Monday, November 28, 2022

Perisai Itu Bernama Kambing Jantan

Rekomendasi

Dengan kelebihan itu gulma bernama ilmiah Ageratum conyzoides itu banyak dimanfaatkan sebagai pestisida nabati. Winarno yang mengelola sistem pertanian organik di Wonosobo, Jawa Tengah, salah seorang yang memanfaatkannya. Sejumlah 10 genggam daun dan batang babadotan diblender hingga lumat. Hasilnya dicampur dengan 4 liter air bersih. Lalu 200 ml biakan mikroba ditambahkan ke larutan babadotan.

Winarno menggunakan mikroba buatan sendiri. Jenis-jenis mikroba seperti EM4 banyak terdapat di pasaran sehingga mudah diperoleh. Pasokan pakan mikroba diperoleh dengan menambahkan 200 ml molase atau tetes tebu. Jangan khawatir jika larutan itu sulit ditemukan. Ganti saja dengan larutan gula pasir. Sekitar 250 g gula pasir dicampur dengan 1 liter air.

Fermentasi

Semua bahan diaduk rata dan biarkan selama 4—7 hari agar terjadi fermentasi. Setiap hari upayakan aduk campuran itu. Menjelang sepekan, muncul bintikbintik putih di permukaan atasnya. Itu indikasi fermentasi terjadi sempurna. Aromanya agak asam. Sekarang bahan itu disaring dengan kain kassa agar sampah nantinya tak menyumbat lubang nozel saat penyemprotan.

Hasil saringan itulah yang digunakan untuk mengatasi serangan hama atau penyakit. Dosisnya cukup 10 ml/liter air. Setelah diaduk rata, semprotkan babadotan. Untuk pencegahan, semprotkan setiap 4 hari di seluruh permukaan tanaman. Sedangkan untuk mengatasi serangan organisme pengganggu, tingkatkan dosis 50 ml/l air. Aroma menyengat dan rasa pahit babadotan mampu mengusir ulat.

Keistimewaan lain, kandungan zat aktif saponin tokcer merusak sistem saraf hama. Efeknya, nafsu makan hama hilang. Itu bagai reaksi berantai: hama kurang pakan, lemas, dan akhirnya mati. Menurut Ir Agus Kardinan, Msc dari Balittro, sistem kerja zat aktif pestisida nabati dapat masuk melalui oral maupun kulit hama. Racunnya akan menyerang sistem syaraf maupun pencernaan, sehingga dapat melumpuhkan dan mematikan hama.

Kambing jantan

Babadotan merupakan terna semusim.Anggota famili Poaceae itu tumbuh tegak 5—90 cm. Cabang-cabang tumbuh miring dan berbulu panjang. Pendatang dari Amerika Serikat itu mampu beradaptasi di dataran rendah hingga ketinggian 1.750 m dpl. Penyebarannya meluas di berbagai wilayah. Masyarakat Madura menyebutnya dus-wedusan; Sunda, jukut bau; Jawa, bandotan.

Dalam bahasa Jawa bandot juga bermakna kambing jantan. Boleh jadi lantaran aromanya menyengat sehingga nama bandotan akhirnya disematkan. Itu sejalan dengan nama di lidah Inggris, billy goat weed. Awalnya Winarno mencoba gulma itu karena memiliki aroma menyengat dan kandungan minyak asiri yang lazim berguna untuk menggempur hama.

Pusat Pelatihan Pertanian Terpadu dan Akrab Lingkungan (P3TAL) terus berinovasi menghasilkan ramuan-ramuan dengan bahan alam. Prinsip penanganan hama secara organik berani memadukan bahan tanaman. Selain bahan tunggal dapat juga menggunakan perpaduan 2—3 jenis tanaman. Masing-masing karakter tanaman membawa fungsi tersendiri. Daun yang beraroma pahit, pedas, dan sepat seperti buah kecubung cocok digunakan untuk penolak hama yang gatal seperti ulat bulu. Sedangkan tanaman yang mengandung minyak asiri dan curcumin seperti jahe lebih tepat digunakan untuk penghadang serangan penyakit akibat cendawan.

