Monday, June 1, 2026

Teknologi Deteksi Pemalsuan Minyak Zaitun dengan Akurasi Hampir 99 Persen

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id— Minyak zaitun dikenal sebagai salah satu minyak pangan paling sehat di dunia. Namun, di balik manfaatnya yang tinggi, produk ini juga rentan terhadap praktik pemalsuan yang sulit dideteksi secara kasat mata. Menjawab tantangan tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan teknologi untuk memastikan keaslian minyak zaitun sekaligus melindungi konsumen dari praktik kecurangan pangan.

Minyak zaitun extra virgin atau extra virgin olive oil (EVOO) merupakan minyak zaitun dengan kualitas tertinggi karena mengandung berbagai senyawa bioaktif yang bermanfaat bagi kesehatan. Tingginya nilai ekonomi produk ini membuatnya kerap menjadi sasaran pemalsuan, salah satunya melalui pencampuran dengan minyak lain yang lebih murah.

Salah satu bentuk pemalsuan yang sensitif ialah pencampuran EVOO dengan minyak babi. Praktik tersebut tidak hanya menurunkan kualitas produk, tetapi juga menimbulkan persoalan terkait kesehatan, etika, serta aspek kehalalan bagi konsumen.

Periset BRIN menjelaskan bahwa mendeteksi pemalsuan pada produk minyak memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi dibandingkan produk pangan padat. Hal itu disebabkan karakteristik fisik dan sifat fisikokimia antarjenis minyak yang relatif mirip.

“Pemalsuan minyak pangan merupakan isu global yang tidak hanya merugikan secara ekonomi, tetapi juga menyentuh aspek fundamental dalam kepercayaan konsumen, terutama terkait kehalalan dan keamanan pangan,” ujarnya.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, tim peneliti BRIN mengembangkan metode autentikasi berbasis Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR) yang dikombinasikan dengan teknologi machine learning atau pembelajaran mesin.

Teknologi FTIR bekerja dengan membaca sidik jari molekul yang terkandung dalam minyak melalui spektrum inframerah. Data yang dihasilkan kemudian dianalisis menggunakan algoritma kecerdasan buatan untuk mengidentifikasi pola tertentu yang menunjukkan adanya pemalsuan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem tersebut mampu mendeteksi sekaligus memprediksi kadar campuran minyak babi dalam minyak zaitun dengan tingkat akurasi yang sangat tinggi, mendekati 99 persen.

Menurut peneliti, spektroskopi FTIR mampu menghasilkan sidik jari kimiawi yang unik dan spesifik untuk setiap jenis minyak. Metode ini dapat dilakukan secara cepat, tidak merusak sampel (non-destructive), serta tidak memerlukan proses preparasi sampel yang rumit.

“Ketika dikombinasikan dengan machine learning, data spektra FTIR yang kompleks dapat diolah secara otomatis untuk mendeteksi pola pemalsuan dan menghasilkan klasifikasi serta prediksi keaslian dengan tingkat akurasi dan presisi yang tinggi,” jelasnya.

Selain memiliki tingkat akurasi tinggi, metode tersebut juga dinilai lebih ramah lingkungan dibandingkan sejumlah teknik analisis konvensional karena meminimalkan penggunaan bahan kimia selama proses pengujian.

Penelitian ini menjadi langkah penting dalam upaya memastikan keaslian minyak zaitun sekaligus mencegah praktik kecurangan pangan yang merugikan konsumen. Ke depan, teknologi tersebut berpotensi diterapkan secara lebih luas dalam industri pangan maupun sistem pengawasan mutu produk.

Penerapan metode autentikasi yang cepat dan akurat juga dapat mendukung proses sertifikasi serta pengawasan standar halal pada berbagai produk pangan berbasis minyak.

Melalui berbagai inovasi berbasis sains dan teknologi, BRIN terus mengembangkan solusi untuk meningkatkan keamanan pangan, melindungi konsumen, dan mendukung daya saing industri nasional.

Sumber: https://youtu.be/vlRExiK7iWw?si=tHXiGx0VRQ_36k57


Artikel Terbaru

Susu Bubuk Fortifikasi Sarang Burung Walet, Kaya Mineral dan Senyawa Bioaktif

Trubus.id— Indonesia dikenal sebagai salah satu produsen sarang burung walet terbesar di dunia. Selain memiliki nilai ekonomi tinggi, komoditas...

More Articles Like This