Thursday, December 8, 2022

Pertarungan Sengit di 3 Kota

Rekomendasi

Sukses Songgo patut diacungi jempol. Selama 4 tahun terakhir kontes aglaonema digelar di Jakarta, lazimnya koleksi-koleksi Indri Greg Hambali selalu bertengger di 3 besar. Sebut saja di Pameran Flora dan Fauna Lapangan Banteng, Jakarta Pusat. Pada 2004, tiara koleksi istri Gregorius Garnadi Hambali itu, menjadi yang terbaik. Setahun berselang, widuri dan srikandi, juga miliknya, bertengger di posisi ke-2 dan ke-3. Keduanya mendampingi mung mee srisuk milik Harry Setiawan sebagai pemenang pertama.

Pada 2006 lagi-lagi Indri mendominasi. Tiara dan hot lady, menduduki takhta pertama dan pemenang ke-3. Keduanya mengunci cochine tembaga milik Anugerah, Jakarta, di posisi ke-2. Pada 2007, kekuatan Indri belum tergoyahkan. Srikandi miliknya menggegerkan Lapangan Banteng. Pun pada kontes aglaonema yang digelar Trubus berulangkali. Indri bagaikan sosok sakti tak terkalahkan. ‘Karena prestasinya Indri jadi barometer perawatan aglaonema,’ kata Suparman, pemilik nurseri Gayatri di Jakarta.

Lantaran itu kemenangan di penghujung 2007 bakal menjadi catatan tak terlupakan bagi Songgo. ‘Penampilan fisiknya luar biasa. Daun sehat dan rimbun. Warna merah widuri tak ada yang pucat,’ tutur Dr Purbo Djojokusumo, salah seorang juri. Menurut Purbo hanya 1 kelemahan widuri. Ia menghuni pot yang terlalu kecil. Toh, 3 juri-Purbo Djojokusumo, Ukay Saputra, dan Rosy Nur Apriyanti-tetap sepakat menobatkannya sebagai yang terbaik. Pesona widuri secara keseluruhan lebih menonjol ketimbang saingannya: dolores dan legacy. Dua yang disebut terakhir menempati posisi ke-2 dan ke-3.

Keluarga Presiden

Kontes aglaonema yang digelar pada 9 Desember 2007 itu istimewa karena kehadiran Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Ani Yudhoyono. Orang nomor 1 di Indonesia itu beserta keluarganya turut menyaksikan 42 ratu daun beradu cantik.

Kontes bertajuk Trubus Agro Expo 2007 di Taman Wiladatika, Cibubur, Jakarta Timur, itu juga menghadirkan kontes anthurium. Sang raja daun dipertandingkan di 3 kelas: jenmanii, wave of love, dan nonjenmanii nonwave of love. Di kelas jenmanii, kobra koleksi Rusli menaklukkan 2 saingan terberatnya mangkok milik Domu dan jenmanii kesayangan Sani. Kemenangan koleksi Rusli itu seolah menegaskan dengan perawatan tepat, kobra mampu menandingi mangkok. Maklum, yang disebut terakhir kerap memenangkan kontes karena mudah tumbuh secara kompak.

Di kelas wave of love, raksasa gelombang cinta milik nurseri Imanuel menjadi yang terbaik. Ia mengalahkan gelombang cinta koleksi Siswandi dan Gandri Wahyu Kesumo. Sementara di kelas nonjenmanii nonwave of love, koleksi Sara Flora mengalahkan hibrid hookeri berukuran raksasa milik Riana Suma Putri dari Gading Permai. Reflexinervium hibrid milik Viena mesti puas di posisi ke-3. Sementara pemenang kontes tanaman variegata masing-masing philodendron gergaji koleksi Safira Flora, nepenthes milik Heriyadi, dan waru milik M Mukti.

Metro Lampung

Ingar-bingar kontes tanaman hias ternyata tak hanya milik Jakarta sebagai ibukota negara. Pertarungan sengit tanaman hias pun terjadi di Kota Metro, Lampung. Sebuah kotamadya yang berjarak 50 km ke arah timur dari ibukota Provinsi Lampung. Di kota yang dulu masuk wilayah Lampung Tengah itu bertarung 108 tanaman hias. Mereka dibagi menjadi 3 kontes: aglaonema, anthurium, dan adenium. Kontes ke-2 di provinsi paling selatan Pulau Sumatera itu seolah menegaskan, demam tanaman hias tengah menyerang Lampung. Empat bulan silam, kontes tanaman hias-anthurium dan adenium-pertama digelar di Pekalongan, kota kecamatan di Lampung Timur.