Berkat lingkungan yang asri dan alami, para predator hama pun betah berkembang di kebun organik itu. Secara alami, mereka turut mengendalikan hama. Sebagai pembasmi serangan kutu-kutuan tepat digunakan buah mahoni dan brotowali. Resep itu dihasilkan melalui pengalaman dan percobaan.

Pahit

Sunarko, pengelola lapang P3TAL juga meramu brotowali untuk menggempur kutu aphids yang kerap menyerang cabai Capsicum annuum saat kemarau. Ide memakai brotowali sebagai bahan alami pestisida nabati karena rasanya yang pahit. “Selain itu brotowali tak pernah terserang hama, itu tandanya hama tak menyukainya,” ujar Sunarko.

Kandungan zat pahit pikroterin dan harsa mampu mengusir kutu. Formulasi yang sama dengan pembuatan pestisida babadotan, ramuan itu bersifat sistemik. Ia merusak syaraf dan pencernaan hama. Dua minggu setelah penyemprotan, gerombolan kutu telah menyingkir dari pertanaman cabai.

Brotowali Tinospora crispa dapat disubstitusikan dengan penggunaan buah mahoni yang memiliki efek pahit yang serupa. Pada prinsipnya pembuatan pestisida nabati bisa memanfaatkan herbaherba liar sehingga biaya lebih murah. Sedangkan keefektifan pestisida dapat ditemukan melalui pengalaman memadukan dan memilih bahan alami yang digunakan. (Pupu Marfu’ah)

Kangkung Ampenan

Dari Gomong ke (Rumah Makan) Taliwang

Cobalah pesan menu makan siang di sebuah restoran ayam bakar taliwang. Niscaya sepiring pelecing kangkung yang masih hangat jadi salah satu menu yang disajikan. Kangkung rebus yang dihidangkan dengan sambal cabai tomat dan urap kelapa parut memang masakan khas Lombok—asal muasal restoran ayam bakar taliwang. Disantap dengan nasi panas dan ayam goreng taliwang, ehm..nikmatnya.

Itu pula yang Trubus nikmati kala bersantap siang di sebuah restoran di pinggiran kota Mataram penghujung tahun silam. Sepiring pelecing kangkung jadi makanan pembuka penggugah selera. Berlanjar-lanjar kangkung rebus berwarna hijau segar dan sejumput kecambah rebus diguyur dengan sambal cabai tomat nan merah. Di atasnya ditambahkan urap kelapa parut dan kacang tanah goreng.

Sebelum dilahap, aduk seluruh isi piring agar kangkung terasa gurih. Dimakan bersama nasi panas enak, disantap begitu saja pun lezat. “Kalau ke sini, tapi tidak makan pelecing kangkung, ya seperti belum pernah ke Lombok,” tutur Ir Ahmad Sarjana, kepala Balai Pengawasan dan Sertifi kasi Benih Nusa Tenggara Barat yang mendampingi Trubus.

Si nyonya

Selorohan ayah 3 anak itu sah-sah saja. Masyarakat NTB pantas bangga dengan menu pelecing kangkung yang mereka miliki. Bukan karena melulu disajikan dengan bumbu dan sambal yang enak, tapi kangkung rebusnya pun memang istimewa. Ipomoea aquatica yang digunakan bukan jenis sembarang. “Kangkungnya harus kangkung ampenan,” ujar Ahmad Sarjana.

Itulah anggota famili Convolvulaceae khas Lombok yang punya banyak keunggulan. Sosoknya besar-besar—diameter batang bisa sebesar ibu jari—tapi empuk, minim serat, dan tetap renyah sehingga gampang dikunyah. Bila direbus, tidak blenyek dan warna tetap hijau—kangkung lain biasanya berubah jadi hitam. Pantas bila Rumah Makan Ayam Taliwang Bersaudara di kawasan Panglima Polim, Jakarta Selatan, rela “mengimpor” kangkung ampenan setiap 2—3 kali seminggu dari Lombok. Sekali kirim terdiri atas 50 ikat besar-besar. Seikat kangkung “bermetamorfosis” jadi sekitar 5 porsi pelecing.

