Produksi Padi Cerdas Iklim Andalkan Paket Teknologi Adaptif

Rekomendasi
- Advertisement -

Peneliti Postdoctoral Pusat Riset Tanaman Pangan (PRTP) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Edi Wiraguna, menyatakan produksi padi cerdas iklim perlu diarahkan pada tiga tujuan utama, yakni produktivitas, adaptasi, dan mitigasi.

Menurut Edi, ketiga tujuan tersebut harus berjalan beriringan agar peningkatan produksi padi tetap mampu menghadapi tantangan perubahan iklim sekaligus menekan dampak lingkungan. Konsep produksi padi cerdas iklim juga bukan sekadar penerapan satu teknologi, melainkan integrasi berbagai komponen sesuai kondisi lingkungan dan kebutuhan petani.

“Ketiganya harus berjalan beriringan agar peningkatan produksi tetap mampu menjawab tantangan iklim sekaligus menekan dampak lingkungan,” kata Edi dalam Webinar Teras-TP #2 bertema “Climate-Resilient Rice Production: Advancing Smart Cultivation Technologies and Integrated Pest & Disease Management for Sustainable Food Security”, Kamis (3/9).

Sejumlah pendekatan dapat diintegrasikan untuk mencapai produksi padi cerdas iklim. Pendekatan tersebut meliputi penggunaan varietas adaptif, pengelolaan air dan hara secara efisien, peningkatan kualitas tanah, pengendalian hama terpadu, serta pemanfaatan teknologi digital.

Salah satu teknologi yang disoroti adalah alternate wetting and drying (AWD) atau pengairan berselang. Teknologi tersebut dapat membantu menghemat penggunaan air sekaligus mengurangi emisi metana dari lahan sawah.

Sementara itu, site-specific nutrient management (SSNM) memungkinkan pemberian pupuk disesuaikan dengan kondisi lahan dan kebutuhan tanaman. Dengan demikian, penggunaan hara dapat dilakukan secara lebih efisien.

“Intervensi terbaik bukanlah satu teknologi tunggal, melainkan paket teknologi yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan setempat,” tegas Edi.

Pengelolaan hama dan penyakit juga perlu dilakukan secara terpadu dengan mengombinasikan varietas tahan, praktik budi daya yang tepat, pengendalian biologis, serta penggunaan pestisida secara bijak. Pendekatan tersebut diharapkan mampu menjaga produktivitas sekaligus mengurangi dampak penggunaan pestisida terhadap lingkungan.

Teknologi digital turut berperan dalam mendukung pengambilan keputusan di lahan. Sensor, drone, satelit, dan data cuaca dapat dimanfaatkan untuk menyediakan informasi yang membantu petani menentukan tindakan secara lebih tepat dan cepat.

“Teknologi digital akan memberikan manfaat ketika informasi yang dihasilkan bersifat lokal, tepat waktu, mudah dipahami, dan terhubung langsung dengan pengambilan keputusan oleh petani,” katanya.

Kepala PRTP BRIN, Yudhistira Nugraha, menyebutkan cadangan beras Indonesia tahun ini telah mendekati lima juta ton. Indonesia juga menargetkan kondisi tanpa impor beras.

Namun, capaian tersebut tetap perlu diantisipasi karena produksi padi menghadapi ancaman perubahan kondisi iklim. “BMKG telah memberikan peringatan bahwa musim kemarau 2026 datang lebih awal dan diperkirakan lebih kering dari biasanya. Capaian cadangan beras merupakan kabar baik, tetapi tetap rentan apabila kita tidak siap,” jelas Yudhistira.

Menurut Yudhistira, produksi padi menghadapi persoalan dua arah. Tanaman padi terdampak perubahan iklim, sementara sistem produksi padi juga berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca, terutama metana dari lahan sawah.

“Inovasi teknologi budi daya dan pengelolaan hama penyakit bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan yang harus segera diterapkan di lapangan,” pungkasnya.

Sumber:
https://www.brin.go.id/news/130287/produksi-padi-cerdas-iklim-perlu-didukung-teknologi-terintegrasi

https://trubus.id/wp-content/uploads/2026/08/spanduk-roll-banner-website.jpg.jpeg
Artikel Terbaru

Panen Perdana Anggur di Lampung Selatan Jadi Cikal Bakal Desa Tematik Anggur Nasional

Kebun anggur milik Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Merak Berseri di Desa Merak Batin, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan,...

More Articles Like This