Trubus.id— Pemilihan varietas unggul menjadi salah satu faktor penting untuk mendapat hasil optimal. Begitu pun pada komoditas padi. Ada dua varietas padi unggul baru yang bisa jadi pilihan petani. Keduanya adalah padi bioprima dan padi cakrabuana.
Padi bioprima merupakan rakitan dari peneliti di Pusat Riset Tanaman Pangan, Organisasi Riset Pertanian dan Pangan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dr. Ir. Iswari Saraswati Dewi, M.Si., dan rekan.
Ia menggunakan tiga tetua yaitu Inpari 18, padi gogo limboto, dan padi galur elit B12825E-TB-1-25 padi dari International Rice Research Institute (IRRI). Ketiga tetua itu unggul. Inpari 18 salah satu varietas padi yang dipersiapkan menghadapi perubahan iklim global.
Inpari 18 dipilih karena relatif tahan kekeringan dan terhadap wereng batang cokelat (WBC) biotipe 1 dan biotipe 2, serta agak tahan terhadap biotipe 3. Adapun padi varietas limboto memiliki keunggulan berumur genjah yaitu 105 hari setelah semai, dan tahan beberapa ras penyakit blas (blas daun dan blas leher malai).
Sementara kelebihan tetua galur elit B12825E-TB-1-25 mempunyai ketahanan terhadap 4 ras blas utama, yaitu dengan kategori agak tahan terhadap penyakit blas ras 073, ras 033, ras 133, dan 173. Bioprima padi unggulan dengan beragam kelebihan yang merupakan warisan dari para tetua.
Produktivitas bioprima 8,64 ton per ha dan berpotensi hasil 9,4 ton per ha. Bioprima agak tahan WBC biotipe 1 dan 2 dan agak rentan biotipe 3. “Kami berharap padi itu disenangi para petani dan bisa meningkatkan kesejahteraan hidup mereka,” tutur Dewi.
Peneliti dari Balai Besar Pengujian Standar Instrumen Padi (BBPSI Padi), Sukamandi, Subang, Jawa Barat, Ali Imamuddin, S.T.P., juga baru saja menghasilkan padi unggul baru bernama cakrabuana.
Padi generasi baru itu sangat genjah dengan umur panen 104 hari setelah semai. Potensi hasilnya juga terbilang tinggi mencapai 10,2 ton per ha GKG. Sementara rata-rata hasilnya mencapai 7,05 ton GKG.
Cakrabuana juga memiliki ketahanan yang bagus terhadap serangan hama wereng batang cokelat biotIpe 1, 2, dan 3. Padi itu hasil pemuliaan menggunakan sinar gama di laboraorium Badan Teknologi Nuklir Nasional (Batan).
Ali menggunakan padi inpari 13 sebagai tetua cakrabuana. “Inpari 13 unggul pada ketahanannya terhadap hama wereng cokelat dan produktif,” tutur peneliti padi sejak 2012 itu.
Pemuliaan cakrabuana merupakan kerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. “Oleh karena itu, diberi nama cakrabuana yang merupakan salah satu nama raja di Cirebon, yang memang khas Jawa Barat,” kata Ali.
Ia berharap cakrabuana dapat dikembangkan lebih luas lagi di sawah irigasi, sawah tadah hujan, serta area endemik hama WBC.
