Thursday, January 29, 2026

Saksi Bom Atom Hiroshima

Rekomendasi
- Advertisement -

Bonsai yang selamat dari ledakan bom atom Hiroshima menyedot perhatian pengunjung.

Trubus — Jepang mengalami masa muram ketika bom atom meledak menjelang akhir Perang Dunia II pada 1945. Tanaman jenis japanese black pine itu selamat dari malapetaka itu. Padahal, tempat tumbuhnya hanya berjarak 3 km dari ground zero atau pusat ledakan bom atom. Rumah pemilik tanaman itu hancur berantakan. Namun, dinding rumah secara ajaib dapat menahan panas ratusan derajat selsius dan radiasi tinggi.

Itulah sebabnya bonsai berukuran besar itu dapat bertahan hidup sampai kini. Para pengunjung Konvensi Bonsai Dunia ke-8 dapat menyaksikan keelokan bonsai pinus milik Yasuo Yamaki dari Hiroshima. Bonsai lain yang menarik perhatian pengunjung adalah black pine berumur 130. Itulah salah satu bonsai koleksi Kaisar Meiji asal Jepang. Sebelumnya khalayak umum tak bisa melihat keelokan bonsai itu.

Kembali ke asal

Pohon “ajaib”, bonsai yang selamat dari
ledakan bom atom Hiroshima pada 1945.

Saat perhelatan Konvensi Bonsai Dunia pada 27—30 Mei 2017, pengunjung berkesempatan menikmati keindahan bonsai koleksi Kaisar Meiji. Tanaman itu benar-benar menggambarkan sosok ideal seni bonsai yang mengacu pada keseimbangan bentuk. Batangnya meliuk jauh dan dari kesan lurus. Namun sebaran cabang, ranting, dan daunnya yang merata di kedua sisi membuatnya seperti tampilan yin dan yang.

Kaisar Meiji memperoleh bonsai itu dari Pangeran Fushimi Hiroyashu. Potnya pun masih asli dari Okinawa dengan relief lambang kebesaran kekaisaran. Perhelatan bonsai itu berlangsung di Kota Omiya, ibukota Prefektur Saitama, Jepang, yang sohor sebagai kiblat bonsai dunia. Penyelenggaraan konvensi bonsai ke Saitama ibarat kembali ke tempat kelahiran. Konvensi Bonsai Dunia pertama berlangsung pada 1989 juga di Saitama.

Black pine milik Kaisar Meiji dengan pot yang masih asli sejak 130 lalu.

Setelah itu, penyelengaraan konvensi berpindah tempat ke Amerika Serikat, lalu ke berbagai negara di Asia, Eropa, Afrika, dan Amerika Selatan. Pemilihan pusat acara di kota berjarak sekitar 60 km dari Tokyo, ibukota Jepang, itu cukup beralasan karena terdapat distrik Omiya yang kondang sebagai kiblat bonsai. Di situlah tempat dedengkot dan cikal bakal pebonsai Jepang.

Konvensi Bonsai Dunia berlangsung setiap empat tahunan. Asosiasi Bonsai Jepang menyokong penyelenggaraan kali ini. Sekitar 800 tamu luar negeri yang berasal dari 43 negara memeriahkan gelaran akbar itu. Selain itu 400 pebonsai Jepang juga mengikuti acara. Dalam konvensi itu dilakukan demonstrasi pembentukan bonsai dari master bonsai Jepang dan juga seniman-seniman bonsai kelas dunia.

Selain itu panitia juga menyelenggarakan pameran koleksi istimewa berumur ratusan tahun dengan gaya unik. Contohnya shinpaku alias juniper bergaya unik yang umurnya diperkiraan 1.000 tahun. Bonsai milik Nippon Bonsai Association itu menjadi maskot acara itu. Naoji Ito pertama kali menemukan pohon itu pada 1983 di pegunungan Itoigawa City, Prefektur Niigata.

Redpine unik dengan kulit kayu yang terkelupas.

Ito terpesona oleh bentuk alami berupa kulit terkelupas dan arah tumbuh batang melintir. Itu tanda bonsai mengalami terpaan angin dan cuaca ekstrem dalam waktu sangat panjang. Seiring berjalannya waktu, tanaman itu sering berganti pemilik. Hingga akhirnya pada tahun 2000 pindah ke tangan Saburo Kato, master bonsai dari Omiya. Di tangannya, juniper itu makin indah dengan gaya hiryu atau naga terbang.

Pesta pebonsai dunia
Ukuran tanaman yang ditampilkan dalam pameran itu berbeda dari biasanya, yaitu ukuran tanaman rata-rata tergolong besar. Lazimnya pameran pada tahun-tahun sebelumnya, bonsai yang tampil berukuran lebih kecil. Rupanya pengaruh bonsai asal Tiongkok dan bonsai karya Kimura Masahiko yang berukuran besar membuat arah perbonsaian Jepang menjadi lebih besar. Pada ajang itu, Kimura mendemonstrasikan teknik membuat bonsai yang mempesona penonton.

Stasiun Saitama disulap menjadi arena pameran bonsai.

Ia mengolah bonsai bergaya natural dengan menampilkan gunung batu yang dikelilingi shinpaku juniper. Mereka amat menghargai sejarah bonsai dan hasil karya para pendahulu. Semua bonsai tua dipelihara dengan tekun sehingga tampak sehat. Jenis yang paling banyak adalah pinus black pine, five needle pine, red pine dan juniper. Di samping itu ada jenis spruce dan mapple. Pameran di Saitama itu benar-benar sebuah pesta bonsai.

Hampir semua fasilitas umum berhias bonsai, termasuk stasiun Saitama-Shintoshin. Area stasiun disulap menjadi ruang pamer puluhan bonsai menyambut kedatangan tamu yang mengunjungi Saitama. Penataan tanaman memperlihatkan keseriusan panitia dalam menyelenggarakan pameran. Panitia menata bonsai berbunga dan krisan Chrysanthemum berjajar di area menuju ke arena ekshibisi di Saitama.

Bonsai bunga azalea turut menyemarakkan arena pameran.

Bonsai-bonsai diletakkan di atas meja panjang dengan latar putih yang bagus dan cukup tinggi sehingga semua bonsai dapat difoto dengan baik. Berbeda dengan di Indonesia, pameran itu dilakukan di dalam gedung yang sejuk sehingga pengunjung nyaman menikmati keindahan tanaman. Selain itu ada pameran ratusan tanaman mini di gedung di Saitama yang menyedot perhatian pengunnjung.

Pameran itu yang juga menghadirkan ratusan suiseki alias seni batuan eksotis, serta bursa bonsai, suiseki, dan alat-alat bonsai. Tak heran sekitar 40.000 pengunjung memadati arena. Mereka sangat antusias menyaksikan semua koleksi bonsai bersejarah karya leluhur mereka. (Ir. Budi Sulistyo, ketua Perhimpunan Penggemar Bonsai Indonesia dan anggota Bonsai Club International).

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img