Trubus.id — Kebutuhan nutrisi tanaman harus terpenuhi agar pertumbuhan bisa optimal. Selain membeli nutrisi di pasaran, Anda bisa membuat atau meraciknya sendiri. Pembuatan nutrisi tanaman secara mandiri telah diterapkan oleh Kelompok Tani Merta Abadi.
Kelompok tani itu rutin membuat pupuk organik cair sebagai sumber hara bagi kakao sejak akhir 2021. Frekuensi pembuatan sekali sebulan. Mereka membuat tiga jenis pupuk organik cair, yakni nitrogen, fosfat, dan kalium.
Kapasitas pembuatan pupuk 100 liter antara lain berbahan baku leri atau air cucian beras. Anggota kelompok itu memberikan 50 liter leri setiap kali pembuatan pupuk organik cair secara bergiliran. Berikut ini bahan lengkap yang perlu dipersiapkan untuk pembuatan pupuk organik cair.
Pupuk organik cair
- Urine kambing 50 liter
- Air kelapa 172 liter
- Molase 1,5 liter
- Microbacter alfaafa-11 1 liter
POC Nitrogen
- Daun salam 5 kg
- Leri (air cucian beras) 50 liter
- Air kelapa 50 liter
- Gula pasir 2 kg
- Microbacter alfaafa-11 2 liter
POC Kalium
- Sabut kelapa 5 kg
- Leri (air cucian beras) 50 liter
- Air kelapa 50 liter
- Gula pasir 2 kg
- Microbacter alfaafa-11 2 liter
Cara pembuatannya relatif mudah. Mereka memfermentasi semua bahan selama 21 hari. Setiap anggota kelompok dapat mengambil pupuk organik cair sesuai kebutuhan kebun masing-masing.
Mereka melarutkan 1 liter pupuk organik cair dalam 10 liter air. Setelah mengaduk rata, para petani menyemprotkannya pada tanaman kakao. Interval penyemprotan sekali dalam sepekan.
Nutrisi lain untuk kakao berupa pupuk cair berbahan urine kambing. Kadek Suantara, Ketua kelompok Tani Merta Abadi, memelihara 20 ekor kambing. Urine yang terkumpul 50 liter per pekan. Dalam sekali pembuatan menghasilkan 225 liter larutan.
Fermentasi bahan juga membutuhkan waktu 21 hari. Anggota kelompok melarutkan 1 liter pupuk urine kambing dalam 10 liter air. Penyemprotannya sekali sepekan pada batang dan daun kakao.
Kelompok Tani Merta Abadi melakukan 80 persen praktik pertanian berbasis organik dengan pemupukan berimbang. Sumber nutrisi bikinan sendiri.
Para pekebun lain seperti Yohanes Saputra juga menempuh jalan yang sama. Pekebun di Kecamatan Megangsakti, Kota Lubuklinggau, Sumatra Selatan, itu mengolah berbagai bahan organik hingga produksi melambung.
