurmadiono, membantu memperluas pemasaran. Gigian kini mahasiswa Fakultas Hukum, Universitas Brawijaya, memasarkan pot sabut kelapa melalui media sosial.
Kendala

Menurut Gigian kendala memasarkan pot sabut kelapa melalui dunia maya adalah ongkos kirim. “Terkadang ada yang ingin membeli satu atau dua buah, sementara ongkos kirimnya hampir sama dengan harga pembelian,” ujar lelaki kelahiran 1 Januari 1995 itu. Oleh karena itu, ia akan membuat penjualan pot per paket untuk mengatasi kendala itu. “Satu paket ada 4—5 pot dengan model beragam dan harganya bisa lebih murah dibandingkan dengan membeli satuan,” ujar Gigian.
Kendala lain dalam berbisnis pot sabut kelapa adalah bahan baku. “Karena bahan dasarnya limbah, maka kami mendapat bahan di sisa-sia akhir produksi. Kadang-kadang pihak produsen sapu itu kekurangan bahan baku, maka kami lebih kekurangan lagi, bahkan tidak ada bahan baku,” ujar Sumardiono.
Menurut pengajar agribisnis di Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya, Heptari Elita Dewi, S.P., M.P., produk karya Sumardiono memiliki daya tarik pada kreativitas dan bahan-bahannya yang ramah lingkungan dibandingkan dengan pot plastik. “Pot sabut kelapa cocok bagi penggemar tanaman hias yang ingin tampilan baru. Khusus untuk pot berbentuk kerucut cocok juga untuk desain vertikal garden atau taman dinding,” tuturnya. (Bondan Setyawan)
