Trubus.id — Menanam monthong seperti merawat bayi. Beda halnya dengan durian lokal. Kalau 1 pohon monthong butuh 10 insinyur, sedangkan durian lokal butuh 10 insinyur untuk 100 pohon. Itu sedikit kiasan bedanya durian monthong dengan lokal. Di balik itu, sebetulnya ada plus minus di antara keduanya.
Durian lokal perawatan terbilang lebih mudah. Sementara itu, durian monthong menuntut perawatan ekstra. Contohnya, ketika berbuah pada musim kemarau, harus disiram. Belum lagi rentan serangan kanker batang. Hal ini membuat biaya perawatan jauh lebih besar ketimbang lokal.
Kebanyakan pekebun memilih durian lokal karena produksinya tinggi. Pohon berumur 10 tahun dapat dituai 30 buah. Sementara itu, durian monthong tak boleh terlalu banyak, paling banter 15 buah karena dampaknya bisa kering dan mati.
Ukuran monthong yang relatif besar—3 kilo—justru bagi sebagian pekebun hal itu sebagai kelemahan. Alasannya, orang biasanya lebih senang membeli jumlah banyak, bukan ukuran besar. Harapannya, jika rasa sebuah durian kurang memuaskan, masih ada yang lain. Sementara itu, untuk monthong, jika bawa satu gagal, ya sudah habis.
Namun, itu kembali lagi pada pasar yang disasar. Kalau pasarnya orang-orang pehobi durian yang mengedepankan kualitas rasa, kaidah itu tidak berlaku.
Lokal selalu superior? Tidak juga. Durian lokal cenderung spesifik lokasi. Maksudnya, jenis yang cocok tumbuh di sebuah lokasi belum tentu mampu beradaptasi di daerah lain. Contoh, durian petruk asal Jepara jika ditanam di Bogor bakal “ngadat”. Masa berbuah pertama lambat dan buah pun sedikit.
Disarankan, jika hendak mengebunkan durian lokal cermati ekologi lahan seperti ketinggian dan curah hujan. Dengan curah hujan tinggi seperti Bogor, petruk jelas tak cocok. Petruk berasal dari daerah rendah dan kering.
Selain itu, kelemahan durian lokal daya adaptasinya kurang. Ia bagus di tempatnya, di tempat lain belum tentu. Sebaliknya, monthong ditanam di beberapa tempat hasil tak jauh berbeda.
Keistimewaan lain monthong adalah genjah alias cepat berbuah. Bibit berukuran 50–70 cm berbuah 5 tahun setelah tanam (tst), 1 m berbuah 4 tst, 2–3 m berbuah 2 tst. Bibit 2–3 m artinya sudah 2 tahun di dalam drum, 2 tahun di polibag, atau 4 tahun setelah penyambungan.
