Trubus.id — Sering kali terjadi penyusutan bobot badan sapi saat di perjalanan. Tentu, penyusutan bobot sapi berdampak pada kerugian bagi peternak atau pedagang. Ini kasus yang sering dialami oleh para peternak.
Contoh saja, pengalaman peternak di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, (ia enggan disebut namanya) yang mendatangkan 20 sapi dari Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali. Perjalanan menggunakan truk menempuh jarak 1.072 km.
Waktu tempuh dua hari dua malam. Selama perjalanan itulah sapi kehilangan bobot tubuh 20 persen alias 80 kg per ekor. Bobot seekor sapi dewasa rata-rata 400 kg. Kehilangan bobot total mencapai 1.600 kg dari 20 sapi itu.
Itulah sebabnya ia merugi akibat penyusutan bobot sapi. Harga sapi hidup pada April 2022 mencapai Rp55.000 per kg sehingga pedagang itu kehilangan Rp88 juta. Sementara itu, untuk mengembalikan bobot badan sapi yang hilang umumnya memerlukan waktu sebulan.
Prof. Dr. Ir. Mohammad Winugroho, M.Sc., periset di Balai Penelitian Ternak (Balitnak), mengatakan, penyebab kehilangan bobot itu karena sapi stres di perjalanan. Kebutuhan gizi sapi cenderung tidak tercukupi.
“Bekal pakan di perjalanan terbatas, hanya jerami dan rumput,” kata doktor Nutrisi Ternak alumnus Institut Pertanian Bogor itu.
Sementara itu, volume rumen sapi 20–30 persen itu harus terus terisi. Sebetulnya, untuk mengatasi itu, ketersediaan pakan bergizi dan nafsu makan terjaga menjadi kunci.
Penyebab penyusutan bobot badan sapi juga diungkapkan oleh Prof. Dr. Ir. Lovita Adriani, M.S., Guru Besar Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran. Lovit mengatakan, banyak sapi di Indonesia yang menempuh perjalanan 6–8 jam tanpa berhenti. Akibatnya, meningkatkan stres dan menurunkan bobot tubuh.
Menurut Lovita, berdasarkan riset penurunan bobot sapi limousin dalam perjalanan 5–6 jam berkisar 3,7 persen. Jika durasi perjalanan lebih lama (7–8 jam), penurunan bobot mencapai 5,3 persen.
Bandingkan dengan sapi jenis brahman cross yang menempuh perjalanan 800 km itu, penyusutan 10 persen. Makin lama di jalan, penyusutan makin tinggi.
Sapi stres di perjalanan itu menyebabkan glikogen otot (daging) berkurang. Selama perjalanan, tidak ada makanan menyebabkan sapi “puasa” sehingga cadangan energi di glikogen itu akan digunakan. Sapi menggunakan energi untuk berdiri, menunduk, dan pergerakan lain selama perjalanan.
Menurut Lovita, pemberian pakan (15 persen dari biasanya) dalam perjalanan lebih baik karena tidak semua glikogen otot terkuras habis. Sapi dapat memanfaatkan nutrisi yang disediakan usus.
Guru besar Fisiologi Ternak itu mengatakan, pakan yang cocok antara campuran hijauan dan konsentrat. Hijauan untuk mengisi rumen yang kosong dan konsentrat supaya tidak menguras cadangan di glikogen otot.
