Monday, January 26, 2026

Untung dari Tanaman Gurun

Rekomendasi
- Advertisement -

Erik Ariyanto menyulap kaktus dan sukulen menjadi suvenir. Kreasi itu menjadi andalan meraup untung.

Trubus — Libur pada akhir pekan? Erik Ariyanto hampir tidak pernah melewati akhir pekan dengan berlibur. Erik Ariyanto justru sibuk bekerja karena menekuni bisnis suvenir tanaman hias untuk pernikahan. Acara sakral bagi setiap pasangan itu biasanya berlangsung pada Sabtu atau Ahad. Itulah sebabnya saat akhir pekan ia sibuk menyiapkan dan mengantarkan pesanan kepada para pelanggan.

Erik Ariyanto menekuni bisnis suvenir kaktus dan sukulen sejak masih kuliah.

Kesibukan pria 32 tahun itu kian bertambah pada bulan Zulhijah karena musim pernikahan. “Permintaan bisa meningkat 2 kali lipat dibandingkan dengan bulan-bulan lain,” tutur Erik.

Suvenir tanaman

Banyak pelanggan yang meminati suvenir karya Erik karena tergolong unik. Alumnus Jurusan Biologi, Universitas Padjadjaran, itu membuat suvenir aneka jenis tanaman sukulen seperti aneka jenis kaktus, haworthia, dan gasteria. Ia juga membuat suvenir dari tanaman hias lain, seperti sansevieria dan adenium mini.  Semua jenis tanaman itu tak hanya berbalut pot, tapi juga dihiasi berbagai aksesori menarik. Misalnya pot keramik atau kayu yang divernis sehingga tampak mengilap. Ia lalu menutupi permukaan media tanam dengan batu zeolit halus berwarna-warni agar tampil lebih cantik.

Selain suvenir untuk pernikahan, Erik juga kerap mendapat pesanan cendera mata dari instansi atau perusahaan. Dalam sebulan pria kelahiran Jakarta itu menjual rata-rata 10.000 suvenir kaktus dan sukulen. Pada bulan-bulan yang ramai pernikahan, seperti pada Zulhijah, permintaan meningkat hingga 20.000 suvenir. Ia menjual buah tangan itu dengan harga Rp5.250 per tanaman.

Erik menuturkan, harga jual itu masih menguntungkan. Pemuda kelahiran 1 Maret 1987 itu mengatakan, biaya produksi mencapai Rp3.500 per tanaman. Oleh karena itu, ia meraup laba Rp1.750 per tanaman. Namun, ada juga suvenir yang berharga hingga Rp100.000 per pot. Perbedaan harga itu tergantung jenis kaktus, ukuran pot, dan kemasan yang diinginkan oleh konsumen.

Nasib petani

Erik mulai menekuni usaha suvenir tanaman sejak 2008 saat kuliah. Peraih gelar master administrasi bisnis di Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (ITB) itu memilih berbisnis kaktus lantaran prihatin melihat kondisi para petani tanaman keluarga Cactaceae itu di Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Omzet mereka anjlok gara-gara kalah bersaing dengan para petani tanaman hias yang tengah tren saat itu, seperti aglaonema dan anthurium.

Dari situ munculah ide untuk meningkatkan nilai tambah pada kaktus. Ia mengubah konsep kaktus tak sekadar tanaman hias, tapi juga menjadi buah tangan. Kaktus cocok menjadi cendera mata karena berukuran mungil sehingga mudah ditenteng. Ia menambahkan aneka aksesori untuk mempercantik penampilan si tanaman gurun.

Erik Ariyanto (paling kiri) bersama para petani kaktus yang menjadi mitra.

Erik lalu menjual kaktus dengan mengunggah suvenir tanaman hias karyanya di media sosial. Upaya itu ternyata membuahkan hasil. Banyak pelanggan yang memesan untuk suvenir, salah satunya untuk acara pernikahan. “Kalau pesanan untuk suvenir biasanya sekaligus banyak. Jadi dari satu pesanan bisa menghasilkan laba lebih banyak,” tuturnya. Ketika awal memulai usaha ia hanya mampu menjual rata-rata 3.000—4.000 suvenir per bulan.

Erik pun menggenjot penjualan dengan membuat sebuah situs untuk berjual beli. Di sana konsumen dapat melihat model suvenir yang diinginkan dan dapat langsung memesan. Pesanan yang mengalir ke Erik pun semakin deras. Pesanan tak hanya datang dari konsumen di Jakarta dan sekitarnya, tapi juga dari kota-kota lain di Pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, Maluku, hingga Papua.

Saking banyaknya pesanan, Erik terpaksa menerapkan daftar tunggu bagi calon pembeli. “Konsumen harus memesan 3—6 bulan sebelumnya jika ingin membeli suvenir di atas 250 pot,” katanya. Erik bermitra dengan petani kaktus di Lembang untuk memenuhi permintaan. Hingga kini setidaknya ada 14 petani yang bergabung menjadi mitra. Selain menjual langsung ke konsumen, Erik juga melayani sistem agen.

Mereka biasanya membeli rata-rata hingga 1.000 pot sekali pesan. Mereka lalu menjual kembali tanaman itu setelah mengemas ulang dan memberi merek baru. (Imam Wiguna)

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img