Tuesday, August 9, 2022

Rekor Tercipta di Pasar Bunga

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

Rumah betawi berbalut 17.000 tangkai bunga mawarRumah betawi berbalut mawar itu dibuat selama 2 hari. “Persiapan dan perancangan model dilakukan seminggu sebelumnya,” kata Nanang Doky, koordinator tim pemecah rekor. Bunga mawar yang digunakan  jenis lokal  asal sentra di Bandung, Jawa Barat, dan Malang, Jawa Timur. Perangkai bunga berpengalaman 20 tahun itu memilih mawar dari kedua sentra itu karena relatif  tahan lama. Buktinya, mawar yang dipetik 2 hari sebelum pembuatan tetap segar hingga 2 hari dipajang di ajang Gebyar Bunga. Nanang berharap kesegaran bunga bertahan hingga seminggu.

Rekor MURI dalam acara yang di-prakarsai ketua tim penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), Tatiek Fauzi Bowo, itu untuk yang ketiga kali. Sebelum-nya pada 2009  tercatat  rekor rangkaian ronce melati terbanyak berbentuk Monumen Nasional (Monas). Tahun berikutnya giliran rekor berupa rangkaian janur terbesar.

Proses pembuatan rumah betawi bertabur mawar itu diawali dengan pembuatan   panggung  dan  konstruksi rumah. Pada rangka rumah itulah oasis tempat menancapkan bunga dipasang. Barulah satu  per satu tangkai mawar ditancapkan. Bunga cinta berwarna merah ditata menutupi dinding dan atap rumah. Sementara kusen jendela dan pintu serta tiang rumah dari mawar berwarna putih. Kombinasi warna merah dan putih membentuk  panorama serupa tembok batu  di  bagian  dinding   bawah.  Beberapa kuntum mawar kuning ditata sebagai bingkai daun pintu.

Supaya kian selaras, Nanang dan tim terdiri dari 20 pekerja mendesain taman di bagian depan rumah. Lagi-lagi mawar putih ini dominan, kuning, merah, dan merah muda menjadi pengisi.

Rangkaian bunga

Pemecahan rekor MURI itu salah satu rangkaian acara Gebyar Bunga 2011. Acara yang diselenggarakan Dinas Kelautan dan Pertanian Provinsi DKI Jakarta itu juga diramaikan dengan kontes rangkaian bunga. Sebanyak 25 peserta dari anggota PKK seluruh kecamatan se-provinsi DKI Jakarta dan floris beradu karya di Pasar Bunga Rawabelong, Jakarta Barat.

Dalam lomba itu peserta hanya diperkenankan menggunakan bunga lokal. Total biaya rangkaian bunga—di luar harga vas—maksimal Rp200.000. Panitia  memberikan  waktu  maksimal  1  jam kepada peserta untuk menyelesaikan rangkaian. Hasilnya mengejutkan. “Semua rangkaian  bagus, memilih 10 besar saja sulit,” kata Grace, juri dari Asosiasi Bunga Indonesia (Asbindo). Hampir semua peserta menambahkan aksesori yang mencolok dan tak lazim seperti teko air.

Dalam kontes itu para juri yang terdiri atas Grace  dari  Asbindo, Yohanes  Wempy (Ikatan Perangkai  Bunga  Indonesia),  dan  Syah Angkasa (Trubus) sepakat memilih rangkaian bunga karya Maulana sebagai pemenang. “Maulana berani menampilkan daun sebagai komponen utama selain bunga,” kata Grace. Rangkaian tampil menarik dengan pilihan bunga yang berwarna harmonis. (Desi Sayyidati Rahimah/Peliput: Argohartono A Raharjo)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img