Omzet PT Diamond Interest Grow Rp70-miliar pada 2015 dari perniagaan pupuk.
Jumlah itu meningkat 10% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Sejak 2010 penjualan pupuk Diamond Interest (DI) Grow menyalip produk kesehatan. Padahal pada 2004, Diamond Interest memasuki pasar tanahair dengan mengandalkan suplemen kesehatan. Saat itu, 60% penjualan berasal dari produk andalan mereka seperti teripang, susu kambing, atau ginseng. Sisanya berasal dari pupuk.

Selang 4 tahun, kondisinya berbalik. Produk pupuk memimpin 60% penjualan. Bermula dari uji coba di wilayah Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, banyak petani membuktikan kemampuan pupuk DI Grow. Hasil itu terulang dalam uji coba berikutnya di Provinsi Bali, Sulawesi Selatan, Jawa Tengah, dan Sumatera Utara. Para petani merasakan peningkatan hasil dari lahan sehingga mereka pun terus menggunakan DI Grow.
Rumput laut
Musim-musim tanam selanjutnya, semakin banyak petani yang menggunakan pupuk produksi DI Grow. “Saat petani melihat rekannya mampu menghasilkan panenan bagus, mereka pun penasaran,” kata Manajer Pengembangan Bisnis Agro Diamond Interest, Ir Suhendro Atmaja. Berikutnya petani yang semula tidak menggunakan pupuk DI Grow pun jadi membeli.
Dengan cara itu, omzet penjualan pupuk Diamond Interest meningkat 10—15% per tahun. Menurut Direktur Utama Diamond Interest, Paulus Ganda Prawira, bahan utama pupuk organik adalah rumput laut Ascophyllum nodosum asal Kanada. “Rumput laut jenis itu hanya tumbuh di perairan subtropis,” kata Paulus. Rumput laut itu mengandung asam alginat dan asam humat yang bermanfaat sebagai pembenah tanah.

Sudah begitu, biomassa tanaman akuatik itu menyimpan 60 jenis hara mikro dan makro yang diperlukan tanaman. Kandungan lain yang sangat bermanfaat adalah hormon-hormon pertumbuhan seperti auksin, sitokinin, dan giberelin. Dengan kandungan lengkap itu, petani sejatinya tidak perlu menambahkan pupuk kimia. DI Grow mengekstrak rumput laut itu sampai mencapai ukuran nano alias satu per sejuta meter kubik.
Ukuran liliput itu menjadikan pupuk efektif, cepat terserap tanaman, dan tidak perlu perekat. “Pupuk terserap sempurna 30 menit setelah disemprotkan,” kata Hendro. Kelebihan lain pupuk asal rumput laut itu tahan simpan tanpa kerusakan atau penurunan kandungan penyubur. Kelebihan yang paling disukai petani adalah kestabilan pupuk ketika dicampurkan bersama pestisida maupun pupuk sintetis.

Hal itu tidak bisa dilakukan dengan pupuk organik hasil fermentasi lantaran bahan sintetis bakal mengurangi kinerja bahkan mematikan mikrob. “Penyemprotan pupuk dan pestisida bersamaan memangkas biaya tenaga kerja sehingga petani memperoleh nilai tambah dari penghematan biaya produksi,” kata Paulus. Dengan bentuk konsentrat cair, pemakaian pupuk itu sangat mudah dan praktis.
Lebih hemat
Penggunaan pupuk DI Grow juga hemat. Petani hanya memerlukan 5 ml pupuk per seliter air. Artinya para petani hanya menghabiskan seliter pupuk untuk membuat 200 l larutan pupuk. Larutan itu langsung disemprotkan ke tajuk dan daun. Menurut Paulus sehektar sawah padi hanya memerlukan 4 liter pupuk sejak tanam hingga panen. Pupuk DI Grow terdiri atas 2 macam, yakni hijau dan merah.

Pupuk hijau merangsang pertumbuhan vegetatif sehingga pemberiannya sejak pindah tanam sampai menjelang berbunga. Pupuk DI Grow hijau mempercepat pertumbuhan akar, daun, dan batang. “Juga untuk memulihkan kondisi tanaman pascapemanenan,” kata Paulus. Adapun pupuk merah memacu perkembangan generatif, yaitu bunga atau buah. Pemberian pupuk merah menjelang tanaman berbunga. Waktu pemberian berbeda-beda tergantung jenis tanaman.
Peningkatan produksi tanaman hortikultura dengan pupuk DI Grow terbilang fantastis. Sutikno, petani bawang merah di Kabupaten Demak, Jawa Tengah, menikmati panen 2,3 ton umbi bawang dari penanaman 182 kg bibit. Kualitas umbi pun bagus sehingga laku dengan harga lebih tinggi. Kebanyakan petani mendapat harga Rp3.000, Sutikno menikmati harga Rp6.000 per kg. Bawang merah dari lahannya berumbi besar dan merah pekat.

