Tuesday, January 27, 2026

Penerapan Sistem Multipurpose Tree Species di Gunung Wayang : Panen Tanpa Menebang

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id—Sektor pertanian menjadi mata pencaharian bagi penduduk di Desa Sukamanah, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat. Total ada sekitar 280 hektare (ha) dengan 215 keluarga petani.

Kawasan yang berdekatan dengan Kawah Wayang itu kebanyakan menanam produk perkebunan.  Pengurus Jaringan Masyarakat Tani Indonesia (Jamtani) sekaligus Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Desa Sukamanah, Kustiwa Adinata menuturkan semula petani hanya memilih menanam sayur daripada tanaman kayu di kawasan Gunung Wayang dengan alasan perputaran uang yang cepat.

“Efek pertanian sayur dengan budidaya yang tidak tepat dan tanpa tegakan pohon di daerah pegunungan dapat menyebabkan longsor hingga banjir terus berulang akibat hutan yang gundul. Itu menjadi dampak konsen kita untuk dirubah polanya,” tutur Kustiwa.

Tanaman kopi di Desa Sukamanah, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung Jawa Barat. (Trubus/ Widi Tria Erliana)

Sehingga ada proyek Citarum Harum sebagaimana pada Peraturan Presiden No 15 Tahun 2018  Tentang Percepatan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Daerah Aliran Sungai Citarum. Kustiwa menuturkan salah satunya dengan penanaman pohon kopi.

Selain pertanian juga terdapat destinasi wisata kawah wayang. (Trubus/ Widi Tria Erliana)

Semula peani tidak begitu menarik menanam kopi, karena harus menunggu 2—3 tahun untuk memeroleh hasil panen. Sehingga dilakukkan penanaman dengan konsep tanaman MPTS (Multipurpose Tree Species) yakni tanaman kekayuan yang bersifat multiguna karena bermanfaat dari segi ekologi maupun dari segi ekonomi serta menghasilkan komoditas kayu dan nir-kayu.

Kustiwa menjelaskan MPTS itu tanaman kayu dengan panen tanpa menebang. Misal memanen daun salam dan panen kulit kayu manis. Sementara pohonnya tetap kokoh.

Untuk buah kebanyakan panen buah tinggi seperti alpukat, nangka, dan makadamia. Sementara, tanaman buah yang bisa dipanen dalam waktu dekat contohnya terung belanda.

Kustiwa menjelaskan selama tanaman utama seperti kopi belum panen perdana (2-3 tahun), maka dapat menanam di sela-selanya dengan tanaman lain misalnya dengan sawi putih, cabai, bawang daun, dan kentang. Tanaman sayur itu 60—70 hari bisa panen sehingga membantu ekonomi petani sebelum memeroleh hasil panen tanaman tahunan.

Selain itu juga memanfaatkan lahan untuk tidak berkompetisi dengan gulma. Namun ketika usia tanaman utama seperti kopi 2—3 tahun atau mulai belajar panen maka petani tidak lagi menanam sayur. Tanaman utama sudah rimbun dan sudah menghasilkan panen.

Tanaman tahunan juga mendatangkan penghasilan. Salah satu tanaman yang dibudidayakan yakni makadamia sekitar 4.000 pohon. Kustiwa menjelaskan makadamia panen 12—13 tahun. Sehingga ia dan petani mulai menerapkan teknik grafting untuk panen 6—7 tahun.

“Dari tanaman tua rutin panen 400 tanaman dan coba kirim daging makadamia ke Jerman sebanyak 5 palet. Harga jika dikeringkan Rp800.000 per kg, jadi sangat berpotensi untuk dikembangkan,” kata Kustiwa.

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img