Tanaman-tanaman baru berbonggol elok mencuri hati para pehobi.
Tanaman di pot keramik putih itu bak magnet yang menarik perhatian. Batang tanaman menggelembung serupa bola. Kulit batangnya membentuk corak persegi tidak beraturan berwarna putih keabuan dan bertekstur halus. Dari ujung tanaman muncul dedaunan berbentuk elips. Itulah Bombax ellipticum bersinonim dengan Pseudobombax ellipticum.
Pemilik tanaman itu, Sugita Wijaya, mendatangkannya pada 2016. Kolektor kaktus dan sukulen di Surabaya, Provinsi Jawa Timur, itu tertarik membeli lantaran jatuh hati pada bentuk tanaman yang unik. Sugita mendapatkan tanaman berumur 15—20 tahun itu dari sesama kolektor di tanah air. Diameter bonggol hanya 25 cm.

Punggung kura
Sugita menanam tanaman berbonggol itu pada media tanam subur berupa campuran 50% pumis, 20% sekam, dan 30% humus. Tanaman tumbuh sentosa dalam pot berdiameter 30 cm. Arsitek alumnus Universitas Kristen Petra itu menyimpan tanaman koleksinya di teras rumah tanpa atap pelindung. Ia tidak khawatir hujan akan merusak penampilan bonggol elok itu. Sebab, ia memberikan media tanam yang tepat.
“Media tanam porous menjadi kunci perawatan tanaman berkaudeks,” kata Sugita. Tanaman kerabat randu Ceiba pentandra itu banyak tumbuh di kawasan Amerika latin. Bonggol elok itu menyukai tanah-tanah kering berbatu dengan kondisi lingkungan kering. Bahkan, di tanah miskin hara atau ternaungi pun Bombax ellipticum mampu bertahan. Di habitat asalnya tinggi tanaman bisa mencapai 18—20 m.
Itulah sebabnya tanaman anggota keluarga Malvaceae itu cocok sebagai peneduh. Batang tanaman berwarna hijau keabuan dan menggembung. Diameter batang bisa membesar hingga 1,3 m. Sugita juga mengoleksi tanaman berbonggol lain yang istimewa yakni Dioscorea elephantipes. Para pehobi menyebut tanaman itu elephant foot alias kaki gajah. Julukan kaki gajah disematkan lantaran batang tanaman besar mirip kaki gajah.

Ada pula yang menyebut tanaman punggung kura-kura. Itulah sebabnya Dioscorea elephantipes bersinonim dengan Testudinaria elephantipes. Kaki gajah merupakan tanaman asli Afrika selatan. Mereka hidup di lereng-lereng berbatu, tanah kuarsa, dan bebatuan lapuk. Di habitat asalnya sebagian batang tanaman tertimbun tanah dan tertutup tajuk. Cabang tanaman tumbuh ke atas hingga ketinggian 2 m.
Sugita menuturkan kaki gajah tergolong lambat tumbuh di alam. Namun, bila dijadikan tanaman koleksi pertumbuhan tanaman relatif cepat asalkan asupan nutrisi cukup. Dalam setahun kaki gajah koleksi Sugita bisa bertambah besar 4 cm. “Belakangan kaki gajah mulai naik daun sebab keberadaannya di tanah air kian sedikit lantaran adanya regulasi yang membatasi impor tanaman,” kata Sugita.
Eksklusif
Menurut Ian Oliver dari Karoo Desert National Botanical Garden, membudidayakan dan merawat kaki gajah sejatinya relatif mudah. Kunci utamanya hindari penyiraman saat tanaman sedang dorman. Hindari memperbanyak tanaman dengan setek. Ian menyarankan untuk mendapatkan tanaman berpenampilan sempurna, pehobi harus membeli tanaman dari hasil perbanyakan generatif. Tanaman yang dirawat dengan baik bertahan hingga 70 tahun.

Kaudeks cantik lain koleksi Sugita yakni Pterocactus tuberosus dan Jatropa marginata. Yang disebut pertama merupakan tanaman keluarga kaktus yang banyak hidup di wilayah utara Argentina. Tuberosus merupakan kaktus berkaudeks. Mayoritas mereka hidup di tanah berpasir, tetapi ada pula yang hidup di tanah bergaram. Tuberosus milik Sugita berbonggol nyentrik. Lihat saja bonggol tanaman mirip adenium. Penampilan tanaman tetap istimewa walaupun tanpa daun dan bunga.
Sementara Jatropa marginata merupakan tanaman yang berasal dari Somalia. Daun tanaman berbentuk elips dengan tepi bergelombang. Tanaman anggota keluarga Euphorbiaceae itu pertama kali dideskripsikan oleh ahli botani dari Italia, Emilio Chiovenda, pada 1932. (Andari Titisari)
