Trubus.id — Selama para petani tidak menerapkan jadwal tanam, jangan berharap fluktuasi harga cabai mereda. Meskipun begitu, terkait harga selalu ada dua sisi yang bertentangan.
Di satu sisi, saat harga cabai relatif tinggi tentu akan menggembirakan petani. Di sisi lain harga tinggi merugikan konsumen karena mereka harus membeli dengan harga mahal. Bahkan, harga cabai yang tinggi menyebabkan inflasi. Contohnya, inflasi pada Juli 2022.
Badan Pusat Statistik (BPS) secara resmi mengumumkan inflasi Juli 2022 sebesar 0,64% secara bulanan (month to month) dan 4,94% secara tahunan (year on year). Besaran inflasi Juli 2022 itu melampaui batas inflasi yang ditargetkan pemerintah, yakni batas atas kisaran sasaran Bank Indonesia (BI) sebesar 4%.
Menurut Tita Rosy, S.ST., M.P., Fungsional Statistisi Ahli Madya BPS Provinsi Kalimantan Selatan, cabai merah berada pada urutan teratas penyumbang inflasi pada Juli 2022 yakni sebesar 0,15%.
Gangguan pasokan domestik akibat pengaruh cuaca ditengarai menjadi penyebab tingginya kenaikan harga cabai merah. Untuk mengantisipasi kenaikan harga cabai, Kementerian Pertanian membuat program untuk memenuhi kebutuhan pangan seperti cabai dengan memanfaatkan lahan pekarangan.
Kegiatan yang digagas Badan Ketahanan Pangan (BKP) itu adalah Pekarangan Pangan Lestari (P2L). Kegiatan itu dilaksanakan kelompok masyarakat secara bersama-sama untuk mengusahakan lahan pekarangan sebagai sumber pangan berkelanjutan.
Dalam perkembangannya, P2L tidak hanya bisa memenuhi kebutuhan pangan keluarga, tetapi juga bisa dijual untuk menambah pendapatan.
Sementara itu, menurut Dr. Tomy Perdana, dosen Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran, S.P., M.M., cabai merupakan salah satu komoditas yang memiliki fluktuasi harga cukup tinggi.
Dalam kondisi tertentu, harga cabai merah di Indonesia bisa mencapai Rp100.000 per kilogram. Namun, harga juga bisa turun hingga Rp4.000 per kilogram.
Fluktuasi harga disebabkan oleh petani yang tidak menerapkan jadwal tanam dalam budidaya cabai merah. Hal itu terjadi karena keputusan produksi petani ditentukan oleh pemilikan tanah, iklim, dan pemilihan pasar tradisional sebagai target pasar.
Pasar tradisional tidak memaksa petani untuk menjual produknya berdasarkan spesifikasi kualitas apa pun. Kondisi itu berbeda dengan karakteristik pasar terstruktur yakni industri pengolahan, eksportir, pasar ritel modern, dan jasa makanan.
“Mereka memaksa produsen di pusat produksi untuk memasok produk secara terus-menerus berdasarkan spesifikasi produk dan harga tetap,” kata Tomy.
Fluktuasi harga cabai merah menyebabkan risiko tinggi dari bisnis mereka. Akhirnya, mereka menggantinya dengan cabai impor ketika barang langka dan harga selangit. Jadi, selama para petani tidak menerapkan jadwal tanam, jangan berharap fluktuasi harga mereda.