Di Ciwidey, Bandung, Nandang menikmati peningkatan hasil bawang daun dari 4 ton menjadi 6,5 ton di lahan 1.400 m². Lantaran menanam sayuran daun, Nandang hanya menggunakan pupuk hijau. Ternyata DI Grow tidak hanya cocok untuk tanaman semusim. Produktivitas tanaman buah seperti mangga, durian, lengkeng, atau jeruk pun meningkat pesat. Begitu juga tanaman tahunan seperti karet, sawit, cengkih, dan kakao.
Terbukti

Petani tidak serta-merta mencecap manisnya peningkatan produksi. “Awalnya banyak petani enggan mengikuti anjuran yang tertulis di label,” kata Paulus. Musababnya, petani cenderung jor-joran menyemprot tanpa mengindahkan dosis. Selama ini, mereka terbiasa melakukan itu dengan pupuk atau pestisida kimia. Akibatnya ada yang tanaman padinya gosong lantaran overdosis pupuk.
Paulus dan Suhendro berusaha mengantisipasi kejadian serupa dengan memberikan pendampingan intensif. Kesalahan lain pada awal pengenalan produk adalah petani mencampurkan pupuk hijau dan merah untuk disemprotkan sejak awal pertumbuhan. Akibatnya pertumbuhan tanaman tidak optimal, malah terlalu cepat berbunga. “Petani jadi lebih mudah diarahkan agar mengikuti dosis penyemprotan yang sesuai,” kata Paulus.

Setelah melihat contoh nyata, dengan sendirinya petani mengikuti anjuran penyemprotan dari petugas lapangan Diamond Interest. Menurut Paulus kesalahan aplikasi lapangan seperti itu hanya terjadi pada periode pengenalan produk. Saat itu, pada 2008, Diamond Interest tengah menguji multilokasi terhadap beragam komoditas di berbagai daerah.
Uji multilokasi salah satu syarat dari Kementerian Pertanian untuk memperoleh izin produksi pupuk. Pengujian itu mereka lakukan di berbagai daerah, seperti Cirebon dan Indramayu (Jawa Barat), Bali, Luwu (Sulawesi Selatan), Karanganyar (Jawa Tengah), dan Medan (Sumatera Utara). Pengujian hingga 2010 itu membuktikan efektivitas DI Grow sehingga mereka ibarat sekali mengayuh dayung dua pulau terlampaui.

Tidak hanya berhasil memperoleh izin untuk kedua jenis pupuk itu, Paulus juga sukses mempromosikan DI Grow kepada petani. Kini pemasaran utama DI Grow adalah wilayah Sumatera Utara, seluruh Jawa, Bali, dan Sulawesi Selatan. Sementara permintaan dari Lampung dan Nusatenggara pun mulai meningkat setelah petani membuktikan efektivitas DI Grow. Tingginya pasar tanahair membuat Diamond Interest berancang-ancang memindahkan pabrik mereka dari Penang, Malaysia ke Medan.
Pangan sehat
Menurut Paulus industri pangan dan suplemen kesehatan berkaitan erat. “Kesehatan tidak hanya berasal dari suplemen atau obat. Yang paling utama justru ditentukan oleh asupan makanan,” kata pria berusia 47 tahun itu. Atas dasar pemikiran itu, Diamond Interest mengembangkan pupuk organik yang mampu meningkatkan produksi pertanian sekaligus memangkas ketergantungan terhadap pupuk kimia.

Ia mengatakan bahwa banyak petani “kecanduan” dengan pupuk kimia. Untuk itu Paulus menganjurkan pengurangan pupuk kimia secara bertahap sembari menggunakan DI Grow. “Mula-mula pemberian pupuk kimia dikurangi 25%, musim tanam berikutnya 50%, begitu seterusnya sampai akhirnya tidak perlu sama sekali,” kata Paulus. Hasilnya biaya pupuk terpangkas sementara hasil justru meningkat.
Dengan demikian, petani bisa untung 2 kali, biaya produksi turun signifikan dan produksi melonjak. Sementara konsumen pun meraih keuntungkan karena mendapat produk pangan sehat bebas residu pupuk kimia. Sejatinya DI Grow tidak hanya dikenal di tanahair. Petani di 70 negara di dunia menggunakan produk itu. Permintaan besar justru datang dari negara di benua Afrika seperti Uganda, Ghana, Tanzania, dan Nigeria. (Argohartono Arie Raharjo)
