Tuesday, January 27, 2026

Matahari Sumber Hara

Rekomendasi
- Advertisement -

 

Kedelai tumbuh sehat dengan pergiliran tanam menggunakan bunga matahariKawasan Shonai, Provinsi Yamagata, Jepang, dikenal sebagai sentra produksi kedelai varietas dadachamame. Di sana petani menanam bunga matahari Helianthus annuus di lahan dekat lahan kedelai yang tumbuh subur. Bunga matahari ditanam dengan jarak tanam 30 cm x 30 cm.

Menurut Soma Kazuhiro, pekebun organik sekaligus pendiri Gassan Pilot Farm, bunga matahari ditanam pada bentang setara luasan lahan kedelai sebagai bagian dari pergiliran tanaman. Namun, begitu bunga matahari tua, tanaman dibabat begitu saja tanpa dipanen bijinya. Lazimnya biji bunga matahari dipanen sebagai bahan pangan atau diekstrak menjadi minyak. Biomassa bunga matahari dibiarkan membusuk di lahan sebagai pemasok fosfat pada musim tanam berikutnya. Itulah teknik bertani organik untuk memenuhi kebutuhan fosfat pada tanaman kedelai dan tanaman lainnya.

Gilir tanam

Hingga 1970 kawasan pertanian Shonai bukan merupakan sentra pertanian organik. Soma Kazuhiro menuturkan pekebun di Shonai akrab dengan pupuk anorganik dan pestisida sintetis. Soma beralih ke pertanian organik karena tak ingin putranya yang masih balita saat itu mengonsumsi pangan dari hasil pertanian yang menyisakan residu beracun. Niat Soma itu bak gayung bersambut saat bertemu dengan sekelompok calon konsumen yang menginginkan pangan sehat dan bebas pestisida sintetis.

Proyek pertanian organik dengan bendera Gassan Pilot Farm itu awalnya memakai lahan sewa seluas 5 ha yang tandus dan berbatu. Tak mudah mengubah lahan itu menjadi organik. Contoh kebutuhan kompos sangat tinggi mencapai 100 ton/ha per tahun. Padahal hasil panen semua jenis sayuran rendah.

Soma belakangan menyadari bertani organik bukan hanya memakai pupuk organik. “Saya sadar pergiliran tanaman juga penting,” tutur Soma. Ia lalu belajar teknik pergiliran tanaman tradisional Jepang dengan menggali pengetahuan pada petani-petani tua di sekitar Shonai. Seperti di tanahair, bertani organik di Jepang sebuah ilmu tua yang dipraktekkan turun-temurun sebelum era modern. Ia pun mulai meniru budidaya bergilir padi, keluarga kentang, keluarga kubis, lobak merah atau turnip, wortel, dan kacang terutama kedelai.

Soma menghemat kompos 50%, dengan rotasi itu tanpa mengurangi hasil panen. Produksi beras rata-rata mencapai 4,5 ton per hektar per musim tanam. Sayang, rotasi pun ternyata tak berjalan mulus meski hasil panen stabil. Lambat laun Soma Kazuhiro menemukan gejala tak normal pada sebagian tanaman budidaya, terutama sayuran buah yang sekerabat dengan kentang. Pertumbuhan terung dan tomat cenderung melambat, berpostur pendek, berbatang kurus dan lemah. Tampak pula rona kebiruan pada daun. Sebagian buah berukuran kecil dan berwarna tak cerah. Itu gejala kekurangan unsur hara fosfat (P).

Mirip bera

Setelah ditelisik lahan di Gassan Pilot Farm banyak mengandung unsur aluminium (Al). Aluminium terlarut dalam bentuk Al3+ mengikat fosfat yang ditaburkan ke tanah. Fosfat pun terikat dalam bentuk senyawa alumunium fosfat (AlPO4) yang mengendap dan tak larut. Fosfat seperti itu tidak dapat diserap akar tanaman.

Memberi tambahan batuan fosfat atau fosfat anorganik ke dalam tanah juga bukan solusi. Fosfat berlebih cenderung mengendap dan membentuk lapisan yang keras. Dari seorang teman ia mendapat informasi banyak mikroorganisme yang mampu melepas ikatan Al pada P.

Dari hasil penelitian sebuah universitas di Jepang, Soma Hajime, putra Soma Kazuhiro yang kini memimpin Gassan Pilot Farm mendapat jawaban. Perakaran tanaman bunga matahari selalu didomplengi cendawan Mycorrhiza Vesicular-Arbuscular (MVA). Mikorhiza yang berasosiasi dengan bunga matahari termasuk tipe yang mampu melepaskan fosfat yang terikat alumunium. Ia mengeluarkan beragam asam organik dan enzim sehingga P terlepas lalu dapat diserap tanaman inang.

Sejak itu Gassan Pilot Farm menggilir tanaman utama dengan bunga matahari. Setelah berumur 4 bulan bulan pascatanam, tanaman bunga matahari dibiarkan membusuk dan terurai sebagai penyedia fosfat siap serap bagi tanaman. Sejatinya teknik itu mirip dengan mengistirahatkan (bera) tanah dalam teknik pertanian tradisional di beberapa wilayah di Indonesia. “Meski bagian dari pergiliran tanaman, periode penanaman bunga matahari bisa 10 tahun sekali. Namun di daerah tropis, frekuensi penanamannya bisa lebih sering,” tutur Hajime Soma.

Layak tiru

Yukiko Oyanagi, staf ahli pertanian dari Asian Rural Institute, mengakui kondisi tanah Jepang banyak mengandung unsur logam seperti alumunium dan besi. Penyebabnya bahan induk tanah kebanyakan berasal dari muntahan material gunung berapi yang banyak terdapat di Jepang.

Negeri Matahari Terbit itu berada di jalur pegunungan berapi dan tanahnya cenderung masam. Pada tanah masam, fosfat yang dapat diserap tanaman akan sangat kecil meski diberikan masukan berlimpah dari luar. Fosfor akan terikat oleh aluminium (AlPO4), besi (FePO4), dan kadang terikat oleh mangan (MnPO4). “Teknik pergiliran tanaman dengan bunga matahari sebuah terobosan yang ramah lingkungan,” kata Yukiko.

Di tanahair jenis tanah masam seperti ultisol, alfisol, dan entisol pun banyak mengandung aluminium terlarut. Bukan tidak mungkin teknik ala pertanian Shonai, Jepang, dapat diadopsi di Indonesia. Ia tentu tak hanya menyuburkan tanah secara alami. Lahan pertanian pun bakal terlihat cantik. (Syamsul Asinar Radjam, praktikus pertanian organik di Sukabumi, Jawa Barat dan peserta Asian Rural Institute—Leadership Training 2011 di Jepang)

Previous article
Next article
Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img