Tuesday, August 9, 2022

Potensi Bisnis Tanaman Hias

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Banyak jenis tanaman hias yang sangat mudah dikembangkan di Indonesia dan memiliki nilai ekspor tinggi. Contohnya helikonia. Dahulu orang hanya tahu jenis helikonia sexy pink, sampai-sampai banyak yang mengira helikonia hanya satu jenis. Padahal, seiring waktu muncul warna-warna lain. Sekarang ada sexy green, sexy orange, dan sexy yellow. Masalahnya jika ekspor satuan, biayanya terlalu mahal.

Benny Tjia
Benny Tjia

Dengan bobot setiap tanaman 2—3 kg, biaya pengiriman ke Jepang saja mencapai US$10, karena menggunakan kargo udara. Untuk itu penggunaan kontainer dengan kapal lebih ekonomis. Helikonia mampu bertahan lama dalam kemasan. Apel dari Amerika Serikat atau Tiongkok tahan berbulan-bulan pascapetik, hal itu bisa diterapkan di tanaman hias. Namun, kita memerlukan institusi terpadu yang mengawasi, yang lebih penting justru mempermudah.

Pasar daun potong
Masalahnya kebanyakan institusi, baik fungsional maupun riset, terkungkung ego sektoral. Potensi banyak tapi tidak termanfaatkan karena terhambat peraturan yang kadang tidak masuk akal. Apalagi kini persaingan tak terelakkan. Pandangan seluruh dunia saat ini tertuju ke Tiongkok, salah satu raksasa dunia yang mulai berdiri tegak.

Sekarang kalau ke Kunming, Tiongkok, semua komoditas tanaman hias yang ada di Belanda dikembangkan di sana. Sejauh mata memandang, di sisi kiri dan kanan jalan bebas hambatan sepanjang 100 km terbentang rumah-rumah tanam berisi tulip, mawar, dan tanaman-tanaman lain yang menjadi ciri khas Belanda. Kelebihan mereka hanya dukungan pemerintah. Sepuluh tahun silam, saya ikut studi banding ke Belanda dan bertemu rombongan dari Tiongkok.

Rombongan mereka terdiri dari pengusaha dan unsur pemerintah. Menjelang kami berpisah, tiba-tiba petugas dari pemerintah Tiongkok menawari saya untuk mengelola sentra tanaman hias yang akan mereka dirikan. Saat itu, pemerintah mereka memborong semua jenis tanaman di sana. Selanjutnya mereka minta pengusaha atau pakar tanaman hias Belanda membuat pusat pelatihan di Yunan, Tiongkok.

Bagi Indonesia tanaman eksotis, bunga potong, dan daun potong lebih berpeluang pasar. Kalau serius menerjuni daun potong, kita bisa menjadi yang terbesar di dunia. Tentu saja dengan dukungan pemerintah, yang sayangnya sampai saat ini belum terasa. Sepuluh tahun lalu, saya mengekspor bambu rejeki Dracaena sp. Komoditas itu tidak bisa dilabel harga tinggi karena kita bersaing dengan Tiongkok. Waktu itu Kanada memilih produk Indonesia yang kualitasnya lebih baik.

Mula-mula semua lancar. Industri rangkaian bambu potong di Sukabumi, Jawa Barat, mempekerjakan 4.000 karyawan dengan tugas berbeda. Ada yang memotong, mengumpulkan, merangkai, dan mengemas. Keuntungan 1 kontainer bisa ratusan dolar. Tiba-tiba ada kebijakan yang disebut tarif nonpajak. Sepintas tarifnya sangat murah, hanya Rp6 per batang bambu hias. Padahal 1 rangkaian pagoda bambu hias tersusun oleh minimal 80 batang. Kontainer mampu memuat 20.000 rangkaian. Setelah ditotal, jumlahnya menjadi sangat fantastis.

