Saturday, January 17, 2026

Potensi Optimalisasi Lahan Asiri Melalui Tumpang Sari

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id—Pekebun berpotensi memeroleh omzet ganda dari lahan asiri dengan model tumpang sari. Menurut peneliti di Pusat Riset Konservasi Tumbuhan, Kebun Raya, dan Kehutanan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Ris. Dr. Ir. Anto Rimbawanto, M.Agr.Sc., tumpang sari asiri cara meraih pendapatan sambil menunggu umur produktif tanaman asiri.

Ia mencontohkan kayu putih baru siap panen saat berusia 2 tahun. Kemudian periodisasi panen selanjutnya 6—9 bulan. Walaupun tanaman anggota keluarga Myrtaceae itu mampu memproduksi asiri hingga 30 tahun, dengan siklus panen yang cukup lama membutuhkan kombinasi tanaman lain yang lebih cepat panen guna menyokong pendapatan pekebun.

Menurut Anto praktik perhutanan sosial kerap dilakukan petani dalam menjalankan tumpang sari asiri. “Di setiap lahan Perhutani selalu ada tumpang sari, pekebun boleh menanam palawija di sela tanaman hutan (jati, kayu putih, atau jenis pohon lainnya),” kata Anto.

Lazimnya populasi kayu putih mencapai 1.666 pohon dengan jarak tanam 2 m x 3 m di lahan 1 hektare. Petani bisa menanam tanaman palawija yang relatif cepat panen pada umur 70—90 hari seperti cabai, kacang, dan jagung.

Cara itu memungkinkan petani bisa memanen palawija terlebih dahulu sebelum memanen daun kayu putih. Selain kayu putih, kebun serai wangi pun bisa menerapkan praktik tumpang sari.

Menurut Anto sumber minyak asiri seperti serai wangi siap panen pada umur 6 bulan setelah tanam. Artinya pekebun bisa memanen palawija atau sayuran hingga 2 kali. Panen kedua berbarengan dengan memanen serai wangi.

Petani umumnya menanam serai wangi dengan jarak tanam 75 cm x 75 cm sehingga total populasi 17.777 tanaman per hektare.

“Meski jarak tanam serai wangi rapat, terkadang pekebun kerap mengoptimalkan lahan dengan menanam palawija seperti cabai dan kacang,” kata Anto.

Selain palawija, sesama tanaman asiri juga menjadi alternatif yang bisa dikombinasikan. Menurut pekebun serai wangi di Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat, Fuja Maulana, S.M. serai wangi dan kayu putih bisa dikombinasikan.

“Panen serai wangi bisa dipola berselang 3 bulan atau setiap hari jika lahan luas,” kata Fuja.

Penanaman serai wangi di sela antartanaman jika jarak tanam kayu putih 3 m x 3 m. Apalagi kedua komoditas itu memiliki harga yang relatif stabil sehingga layak untuk dilirik.

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img