Saturday, January 17, 2026

POC Lemak Hewani: Tingkatkan Produksi Cabai, Biaya Pemupukan Hemat 40%

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id—Pekebun cabai asal Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat, Jayadi Ekahidayat memeroleh hasil panen cabai keriting yang meningkat. Ia menuturkan, pada hasil panen pertama dari lahan 600 bata setara 8.400 m2 mencapai 50 kg cabai. Panen kedua menghasilkan 90—100 kg cabai, panen ketiga 160 kg, dan panen keempat 250 kg cabai.

“Harapannya jumlah panen meningkat terus dan bisa panen hingga 25 kali panen,” tutur Jayadi. Hasil itu lebih tinggi dari panen musim tanam sebelumnya. Saat itu panen pertama hanya mendapatkan 30 kg cabai, panen kedua 50 kg, dan panen ketiga 100 kg. “Kalau sekarang panen kedua saja bisa 2 kali lipatnya,” kata Jayadi.

Hasil panen petani lainnya kemungkinan lebih rendah karena serangan patek atau antraknos. Namun tanaman cabai milik Jayadi hanya terserang patek sekitar 10%. Ia mampu meningkatkan hasil panen justru setelah memangkas penggunaan pupuk kimia hingga tersisa 20% saja. Adapun sisanya ia beralih menggunakan pupuk organik cair.

Produktivitas tanaman cabai meningkat dengan pemakaian 80% pupuk organik cair dan 20% pupuk kimia. (Dok. Trubus)

Menurut Jayadi pemakaian pupuk organik cair juga menghemat biaya produksi cabai. Pada musim tanam sebelumnya, ia menghabiskan Rp106 juta untuk sehektare lahan. “Setelah kombinasi 20% pupuk kimia dan 80% pupuk organik cair bisa menghemat biaya pemupukan hingga 40%,” kata Jayadi.

Jayadi mengandalkan pupuk organik cair yang terbuat dari lemak hewani kulit dan gelatin. Menurut chief executive officer (CEO) PT Mandraguna Pusaka Utama, produsen pupukorganik cair itu, Mohammad Rian, pupuk lemak hewani itu kaya protein dan asam amino. “Tingkat asam aminomencapai 99%. Ini tinggi sekali,” ujar Rian.

Anda bisa membacanya lebih lanjut di Majalah Trubus Edisi 650 Januari 2024. Majalah Trubus mengupas tuntas prospek agribisnis 2024. Dapatkan Majalah Trubus Edisi 650 Januari 2024 di Trubus Online Shop atau hubungi WhatsApp admin pemasaran Majalah Trubus.

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img