Sunday, August 14, 2022

Migrasi 489 Km

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

S. black rose x S. paten, hasil silangan Soeyatno SubektiVarian lain dari S. black rose x S. patenBegitulah perjalanan sansevieria hibrida hasil silangan S. balyii x S. patula. Lidah mertua itu dibawa oleh Fery Nugroho, hobiis di Wonosobo, Jawa Tengah menuju arena kontes sansevieria di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat pada Juli silam. Belum juga mendaftarkan lidah jin kebanggaannya, Fery sudah dicegat oleh Agus Siswanto. “Saya beli ya,” kata Agus seraya mengagumi sansevieria berdaun tebal berwarna keperakan itu.

Pengusaha bijih plastik itu kepincut karena penampilan sang hibrida memang menawan. Pada setiap helai daunnya terdapat garis berwarna hijau yang kontras dengan warna dasar daun hijau keperakan. Sosok induk S. balyii yang berdaun bulat dan S. patula yang berwana perak menitis pada sansevieria hasil silangan Akian di Bandung, Jawa Barat, itu. Fery baru mau melepas setelah lomba usai.

Rupanya mata Agus memang jeli. Para juri lomba juga sama terpikatnya sehingga menabalkan lidah jin itu sebagai juara pertama pada kategori hibrida. Kategori itu baru pertama kali diadakan dan langsung dipenuhi banyak peserta. Sesuai kesepakatan, pada akhir lomba sang juara pun berpindah tangan, dibawa Agus pulang menuju kediaman di Purikembangan, Jakarta Barat, berjarak 489 km dari Wonosobo.

Silangan lokal

Sansevieria hibrida memang kian menawan hati para kolektor. Edi Sebayang memboyong hibrida S. balyii x S. francisii dari negeri Siam pada tiga tahun silam. Lidah mertua berdaun bulat membentuk cekungan itu memamerkan pola garis vertikal dan horizontal yang samar di permukaan daun berwarna hijau muda. Kedua tetuanya memiliki pola yang sama, tapi pada sang hibrida garis terlihat lebih kontras. Uniknya daun tumbuh membentuk pola mlintir berlawanan arah jarum jam. Padahal kedua tetua tumbuh memanjang ke atas.

Pantas jika hibrida sansevieria selalu menjadi incaran hobiis. “Pengunjung asal Thailand sering memuji hasil silangan saya,” kata Soeyatno Subekti, hobiis di Temanggung, Jawa Tengah. Selama 5 tahun menyilangkan, Soeyatno “melahirkan” 100 silangan. “Saya ingin menunjukkan bahwa silangan asal Indonesia tidak kalah dengan silangan hobiis luar negeri,” tutur Soeyatno. Asyiknya menyilang sansevieria, walaupun berasal dari tetua yang sama, tapi anakan yang dihasilkan bisa sangat bervariasi

Contohnya silangan antara S. black rose dengan S. paten. Salah satu hasilnya memiliki bentuk daun melebar seperti black rose, tapi tebal layaknya paten. Tepi daun berwarna cokelat membentuk garis bergelombang di atas daun berwarna hijau polos. Hasil yang lain, pola warna daunnya berbeda dengan semburat hijau muda dan hijau tua.

Silangan Soeyatno lainnya, S. balyii x S. paten, daunnya tebal dengan tepi berwarna cokelat. Semburat putih terlihat samar di daun yang berwarna hijau. Silangan S. koko dengan S. paten juga memiliki bentuk yang istimewa. Kelima daun pertama berbentuk lebar dan bergelombang sedangkan dua daun yang baru muncul terlihat lebih tebal sehingga kontras. Corak daun unik dengan semburat hijau muda dan hijau tua, tepinya berwarna cokelat.

Keistimewaan lain, sansenviera hibrida mengeluarkan anakan lebih cepat. Saat Agus memboyong sang juara hibrida jumlah anakan hanya dua buah. Pada September 2011 anakan bertambah menjadi 9 buah. “Belum sampai 3 bulan pot sudah terlihat penuh,” ujar Agus. Maka sansevieria migran itu kian memikat sang hobiis. (Pranawita Karina/Peliput: Tri Istianingsih)

Merawat Hibrida

Secara umum perawatan tanaman hibrida sama dengan sansevieria spesies. “Kecuali untuk jenis yang memiliki dominasi daun warna silver dan variegata,” ujar Soeyatno Subekti. Untuk hibrida dengan daun variegata, Soeyatno biasa menggunakan campuran media sekam bakar, sekam mentah, dan pakis. Pada non variegata boleh menambahkan tanah.

Edi Sebayang menggunakan media porous berupa pasir malang, sekam bakar dan zeolit. Sementara Agus Siswanto hanya memakai pasir malang. Edi menyiram tanaman dua kali seminggu, tapi jika terik Agus menyiram 2 kali sehari. Sementara pemupukan dengan NPK lambat urai tiap 1 bulan sekali. Nutrisi lain, pupuk bokashi asal limbah dapur buatan sendiri.***

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img