Sunday, January 25, 2026

Teknologi Budidaya Rajungan Wadah Tunggal Mampu Kurangi Risiko Kematian

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id — Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) mengembangkan teknologi Budidaya Rajungan Wadah Tunggal untuk meningkatkan survival rate (SR) rajungan dari 45 persen menjadi 95 persen.

Melansir dari laman Kementerian Kelautan dan Perikanan, teknologi yang diuji coba Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Takalar ini mampu mengurangi risiko kematian pada rajungan akibat kanibalisme. 

Tb. Haeru Rahayu, Dirjen Perikanan Budidaya, mengapresiasi fasilitas pembenihan rajungan di BPBAP Takalar, serta keberhasilan BPBAP Takalar dalam memijahkan dan membesarkan rajungan.  

Menurut Tebe—panggilan akrab Tb. Haeru Rahayu—yang lebih menarik adalah bagaimana BPBAP Takalar membesarkan rajungan dengan teknologi Budidaya Rajungan Wadah Tunggal.  

“Ini sangat menarik sehingga rajungannya bisa hidup tanpa terjadi kanibalisme,” kata Tebe.  

Tebe mendorong keberhasilan BPBAP Takalar harus terus ditingkatkan. Selain itu, ia juga berpesan, budidaya rajungan yang dilakukan jangan hanya pada skala laboratorium, tetapi harus bisa diaplikasikan di lapangan. Dengan begitu, masyarakat dapat menikmati inovasi yang dikembangkan di BPBAP Takalar.  

Sementara itu, Nur Muflich Juniyanto, Kepala BPBAP Takalar, mengatakan, target utama dengan menggunakan teknologi Budidaya Rajungan Wadah Tunggal adalah menekan tingkat kanibalisme pada budidaya rajungan.

Menurutnya, jika masih menggunakan budidaya rajungan secara konvensional, yakni dengan memelihara di wadah yang sama, masih akan terjadi kanibalisme pada rajungan.

Secara progres pertumbuhan, menurut Juniyanto dengan teknologi Budidaya Rajungan Wadah Tunggal, rajungan yang dibudidayakan menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Dengan pertumbuhan mutlak selama 28 hari, pemeliharaan bisa mencapai 1,75 gram.

Adapun tingkat kelulusan hidup benih rajungan bisa mencapai 95 persen. Padahal, sebelum menggunakan teknologi ini, SR budidaya rajungan hanya mencapai 45 persen. 

“Kami terus melakukan pengamatan yang dilakukan untuk melihat aspek kesesuaian dan signifikan pengaruh model terhadap aspek pertumbuhan dan kelangsungan hidup rajungan,” kata Juniyanto.

Menurut Juniyanto, keunggulan lain Budidaya Rajungan Wadah Tunggal adalah mengurangi penggunaan air yang berlebihan. Hal ini karena menggunakan sistem resirkulasi, parameter kualitas air yang terkontrol, serta wadah yang digunakan terbuat dari pipa paralon yang mudah dikerjakan dan tidak mengeluarkan banyak biaya investasi. 

Juniyanto menjelaskan, dengan penerapan teknologi Budidaya Rajungan Wadah Tunggal di BPBAP Takalar, penekanannya pada ketersediaan benih yang siap pelihara untuk pembesaran di tambak.

Sebelum menggunakan teknologi ini, BPBAP Takalar hanya mampu memproduksi 50.000 ekor benih per siklus. Setelah menggunakan teknologi Budidaya Rajungan Wadah Tunggal, BPBAP Takalar mampu meningkatkan produksi hingga 75.000 ekor benih per siklus.

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img