Tantangan Pengembangan Komoditas Perkebunan

0
tantangan pengembangan komoditas perkebunan
Kebun stevia. (Dok. Trubus)

Trubus.id — Beragam komoditas unggulan perkebunan sudah terlihat peningkatan nilai ekspor, di antaranya kopi, kelapa, dan kakao. Komoditas perkebunan lain seperti pinang, gambir, aren, stevia, kelor juga perlu didorong.

Menurut Dirjen Perkebunan, Andi Nur Alam Syah, dalam pembangunan perkebunan nasional terdapat 6 hal yang menjadi tantangan mendasar. Meskipun mendasar, tantangan itu ada dari sektor hulu hingga hilir.

Tantangan pertama adalah peningkatan produksi dan produktivitas komoditas perkebunan. Kedua, tantangan pascapanen dan pengolahannya yang kedua hal ini juga erat kaitan dengan aspek mutu dan standarisasi. Ketiga, tantangan penguatan kelembagaan pekebun.

Keempat, tantangan bagaimana memunculkan peran para generasi muda untuk mau membangun perkebunan di daerahnya masing-masing. Kelima, tantangan akses pasar, promosi dan diplomasi. Keenam, tantangan dalam menciptakan iklim investasi yang baik dan sehat untuk membangun dan memperkuat usaha agribisnis perkebunan.

Belum lagi, tantangan saat ini tentang resesi global. Andi mengatakan, resesi global dapat memicu penurunan harga komoditas energi, terutama mineral serta batu bara dan CPO karena penurunan permintaan global akibat resesi.

Hal ini akan menekan ekspor dan neraca dagang Indonesia. Pasalnya, dalam setahun terakhir Indonesia tengah menikmati windfall dari harga komoditas tersebut. Dampak dari kondisi tersebut juga perlu diwaspadai pada kalangan petani yang saat ini masih merasakan harga jual yang rendah di tingkat petani.

Andi menjelaskan, untuk menghadapi hal tersebut, tentunya semua pihak tidak boleh tinggal diam. Tiap pihak harus terus bekerja dengan fokus, responsif, dan kolaboratif.

“Kita harus fokus pada komoditas yang diunggulkan dan yang dibutuhkan pasar, tentunya didukung oleh strategi-strategi pemasaran yang tepat,” jelasnya seperti dilansir dari laman Ditjen Perkebunan.

Sementara itu, responsif untuk selalu bertindak cepat, tepat dan baik dalam menghadapi segala dinamika dunia, terutama pada aspek perdagangan dunia yang banyak dipengaruhi oleh kondisi geopolitik dan dinamika iklim.

Adapun kolaboratif adalah bagaimana mendorong pendekatan kebersamaan multi-stakeholder untuk memajukan perkebunan dan mengembalikan kejayaan perkebunan kembali. Kolaboratif juga dilakukan melalui pendekatan kemitraan di dunia usaha dengan asas saling menguntungkan dan bersama meraih visi misi pembangunan perkebunan yang berkelanjutan.