Tuesday, January 27, 2026

UNOC 2025: Indonesia Tampilkan Inovasi Budidaya Rumput Laut

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengoptimalkan keikutsertaan dalam Konferensi Kelautan Perserikatan Bangsa-Bangsa ke-3 di Nice, Prancis, pada 9–13 Juni 2025. Tujuannya adalah untuk mempromosikan rumput laut Indonesia ke kancah dunia.

Direktur Jenderal Perikanan Budi Daya, Tb Haeru Rahayu, memaparkan bahwa salah satu komoditas unggulan Indonesia saat ini adalah rumput laut, di mana Indonesia berkontribusi sekitar 38% terhadap pasokan global.

“Sebagian besar rumput laut Indonesia dibudidayakan oleh pembudidaya skala kecil di wilayah pesisir yang masih mengandalkan metode tradisional,” ujar Tb Haeru Rahayu dalam siaran resmi KKP di Jakarta, Minggu (15/6).

Pada pertemuan global The Third United Nations Ocean Conference (UNOC), Indonesia berpartisipasi aktif dalam side event bertajuk Advancing Blue Industry for Sustainable Development: Strengthening Trade and Seafood Value Chains in the Blue Economy. Acara ini diinisiasi oleh United Nations Industrial Development Organization (UNIDO).

Indonesia juga mengikuti pertemuan bilateral dengan UN Task Force on Seaweed (UNTFS). Pertemuan ini bertujuan memperkuat kerja sama internasional dalam pengembangan komoditas rumput laut yang berkelanjutan.

Tebe menambahkan, rumput laut merupakan komoditas strategis dalam pembangunan Ekonomi Biru Indonesia. Komoditas ini bukan hanya menjadi sumber penghidupan masyarakat pesisir, tetapi juga solusi untuk ketahanan pangan, mitigasi perubahan iklim, dan pengelolaan sumber daya laut secara berkelanjutan.

Berdasarkan Data Future Market Insights, nilai pasar rumput laut global diproyeksikan mencapai USD 9,4 miliar pada tahun 2025. Angka ini diperkirakan meningkat menjadi USD 23,9 miliar pada 2035, dengan CAGR sebesar 9,8 persen.

Namun dari total potensi lahan budidaya rumput laut di Indonesia, baru sekitar 11,65% yang dimanfaatkan. Ini berarti peluang pengembangan budidaya rumput laut masih sangat besar.

Untuk mendukung perluasan dan peningkatan produktivitas, KKP telah membangun modeling budi daya rumput laut di beberapa daerah seperti Kabupaten Wakatobi, Kabupaten Rote Ndao, dan Kabupaten Maluku Tenggara. Selain itu, KKP juga menerapkan strategi revitalisasi dan pengembangan bibit unggul kultur jaringan.

“Produksi rumput laut Indonesia pada tahun 2024 tercatat mencapai 10,80 juta ton, meningkat 10,82% dibanding tahun sebelumnya. Produksi tersebut didominasi oleh jenis Kappaphycus alvarezii, diikuti oleh Gracilaria spp dan Eucheuma spinosum,” jelasnya dilansir dari laman KKP.

KKP melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budi Daya telah menetapkan sejumlah strategi untuk meningkatkan produksi rumput laut. Strategi tersebut meliputi pengembangan modeling budidaya, revitalisasi kampung dan sentra, serta pengembangan laboratorium kultur jaringan.

Pengembangan budidaya rumput laut jenis cottonii di wilayah Indonesia Timur juga menjadi fokus. Langkah ini untuk mendukung ekspor dan ketahanan pangan nasional.

Dalam pengembangan budidaya rumput laut, Indonesia juga menjajaki potensi kolaborasi global bersama UNTFS. Beberapa bentuk kerja sama yang dapat dikembangkan antara lain melalui pengembangan jenis rumput laut baru selain Kappaphycus alvarezii dan Gracilaria spp. yang umum dibudidayakan di Indonesia.

Dengan kekayaan keanekaragaman hayati laut dan garis pantai yang luas, Indonesia memiliki posisi strategis untuk memperluas budidaya rumput laut jenis baru. Indonesia juga berpeluang memimpin pembentukan Pusat Inovasi Rumput Laut Asia Tenggara di bawah koordinasi UNTFS.

Pusat ini akan berfungsi sebagai wadah pertukaran pengetahuan, pelaksanaan proyek percontohan, dan pengembangan pusat pelatihan. Keterlibatan Indonesia dalam pusat ini juga memperkuat posisi nasional dalam ekosistem rumput laut global.

“Selain itu Indonesia juga dapat berkontribusi dalam pengembangan standar rumput laut global melalui Pedoman UNTFS terkait praktik budidaya berkelanjutan, termasuk penerapan standar biosekuriti dan kualitas untuk mendukung ekspor,” pungkas Tebe.

Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menegaskan pentingnya pengembangan budidaya rumput laut untuk masa depan. Selain sebagai sumber pangan alternatif dan bahan baku biofarmasi serta kosmetik, rumput laut juga berpotensi menjadi pengganti plastik ramah lingkungan dan penyerap karbon alami.

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img