Trubus.id— Senyum menghias wajah Iwan karena memanen 600 kilogram (kg) paprika dari 2 rumah tanam (greenhouse) seluas 450 m² dan 400 m² setiap pekan. Hasil itu dari 2 kali pemanenan.
Petani paprika di Desa Wonosari, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, Provinsi Jawa Timur, itu fokus menghasilkan paprika grade A dengan harga Rp50.000 per kg. Dengan begitu omzet Iwan dari perniagaan paprika mencapai Rp30 juta sepekan.
Hasil panen itu fantastis lantaran melonjak 100%. Sebelumnya ia hanya menuai 300 kg paprika dari 2 rumah tanam yang sama setiap pekan. Apa rahasia Iwan sehingga sukses melipatgandakan produksi paprika?
Iwan menanam dua bibit dalam satu polibag berukuran 15 cm × 15 cm sehingga populasi meningkat menjadi 4.500 tanaman. Sebelumnya populasi paprika di kedua rumah tanam hanya 2.250 tanaman.
Jumlah populasi tanaman yang meningkat berdampak pada kenaikan hasil panen. Apalagi Iwan merawat betul tanaman famili Solanaceae itu. Pindah tanam dari persemaian saat tanaman berumur 25 hari setelah tanam (hst).

Iwan melubangi dasar polibag dan meletakkannya pada lubang logbag. Iwan menggunakan arang sekam murni sebagai media tanam. Jarak tanam antarpolibag 40 cm.
“Penggunaan logbag efektif untuk mengalirkan nutrisi dari satu tanaman ke tanaman lain sehingga pertumbuhan tanaman optimal,” kata petani paprika sejak 2004 itu.
Iwan menerapkan sistem fertigasi untuk pemupukan. Artinya ia melarutkan dan mendistribusikan pupuk AB mix langsung bersamaan dengan penyiraman ke akar tanaman. Sejak pindah tanam, pemupukan rutin dilakukan sehari dua kali pada pukul 09.00 dan 11.00.
Sekali pemupukan 250 ml per tanaman. Dosis pupuk terus meningkat menyesuaikan umur tanaman. Saat tanaman berusia 40 hari pemupukan menjadi lima kali sehari mulai pukul 09.00—16.00 dengan jeda setiap dua jam.
“Jika sehari lima kali total pemupukan1.250 ml per tanaman,” ujar Iwan.
Menurut Iwan meski populasi meningkat, volume pemupukan tetap. Jadi, biaya pemupukan pun ajek. Iwan memanen paprika sejak usia tanaman 90 hst. Masa panen berakhir setelah tanaman berusia setahun.
Iwan menuturkan faktor lain agar produksi paprika optimal yakni rutin membersihkan atap plastik ultraviolet (UV) greenhouse tiga kali dalam satu periode tanam. Pembersihan bertujuan memastikan sinar matahari bisa masuk sehingga penyerbukan tanaman sempurna.
Adapun untuk meghasilkan paprika berkualitas grade A Iwan menggunakan varietas spider dan manzilia. Kedua varietas itu memiliki keunggulan masing-masing. Paprika spider berbobot 200 gram per buah dan berbuah lebat.
“Satu ruas dalam sebulan bisa menghasilkan 6 buah,” ujar Iwan.
Sementara paprika manzilia berbobot 250 gram per buah dengan produktivitas 4 buah per bulan dalam satu ruas tanaman. Bagi Iwan pencegahan dan penanganan serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) juga tidak kalah penting.
Iwan rutin menyemprotkan pestisida sepekan sekali sebagai upaya pencegahan. Frekuensi penyemprotan dinaikkan menjadi dua kali sepekan saat OPT menyerang tanaman. Iwan menggunakan beberapa pestisida untuk mengatasi OPT.
Sebut saja pestisida berbahan aktif abamectin dosis 0,5 mm/ liter air, klorfenapil 0,5 mm/liter air, dan imidakloprid 0,25 mm/liter air. “Pengobatan tidak dicampur atau aplikasiannya sendirisendiri,” kata pria berusia 50 tahun itu.
Penyemprotan pestisida pada pukul 16.00 lantaran tidak cepat menguap sehingga lebih efektif untuk pencegahan dan penanganan OPT. Menurut Iwan hama yang kerap menyerang tanaman paprika adalah trips.
