Trubud.id — Menyambut Hari Jamu Nasional yang diperingati setiap 27 Mei, Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI) menggelar talkshow bertajuk Hari Jamu Nasional 2025 & Penganugerahan Rekor MURI, Sabtu (25/5). Acara berlangsung secara luring di T-Space Bintaro, Tangerang Selatan, serta disiarkan daring melalui Zoom dan kanal YouTube PDPOTJI Online.
Momentum ini dimanfaatkan PDPOTJI untuk terus menggaungkan pentingnya pelestarian jamu sebagai bagian dari budaya hidup sehat masyarakat Indonesia. Dalam kesempatan yang sama, dua penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) turut diserahkan sebagai bentuk apresiasi terhadap kontribusi dalam dunia kesehatan tradisional.

Penghargaan pertama berupa Rekor MURI kepada Dr. (Cand.) dr. Inggrid Tania, M.Si sebagai Dokter Pakar Jamu yang Dikutip Media Terbanyak Sejak Pandemi COVID-19, dengan jumlah kutipan mencapai 5.781 tautan.
Penghargaan kedua diberikan dalam bentuk Rekor MURI kepada PDPOTJI sebagai Perkumpulan Dokter Pertama yang Bergerak dalam Bidang Pengembangan Obat Tradisional dan Jamu, meliputi kegiatan pengembangan, pendidikan, penelitian, dan pemanfaatan jamu, serta advokasi regulasinya.
Jamu bukan hanya bagian dari tradisi, tetapi telah diakui secara global sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO. Penggunaan jamu secara turun-temurun telah terbukti aman dan bermanfaat secara pengalaman empiris.
Pengembangan jamu tak melulu diarahkan sebagai obat bahan alam yang mendukung kemandirian nasional dalam obat-obatan, tetapi juga sebagai pangan atau minuman fungsional yang memiliki nilai/ fungsi kesehatan, serta menghasilkan multiplier effects seperti menggerakkan perekonomian rakyat, menyejahterakan petani, melestarikan budaya dan lingkungan alam, serta mendukung tercapainya sustainable development goals.
PDPOTJI berdiri sejak Desember 2019 dan menjadi pionir dalam mengarusutamakan jamu dan obat bahan alam lainnya dalam layanan kesehatan integratif di Indonesia. PDPOTJI juga telah melaksanakan beberapa penelitian jamu sebagai obat bahan alam.
Salah satu penelitian yang terbesar adalah 2 (dua) uji klinik jamu yang pertama di Indonesia pada masa pandemi, di RS Darurat COVID-19 Wisma Atlet Jakarta, bekerja sama dengan LIPI (sekarang BRIN), Kalbe Farma, UGM, dan PDPI, dengan pendampingan Badan POM.
Pendiri dan Ketua Umum PDPOTJI dokter Inggrid Tania, berperan sebagai Peneliti Utama (Principal Investigator) pada 2 uji klinik jamu tersebut. Dalam sambutannya, Dr. (Cand.) dr. Inggrid Tania, M.Si (Herbal), selaku Ketua Umum PDPOTJI, menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dan dukungan regulasi terhadap jamu.
“Melalui momentum ini, kami ingin memperkuat peran dokter sebagai penggerak utama dalam pengembangan, pendidikan, penelitian, dan pemanfaatan jamu, serta advokasi regulasinya, agar masyarakat Indonesia bisa menjadi lebih sehat dengan mengonsumsi jamu secara aman dan efektif,” ungkapnya.
Dokter Inggrid Tania memaparkan bagaimana perjuangan PDPOTJI agar Dokter dan Tenaga Kesehatan dibolehkan memberikan pelayanan Kesehatan tradisional, supaya tidak dilarang lagi sebagaimana regulasi sebelumnya.
Partisipasi aktif PDPOTJI secara bermakna dalam pembahasan Rancangan UU Kesehatan di DPR dan Kementerian Kesehatan akhirnya membuahkan hasil dengan ditetapkannya pasal-pasal pada UU Kesehatan nomor 17 tahun 2023 dan PP Kesehatan nomor 28 tahun 2024 yang secara eksplisit memberikan ruangan yang sangat luas terhadap pemanfaatan jamu.
Hal itu misalnya melalui pelayanan kesehatan tradisional di tempat praktik mandiri, klinik, puskemas, rumah sakit, dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya oleh tenaga medis, tenaga kesehatan, tenaga kesehatan tradisional dan penyehat tradisional, serta dukungan kuat terhadap penelitian dan pengembangan obat bahan alam dan pengajaran obat bahan alam pada kurikulum pendidikan tenaga medis dan tenaga kesehatan.
Hal ini tidak terlepas dari keterbukaan pimpinan DPR khususnya Komisi IX periode 2019-2024 dan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam berdialog dan pelibatan partisipasi publik secara bermakna (meaningful participation) dalam pembentukan UU dan regulasi turunannya.
Kegiatan pada 25 Mei 2025 itu juga menghadirkan talkshow edukatif bertema manfaat jamu untuk kesehatan sistem pencernaan dan musculoskeletal (otot, sendi dan tulang) dengan narasumber Dr. (Cand.) dr. Inggrid Tania, M.Si (Herbal) dan dr. Nadia Bunga, M.Si (Herbal), yang dipandu oleh moderator dr. Diana Munti, MKM.
Selain itu, terdapat kampanye minum jamu bersama sebagai simbol gerakan hidup sehat alami berbasis warisan budaya nusantara. Para pimpinan berbagai pemangku kepentingan turut hadir secara luring dan daring menyampaikan pidatonya, antara lain Deputi 2 BPOM: apt. Mohamad Kashuri, S.Si, M.Farm, mewakili Kepala Badan POM , Direktur Produksi dan Distribusi Farmasi: Dita Novianti, S.Si, Apt, MM, mewakili Menteri Kesehatan.
Turut hadir Anggota DPR Komisi IX: Nurhadi, S.Pd, M.H., Kepala Pusat Biofarmaka Tropika: Prof. Dr. Mohamad Rafi, S.Si, M.Si., mewakili Rektor IPB, Dekan Fakultas Kedoktern Universitas Muhammadiyah Purwokerto: Dr. dr. Muhammad Mansyur Romi, SU, PA (K), Ketua Kolegium Dokter dr. Efmansyah Iken Lubis, M.M., Bendahara Umum PB IDI, Ketua Umum PDSI, dan beberapa Guru Besar turut menghadiri acara ini secara daring.
Dengan peringatan Hari Jamu Nasional 2025 ini, PDPOTJI optimis bahwa jamu akan semakin mendapatkan tempat pada pelayanan kesehatan nasional.
PDPOTJI juga menegaskan komitmennya untuk terus mendorong pendidikan obat bahan alam pada kurikulum Pendidikan pada semua Fakultas Kedokteran di Indonesia, mendorong dimasukkannya obat bahan alam, minimal fitofarmaka, ke dalam Panduan Praktik Klinis (PPK) dan Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK), serta ditanggung oleh JKN/ BPJS Kesehatan, serta upaya-upaya pengembangan, penelitian, edukasi dan pemanfaatan jamu dan obat bahan alam lainnya, sebagai bentuk kontribusi nyata terhadap kesehatan bangsa dan pelestarian budaya sehat.
Foto: Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI) menyelenggarakan sebuah acara istimewa berupa Talkshow Hari Jamu Nasional 2025 & Penganugerahan Rekor MURI. (Dok. PDPOTJI)
