Deretan buah anggur yang menggelantung itu memanjakan mata. Pengunjung dapat merasakan sensasi memetik dompolan anggur segar langsung di kebun.
Itulah kebun anggur Garut Grape Garden milik Pajar Hambali, S.Pd. yang berlokasi di Kecamatan Karangpawitan, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat. Ia mengusung konsep agrowisata dengan budidaya anggur di lahan seluas 1.200 meter persegi yang terdiri atas empat rumah tanam berukuran 200–420 meter persegi.
Struktur rumah tanam menggunakan bahan holo, pipa, dan galvanis dengan sistem rambatan berupa tralis dan para-para. Populasi tanaman di tiap rumah tanam mencapai 50–80 tanaman dengan berbagai varietas seperti gohz, dixon, jupiter, akademik, dan ninel.
Rata-rata hasil panen mencapai 200 kilogram per bulan dari sekitar 150 tanaman produktif. Bila seluruh lahan dioptimalkan, produksi bisa menembus 4 ton per tahun.
Agar panen berkesinambungan, Pajar memangkas tanaman secara bergiliran. Dengan cara itu, selalu ada tanaman yang siap berbuah untuk memenuhi kebutuhan wisata petik anggur.
Harga anggur yang dipetik langsung dari kebun berkisar Rp100.000–Rp150.000 per kilogram. Dari hasil penjualan itu, omzet Pajar mencapai sekitar Rp20 juta per bulan.
Selain menjual buah segar, ia juga memasarkan 300–500 bibit anggur per bulan dengan harga Rp100.000–Rp200.000 per batang tergantung jenis. Ia pun aktif memberikan pelatihan dan membina lebih dari 100 pekebun anggur di berbagai daerah, mulai dari Makassar hingga Sumatra Utara.
Menurut Pajar, tren berkebun anggur masih menjanjikan. “Awalnya pada 2021 kebanyakan pekebun hanya skala hobi, ada yang di rooftop rumah. Sekarang mulai banyak yang skala besar,” katanya.
Salah satu kebun binaannya di Sumatra Utara bahkan mencapai satu hektare. Ia menilai, varietas unggul layak dikembangkan bila memiliki masa pembungaan enam bulan, bobot rata-rata 20 kilogram per tanaman, dan tingkat kemanisan 20° brix.
Ketertarikan Pajar pada anggur berawal dari hobi saat masih mengajar. Pada 2019, ia menanam empat tanaman anggur di halaman pesantren. Meski tidak berlatar belakang pertanian, ia tekun mempelajari budidaya dari media sosial hingga jurnal ilmiah.
Kini, kebunnya bukan hanya tempat edukasi pertanian, tetapi juga bagian dari kisah pribadinya. Pajar pernah menggunakan kebun anggur itu sebagai lokasi foto dan konsep pernikahannya sendiri, terinspirasi oleh keindahan buah-buah yang menggantung.
Menurutnya, kebun itu menjadi simbol kerja keras dan kesabaran yang akhirnya berbuah manis. “Dari empat pohon pertama sampai bisa jadi tempat kami menikah, rasanya seperti melihat hasil panen kehidupan,” ujarnya tersenyum.
Permintaan pasar yang tinggi membuat produksinya belum selalu mencukupi kebutuhan. Beberapa pembeli besar bahkan meminta pasokan rutin dalam jumlah ton, namun Pajar masih terbatas modal untuk memperluas kebun.
Selain mengembangkan anggur, sejak 2024 ia mulai menanam cabai di lahan 0,5 hektare. Semangat muda Pajar membuktikan, kebun anggur bukan sekadar hobi, tapi juga peluang bisnis dan kenangan indah yang tumbuh dari tangan sendiri.
