Friday, January 16, 2026

Pupuk Hayati Meningkatkan Produktivitas dan Mutu Kubis

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id—Muhamad Tosin Glio berkreasi membuat pupuk hayati.  Pupuk itu mengandung aneka mikrob seperti Trichoderma sp. dan Basillus subtilis. Cara bikin pupuk hayati relatif mudah. Ia menggunakan kotoran sapi/kambing, ayam, dan guano (C). Lalu fermentasikan semua kotoran itu.

Selanjutnya ia menambahkan mikroorganisme lokal dari buah seperti pisang, nangka, dan nanas ke dalam campuran kotoran. Diamkan selama 2 pekan. Kompos yang sudah jadi selanjutnya difermentasikan lagi menjadi cair dengan penambahan dekomposer ala PPAH.

Empat pekan berselang pupuk hayati cair dapat digunakan untuk persemaian, olah tanah, dan pemupukan saat di lahan. “Nutrisi itu berfungsi menggemburkan tanah, menstabilkan pH, dan merangsang perakaran,” kata pria yang menggeluti dunia mikrob sejak 1994 itu.

Nutrisi kreasi Tosin juga memperbaiki sifat fisika, kimia, dan biologi tanah. Tanah yang semula keras menjadi gembur. Jika sebelumnya hanya ada beberapa unsur nutrisi, setelah pemberian pupuk, zat hara tanaman tercukupi.

Tosin berprinsip tanaman sehat berasal dari tanah yang subur dan sehat. Oleh karena itu ia menganjurkan sang rekan Ahmad Dulkowim menggunakan pupuk hayati mulai dari persemaian, olah tanah, dan penanaman untuk kubis.

Keruan saja petani di Desa Ngabab, Pujon, Kabupaten Malang, Jawa Timur, itu menuai 1,5 ton kubis dari lahan 250 m2. Sebelumnya ia hanya memanen 1 ton Brassica oleracea di lahan sama. Ia memanen kubis saat tanaman berumur 80 hari setelah tanam (hst), lazimnya berumur 85 hst.

Ia menyemaikan benih bermedia 15 kg pupuk kandang dan 0,5 kg pupuk SP36. Selain itu ia juga mengencerkan 200 ml pupuk hayati dalam 30 l air. Ia mengocorkan larutan itu ke media persemaian.

Sambil menunggu bibit besar, Kowim mengolah lahan. Mula-mula ia mencangkul tanah agar gembur. Lalu ia menyemprot lahan dengan 200 ml pupuk hayati yang diencerkan dalam 60 l air. Selang 28—30 hari Kowim menanam bibit kubis di lahan.

Sebelum ke lahan Kowim mencelup akar bibit ke dalam larutan trichoderma selama 1 menit. “Tujuannya untuk merangsang akar,” kata petani kubis sejak 2013 itu. Setelah bibit tertanam ia mencampur 200 ml pupuk hayati dengan 30 l air. Lalu mengocorkan ke lahan

Pemupukan selanjutnya setiap 10 hari dengan dosis sama. Dua puluh hari menjelang panen Kowim mengganti nutrisi. Pupuk untuk generatif agar pertumbuhan kubis maksimal. Dosisnya 0,5 l pupuk hayati dicampur 160 l air. Takaran itu untuk 2—3 kali pemupukan.

Lazimnya ia mengocorkan pupuk hayati setiap 5 atau 6 hari. Jika daun tanaman kerabat sawi itu menguning, ia memberikan nutrisi. Semula beberapa petani tetangga meremehkan Kowim karena menggunakan pupuk hayati.

“Kenapa menggunakan air itu? Memang bagus?” kata Kowim menirukan ucapan petani lain. Ia bergeming dan tetap memberikan pupuk hayati.

Hasil panen kubis melimpah bukti nyata keunggulan pupuk hayati. Sekitar 30 teman Kowim bertanya mengenai pupuk hayati yang ia gunakan. Ia tertarik menggunakan pupuk hayati karena hasil panen wortel kepunyaan teman bagus.

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img