Sawo organik dengan daging buah segurih susu.

Trubus — Sekilogram berisi 8—10 buah berbentuk bulat telur dengan kulit berwarna cokelat muda. Panjangnya 7,9—9,2 cm dengan diameter 5,3—6,5 cm. Daging buahnya berwarna cokelat, harum, dan manis dengan tingkat kemanisan 18,50 briks. Buah itu adalah sawo bangowan asal Desa Bangowan, Kecamatan Jiken, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian Kementerian Pertanian mencatat buah Manilkara zapota itu sebagai varietas unggul lokal pada 2017.
Di Dukuh Watugunung, Desa Bangowan, tumbuh empat pohon induk berumur lebih dari 200 tahun. Pohon berumur lebih muda, sekitar 1.400 batang, ditanam sejak 1983. Sawo di sana mempunyai kelebihan yang tidak dimiliki sawo sejenis di dusun lain. Dukuh itu membudidayakan sawo organik. Kesahihan budidaya organik mereka tersertifikasi Lembaga Sertifikasi Organik Seloliman (LeSOS) sejak 2015.
Nutrisi tanaman

Menurut Kepala Seksi Produksi Hortikultura, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Blora, Eka Moya Lestari, salah satu perlakuan sawo organik adalah pencucian pascapanen tanpa sabun maupun deterjen. Eka Moya menyatakan, pencucian tanpa sabun itu memastikan buah sawo bebas residu bahan kimia. Sawo bangowan pernah menjuarai Lomba Buah dalam Soropadan Agro Expo di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah pada 2018.
Warga Bangowan mempertahankan kualitas pohon sawo bangowan dengan memperbanyak secara cangkok. Cara itu mereka lakukan sejak dekade 1990. Pekebun sawo Watugunung bergabung dalam Kelompok Tani Timbul Mulyo untuk mempermudah proses sertifikasi. Menurut ketua Timbul Mulyo, Sriyono (64), mereka memupuk dengan kompos buatan sendiri. Kompos itu berbahan 950 kg kotoran sapi, 50 kg bekatul, dan molase serta larutan mikrob masing-masing seliter.

Pekebun mengaduk rata, menuangkan molase dan mikrob, lalu menyelubungkan terpal sampai rapat. Pada hari ke-14, mereka mengaduk dan membalik bahan itu lalu menyelubungkan terpal kembali. Setelah 22 hari, kompos siap pakai. Mbah Dul—sebutan Sriyono—menyatakan, pekebun memupuk setahun sekali pada Oktober. Mereka membuat lubang dangkal setengah mata cangkul melingkari tajuk lalu memasukkan kompos sampai rata permukaan lubang.
Itu sebabnya dosis tergantung ukuran pohon. Makin lebar tajuk, makin besar lingkaran sehingga pupuk pun makin banyak. Penjualan buah itu melalui pengepul dari kota tetangga yang datang ke sana. Harga jual tergantung ukuran. Sawo besar yang sekilogram berisi 8—10 buah harganya Rp15.000—Rp20.000 per kg. Ukuran lebih kecil, 11—14 buah per kg harga jualnya Rp12.000—Rp14.000. Ukuran terkecil, lebih dari 15 buah per kg, digolongkan afkir sehingga harga jualnya hanya Rp2.000 per kg. Pekebun menyortir sembari mencuci buah pascapanen.
Meski berbuah sepanjang tahun, ada masa panen raya pada Agustus—Oktober dan Desember—Januari. Sayang, menurut Sriyono buah pada Desember—Januari sering kurang laku.
Potensi dan tantangan
Menurut Moya eksportir sempat melirik sawo bangowan untuk pengiriman ke Amerika Serikat. “Sawo buah tropis eksotis khas Indonesia. Hanya sedikit negara lain di dunia yang mempunyainya,” katanya. Apalagi sawo bangowan mempunyai rasa khas dengan daging selembut susu bubuk tanpa sensasi berpasir atau ngeres. Pada 2019, perwakilan eksportir menyambangi Bangowan untuk mengambil sampel buah.

Menurut Sriyono calon pembeli sudah menerima sampel dan setuju membeli. Sayang, pandemi virus korona membuyarkan rencana itu. Di kebun, sederet kendala menjadi tantangan produksi. Sriyono menyatakan label organik belum memberi nilai tambah seperti harapan pekebun. “Pembeli tidak mementingkan label organik. Bagi mereka sawo adalah sawo, yang penting ukuran dan rasa,” kata ayah satu anak itu.
Terbukti harga buah ukuran kecil yang sangat murah dibandingkan dengan yang besar. Sejatinya hal itu bisa diatasi dengan seleksi buah ketika pentil. Masalahnya pohon setinggi 10—15 m menyulitkan upaya itu, apalagi karakter sawo adalah berbuah di ujung cabang. Data dinas setempat menunjukkan, pohon besar mampu memproduksi 5.000—15.400 buah per tahun. Bobot total buah sejumlah itu 1—1,5 ton, artinya dari Watugunung saja ada potensi 7.500—15.000 ton sawo per tahun. (Argohartono Arie Raharjo)
