Thursday, August 18, 2022

Seruni Tanpa Karat

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Bakteri perakaran pemicu pertumbuhan tanaman manjur mengatasi penyakit karat krisan.

Krisan berpotensi ekonomi tinggi, tetapi penyakit karat masih menjadi ancaman bagi petani bunga.
Krisan berpotensi ekonomi tinggi, tetapi penyakit karat masih menjadi ancaman bagi petani bunga.

Krisan Dendranthema grandiflora salah satu bunga potong dan bunga pot yang paling digemari masyarakat. Wajar bila permintaan bunga potong krisan paling tinggi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik pada 2013 produksi krisan di Indonesia 46,50% berasal dari Provinsi Jawa Barat. Sentra lain yang menyumbang produksi krisan adalah Jawa Tengah (33,99%), Jawa Timur (16,68%), Sumatera Utara (2,20%), dan Bali (0,24%).

Sementara sisanya 0,39 %, merupakan kontribusi dari beberapa provinsi lain. Dari data Dinas Pertanian Provinsi Jawa Timur, pada 2013 menunjukkan permintaan krisan potong terus meningkat, baik di dalam negeri maupun untuk ekspor. Sayangnya, permintaan krisan itu sulit dipenuhi pekebun. Penyebabnya antara lain petani krisan sering menghadapi penyakit karat putih.

Ramah lingkungan
Penyakit karat putih berupa bercak dan tonjolan putih di daun dapat menurunkan kualitas bunga potong. Akibatnya bunga yang siap atau telah panen gagal dijual. Akibat serangan patogen itu kerugian petani mencapai 100%. Sentra produksi krisan di Indonesia merupakan daerah endemis penyakit karat. Gejala penyakit mudah terlihat di bagian bawah permukaan daun, berupa pustul atau tonjolan putih kemudian berubah warna menjadi cokelat.

Perkembangan penyakit itu bermula dari penempelan uredospora atau teliospora di permukaan bawah daun melalui percikan air, kemudian pembentukan bintik-bintik berwarna putih. Dalam pustul itu terkumpul massa teliospora yang siap menyebar ke tanaman lain melalui angin, air, maupun serangga. Pustul timbul dalam waktu 5—13 hari setelah infeksi. Penyakit itu dapat terbawa angin hingga mencapai ribuan kilometer dari sumber inokulum.

Penyakit karat berasal dari luar negeri. Celakanya hingga kini belum ada varietas yang sangat resisten terhadap penyakit karat. Beberapa varietas resisten dari mancanegara ternyata menjadi rentan setelah ditanam beberapa musim di Indonesia. Di Indonesia dikenal dua jenis penyakit karat, yaitu karat cokelat yang disebabkan Puccinia chrysanthemi dan karat putih (Puccinia horiana). Karat putih paling merugikan.

Badan Penelitian Tanaman Hias (Balithi) meneliti dan memproduksi bakteri perakaran pemicu pertumbuhan tanaman (BP3T) atau plant growth promoting rhizobacteria (PGPR). BP3T digunakan sebagai bahan aktif dalam pembuatan pupuk dan pestisida hayati untuk pertanian organik. Aplikasi BP3T meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk dan pestisida.

Biopestisida multifungsi
Metabolit sekunder yang dihasilkan bakteri pada tanaman inang mempengaruhi perkembangan fisiologi tanaman dan menginduksi ketahanan terhadap penyakit. Interaksi antara tanaman dan BP3T berupa simbiosis mutualisme yang melibatkan jalur biokimia. Sebab, bakteri itu menghasilkan hormon pertumbuhan tanaman yang sesuai seperti indole-3-acetic acid (IAA), asam giberelat, dan sitokinin.

Sementara tanaman menyediakan kenyamanan dan perlindungan bagi BP3T dari tekanan lingkungan dan kompetisi antagonistik dari mikroorganisme lain. Dengan BP3T, penggunaan bahan pencemar berbahaya seperti pupuk anorganik dan pestisida kimia sintetis dapat diminimalkan. BP3T memiliki satu peran atau lebih, bergantung pada spesies dan strainnya, yaitu penghasil fitohormon dan senyawa penghambat produksi etilen.