Akhirnya industri itu terhenti begitu saja. Empat ribu tenaga kerja di sentra industri Sukabumi menjadi pengangguran. Jerih payah merintis pasar sia-sia karena sekarang pasarnya direbut Tiongkok. Tidak ada evaluasi, tinjauan, apalagi perbaikan kebijakan yang mematikan industri bambu hias itu. Seakan-akan tidak ada yang peduli. Logikanya kalau tiba-tiba terjadi penurunan penerimaan, mestinya ada perhatian, nyatanya tidak ada. Itu baru masalah biaya.

Kebijakan pemerintah

Indonesia berpeluang menguasai pasar bunga potong, salah satunya helikonia.
Indonesia berpeluang menguasai pasar bunga potong, salah satunya helikonia.

Masalah lain adalah kesulitan memasukkan tanaman impor untuk induk. Idealnya tanaman induk bunga potong diperbarui setiap 2 tahun untuk mencegah penurunan kualitas sekaligus mengikuti tren. Namun, larangan mendatangkan tanaman dari luar negeri membuat saya tidak bisa memasukkan tanaman induk. Padahal, untuk mengejar produksi, idealnya pengusaha tanaman memiliki tanaman induk dalam jumlah sama dengan kapasitas penjualan.

Tujuannya agar produksi konstan dan mampu bersaing. Tanpa tanaman induk berjumlah cukup, produksi kalah cepat dengan kompetitor luar negeri. Pembatasan impor itu juga berlaku untuk pupuk dan pestisida dari luar negeri sehingga harganya menjadi sangat tinggi. Harga salah satu merek pupuk majemuk asal Amerika Serikat mencapai Rp30.000 per 0,5 kg. Pestisidanya pun mahal. Padahal untuk pengusaha tanaman hias, pupuk itu sangat tepat.

Pengusaha tanaman hias di Bogor, Jawa Barat, pernah mencoba mengganti dengan pupuk majemuk buatan lokal. Namun, setelah 2 hari pipa dan nozel tersumbat endapan pupuk. Tidak ada pilihan lain, ia terpaksa menggunakan pupuk impor yang mahal itu daripada tidak ada produksi. Konsekuensinya ia harus menaikkan harga jual sehingga permintaan berkurang. Masalah lain adalah persaingan dengan petani tradisional.

Para petani tradisional mempekerjakan anggota keluarga. Sementara pengusaha tanaman hias menggunakan tenaga kerja yang harus dibayar. Akibatnya harga bunga potong pengusaha paling murah Rp15.000, sedangkan produksi petani tradisional hanya Rp3.000. Akhirnya pengusaha itu berhenti mengusahakan komoditas itu. Apa yang bisa kita lakukan untuk memajukan ekspor tanaman hias?

Kuncinya ada pada keseriusan pemerintah dan kebijakan yang mendukung. Pelaku tanaman hias di Tiongkok mendapat dukungan penuh dari pemerintah. Di sini, kita mengajak rapat saja sulit. Saat ini yang bisa bergerak antara lain bisnis daun potong, terutama untuk Bali. Selain itu, tanaman dalam ruangan dan lansekap. Itu bisnis padat karya sementara marginnya kecil. Dengan 264 jenis tanaman komersial saja, pengusaha tanaman hias terseok-seok.

Pengusaha besar tanaman hais yang dulu berkibar sekarang banyak yang tidak terdengar lagi. Ada yang harus menjual aset untuk membayar pesangon pekerja. Kita juga sangat tertinggal dalam segi modernisasi atau mekanisasi. Di Thailand, kebun sayuran saja menggunakan fertigasi. Wajar kalau produksi mereka jauh lebih tinggi. Sekarang pemerintah dan rakyat harus lebih saling percaya.

Potensi kita sangat besar. Jika bisa mengatasi hambatan, maka kita bisa tampil menjadi pemain kelas dunia. Contohnya Tiongkok. Ada di depan mata kita, setiap hari muncul dalam pemberitaan. Produknya setiap hari kita pakai. Jadi kalau cinta negeri ini, mari bersatu. Tiongkok membuktikan bahwa mereka bisa menjadi pemain kelas dunia dalam banyak bidang. Kita pun bisa. (Benny Tjia PhD pendiri PT Mandiri Jaya Flora)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img