Trubus.id— Penggunaan pupuk dan pestisida berbahan organik terbilang lebih ramah lingkungan. Misal tidak menyebabkan tanah mengeras seperti akibat aplikasi pupuk kimia. Pestisida nabati pun aman dihirup pekebun.
Sementara, kalau menggunakan pupuk dan pestisida kimia, berisiko meninggalkan residu cukup tinggi. Residu itu berbahaya bagi kesehatan. Sedangkan dengan bahan organik kualitas produk pangan yang dihasilkan lebih aman dikonsumsi.
Ada banyak formula-formula pembuatan pestisida nabati berbahan dari alam. Untuk memberantas kutu daun misalnya petani dapat menggunakan daun tembakau dan kulit buah mahoni.
Racun dalam buah mahoni bersifat kontak. Daun tembakau mengandung bahan aktif alkaloid yang mempengaruhi kerja syaraf. Efektivitas pestisida itu mampu bertahan selama 1 minggu di alam.
Cara membuatnya mudah. Biji dan kulit buah mahoni dipisahkan dari daging. Kemudian diblender bersama pelarut. Pada musim kemarau gunakan air sebagai pelarut; pada musim hujan deterjen, perbandingannya 1:1.
Deterjen juga berfungsi sebagai perekat agar pestisida nabati tidak mudah hilang saat terkena hujan. Tambahkan daun tembakau, lalu diblender hingga halus. Hasilnya disaring dan disimpan dalam botol-botol plastik di tempat teduh.
Setelah 3—4 hari air yang terpisah dengan endapan sari buah mahoni dan daun tembakau bisa digunakan. Walaupun berlabel organik aplikasi di lapang tidak boleh sembarangan.
Pada cabai, pestisida hanya digunakan jika ditemukan 25 aphids per tanaman. Itu ambang batas serangan. Pemakaian pestisida itu juga efektif untuk terung dan pare. Penyemprotan dilakukan sore hari untuk mencegah penguraian bahan aktif oleh sinar matahari.