Yang membedakan, geliat aglaonema di Kota Metro sangat terasa. Sebanyak 23 ratu daun berkompetisi ketat memperebutkan 6 besar. Di putaran pertama 15 peserta tersingkir. ‘Ada 8 kandidat yang layak menjadi jawara,’ kata Adil Barus, juri asal Medan. Delapan ratu daun itulah yang dinilai secara rinci oleh 3 juri-Destika Cahyana, Jakarta; Adil Barus, Medan; dan Ramon Sitorus, Bandarlampung-dengan menggunakan 4 kriteria besar. Yaitu, kesan keseluruhan, kesehatan, warna, dan kelangkaan.

Bila di Jakarta, dominasi Songgo di kontes aglaonema sangat menyolok dengan merebut tempat pertama dan kedua, maka di Lampung nama Mohammad Adam begitu bersinar. Kolektor aglaonema kawakan itu memborong 3 gelar juara. Red metalik dan hot lady masing-masing sebagai pemenang pertama dan runner up, serta rindu sebagai harapan ke-1. Ketiganya mengunci aglaonema berdarah cochine milik Dewi di posisi ke-3. ‘Kualitas koleksinya luar biasa. Warna cerah, sehat, dan kompak. Tak ada yang bisa membantahnya,’ kata Rifian Alcheppy, panitia penyelenggara.

Nama Adam pun mencorong di anthurium. Dua jenmanii miliknya-black naga dan varian kol-di pot 114 dan 112 masing-masing menempati posisi teratas di 6 besar. Keduanya mengalahkan jenmanii milik Nadia di pot 018 yang mesti puas di posisi ke-3. Di kelas nonjenmanii, hookeri variegata milik Budi Darmawan dari Pekalongan menjadi yang terbaik. ‘Sulit sekali mendapat jenis variegata yang kompak. Sang juara pantas menjadi contoh variegata yang kompak,’ ujar Ramon. Di posisi kedua dan ketiga bertengger hookeri mutasi milik Hendri dari Bandar Jaya, Lampung Tengah, dan wave of love koleksi Lazida dari Metro.

Kontes dan pameran yang digelar pertamakali di Kota Metro itu menjadi tonggak sejarah bagi komunitas tanaman hias setempat. Metro Flower Festival 2007 itu karya pertama dari Asosiasi Tanaman Hias (Astana) Kota Metro yang didukung Pemerintah Kota Metro dan Trubus, Jakarta. ‘Munculnya asosiasi ini bisa menjadi langkah awal mewujudkan Metro sebagai barometer tanaman hias di Provinsi Lampung,’ ujar Drs Azizi, ketua Astana.

Padang

Kontes tanaman hias di Pulau Andalas pun berlangsung di Sumatera Barat. Di Padang, sebanyak 105 tanaman hias berkompetisi dalam kontes aglaonema, anthurium, anggrek, dan bonsai. Persaingan terketat terjadi di kelas aglaonema. Tiga aglaonema-superred, legacy, dan pride of sumatera-berebut tempat terbaik. Ketiganya berhasil lolos dalam seleksi 10 besar dan 5 besar. Akhirnya, 3 juri-Dra Diah Widiastoety MSi, Ir Lily Gandawati MSi, dan Syah Angkasa-menobatkan superred milik Darmawan sebagai yang terbaik. Warna merahnya sangat solid dengan pertumbuhan prima. Legacy dan pride of sumatera mesti rela di posisi kedua dan ketiga.

Bagi pride of sumatera, kemenangan di posisi ketiga sangat berarti. Pasalnya, selama ini pride of sumatera dianggap aglaonema kelas atas yang telah ‘turun kasta’ karena harganya berada di tingkatan bawah. Kemenangannya menegaskan, ‘Tak selalu tanaman mahal yang menang. Meski murah bila prima tak ada yang bisa membantah dia berkualitas,’ kata Syah Angkasa, juri dari Jakarta. Sementara di anthurium, pemenang 1-3 masing-masing direbut hookeri mawar, Ahmad Sedia; corong, Kamilla Latief; dan jenmanii bulat, Ananto.

Pada lomba anggrek, dominasi dendrobium hibrid sangat kentara. Gelar terbaik direbut dendrobium berbunga cokelat nan lebat koleksi Hilga. Ia mengalahkan 2 saingat terberatnya, dendrobium berbunga kuning milik Ad James dan dendrobium loreng koleksi Kamilla Latief. Menurut Mairawita Marlis Rahman kontes anggrek itu hendak mengingatkan masyarakat Sumatera Barat, bahwa 60% anggrek spesies di Indonesia berasal dari Sumatera Barat. ‘Semoga kontes ini bisa membuka mata kita,’ tutur istri wakil gubernur Sumatera Barat itu. (Destika Cahyana/Peliput: Eka Indra Permana, Syah Angkasa, Nesia Artdiyasa).

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Potensi Pemanfaatan Limbah Ceker Ayam sebagai Obat

Trubus.id — Mahasiswa Universitas Gadjah Mada menciptakan collagen tripeptide yang dihasilkan dari limbah ceker ayam sebagai alternatif pengobatan aterosklerosis.  Fitria Yuliana,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img