Bakteri itu berperan sebagai pupuk hayati membuat unsur hara di dalam tanah mudah diserap tanaman melalui proses mineralisasi dan transformasi. BP3T dapat melarutkan fosfat dan meningkatkan kemampuan tanaman. Hasil penelitian Balai Penelitian Tanaman Hias pada 2009 menunjukkan, pestisida nabati BP3T efektif, efisien, mudah diaplikasikan oleh petani, dan ramah lingkungan.

Biopestisida itu berbentuk cair, berbahan aktif isolat BP3T Bacillus subtilis BHN 4 hasil isolasi dari biakan murni cendawan B. bassiana isolat ulat jambu batu Carea angulata dan Pseudomonas fluorescens isolat nomor 18 yang diisolasi dari rizosfer tanaman krisan dari Segunung, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Zat pembawa yang berfungsi sebagai isolator antara sel bakteri dan bahan aktif adalah parafin cair dan parafin hidrokarbon yang berfungsi sebagai pengemulsi, perekat, dan perata (sticker).

Sejak persemaian
Biopestisida menempel dan masuk ke dalam jaringan tanaman dengan kuat dan tidak mudah tercuci oleh air hujan. Penggunaan BP3T menekan penyebab karat putih pada krisan hingga 60%. Biopestisida itu juga efektif untuk mengendalikan penyakit tanaman hias dan tanaman lain, seperti penyakit akar bengkak yang disebabkan oleh Plasmodiophora brassicae pada tanaman caisim, dan infeksi Fusarium oxysporum pada tanaman anyelir.

Bacillus subtilis dan Pseudomonas fluorescens adalah bahan aktif BP3T .   Dengan aplikasi penyemprotan dapat mengatasi serangan karat pada daun tanaman krisan.
Bacillus subtilis dan Pseudomonas fluorescens adalah bahan aktif BP3T .
Dengan aplikasi penyemprotan dapat mengatasi serangan karat pada daun tanaman krisan.

Viabilitas atau daya hidup bahan aktif formulasi itu sampai 8 bulan dalam larutan bahan pembawa. Bassilicus subtilis BHN 4 dan Pseudomonas fluorescens Pf 18 efektif untuk mengendalikan penyakit tanaman dengan memproduksi antibiotik dan mengkoloni jaringan tanaman sehingga terlindung dari infeksi patogen. Cara aplikasinya dengan merendam biji atau benih tanaman dalam larutan 0,01—0,25% suspensi biopestisida selama 10 menit sebelum penyemaian.

Selanjutnya persemaian disemprot dengan suspensi yang sama dengan interval 7 hari. Sebelum penanaman, semprotkan biopestisida di lubang tanam. Ulangi penyemprotan di daerah perakaran pada saat tanaman berumur 21 hari dan 35 hari setelah tanam. Biopestisida efektif pula untuk mengendalikan penyakit tular benih dan tular udara, seperti penyakit karat putih pada tanaman krisan yang disebabkan oleh Puccinia horiana.

Untuk pengendalian patogen yang menginfeksi bagian atas tanaman yaitu daun dan bunga, biopestisida disemprotkan dengan konsentrasi 0,02% dan interval 7 hari. Pengaruh perbaikan pada tanaman dengan berkurangnya area penyebaran penyakit umumnya mulai terlihat setelah 27 hari aplikasi pada tanaman. Pengendalian penyakit seruni alias krisan ramah lingkungan perlu dukungan semua pihak dalam upaya peningkatan produksi, produktivitas, mutu hasil, serta daya saing komoditas krisan.

Berlakunya Masyarakat Ekonomi Asean 2015 dengan persyaratan teknologi pertanian yang mengarah ke pertanian organik, membuat Indonesia berpeluang untuk memanfaatkan ceruk ekspor krisan organik. Peluang lain ialah Indonesia berpotensi menjadi pemasok utama jenis-jenis BP3T untuk pengembangan sarana produksi ramah lingkungan, karena memiliki keanekaragaman hayati yang besar di dunia. (Ir Hanudin, Peneliti Utama Hama dan Penyakit Tanaman di Balai Penelitian Tanaman Hias)

Previous articleAdenium Banjir Bunga
Next articleJawara dari Rawa
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img