Sejatinya yang disebut kangkung ampenan adalah 2 varietas unggul asal Desa Tunjung dan Bayan di Lombok Barat bagian utara, yaitu aini dan gomong. Semula mereka dikenal sebagai kangkung si nyonya. Maklum awalnya yang sering membeli sayuran daun itu perempuan-perempuan keturunan etnis Tiongkok—biasa disapa nyonya.

Nama ampenan kemudian melekat karena lara—sebutan kangkung di Bima—banyak dijual di Ampenan. Kota tua terletak di sebelah barat Mataram—ibukota NTB, juga di Lombok Barat—itu dahulu terkenal sebagai kota pelabuhan yang ramai. Di sanalah perniagaan kangkung ampenan berkembang.

Sejak 2002 nama aini dan gomong yang dipopulerkan. Keduanya jenis si nyonya yang telah diidentifi kasi. Meski sama-sama unggul, aini dan gomong punya perbedaan khas. Yang disebut pertama bertepi daun bergerigi; gomong, mulus. Aini diambil dari nama istri mantan gubernur NTB Harun Al-Rasyid; gomong, nama sentra kangkung terbesar di Ampenan.

Sentra

Lantaran perniagaannya kian marak, pekebun di Ampenan pun tertarik membudidayakan kerabat tanaman hias morning glory Ipomoea indica itu. Dimulai 35 tahun silam kebun-kebun kangkung pun bermunculan di kota pelabuhan sejak zaman Belanda itu. Gomong, Dusun Pesongoran, Kelurahan Pagesangan, merupakan sentra terbesar. Di sana terdapat sekitar 30 ha areal tanam. Belakangan penanaman meluas hingga ke kota Mataram. Menurut data dari BPSB NTB, luas penanaman mencapai 24 ha dengan total produksi 7.233 ton per tahun. Kebun-kebun kangkung pun mudah ditemukan di desa-desa di Lombok Tengah dan Lombok Timur.

Bukan tanpa alasan para pekebun melirik penanaman sayuran berzat besi tinggi itu. “Dengan menanam kangkung, hampir setiap 2 minggu mereka mendapat uang kas,” kata Ahmad Sarjana. Pucuknya dipanen 30—35 hari setelah setek ditancapkan ke tanah sawah dan berlanjut setiap 2 minggu tanpa henti.

Pantas di berbagai tempat rumpunrumpun padi—yang mesti menunggu panen sekitar 4 bulan—beralih rupa jadi rambatan-rambatan kangkung. Trubus melihat hamparan kebun kangkung di sepanjang jalan menuju Lingsar, Narmada, Batukumbung, dan Suranadi—sentra buahbuahan di sebelah timur Mataram.

Jaring pasar

Sayang, mula-mula penanaman tidak intensif. Pucuk-pucuk kangkung dipetik dari pohon itu-itu saja yang ditanam sejak awal. Akibatnya produksi terus menurun. Makanya sejak 3 tahun lalu disosialisasikan peremajaan tanaman dengan menggunakan setek baru setiap 5 bulan. Yang digunakan setek bagian tengah—bukan pucuk—sehingga tingkat keberhasilan mencapai 100%. Setek yang digunakan sekitar 2 jengkal atau 40—50 cm.

Dari daerah-daerah sentra, kangkung dipasarkan di pasar lokal NTB hingga dikirim ke luar daerah. Jakarta, Semarang, Surabaya, dan Bali penyerap terbesar. Lantaran dibutuhkan segar, pengiriman keluar daerah pun menggunakan armada pesawat. Pemasaran keluar daerah dikoordinir oleh Asosiasi Kangkung Kota Mataram yang diketuai H Sadrul Iman. Akses lain melalui PD Krida Mataram.

Nah, lain kali bila Anda sempat bersantap siang di rumah makan ayam taliwang perhatikanlah pelecing kangkungnya. Itulah aini dan gomong yang melanglangbuana dari Lombok ke berbagai daerah. (Evy Syariefa)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Cara Membangun Rumah Walet agar Walet Mau Bersarang

Trubus.id — Rumah walet tidak bisa dibuat asal-asalan. Perlu riset khusus agar rumah itu nyaman ditempati walet. Mulai dari...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img