Trubus.id—Saat musim hujan tiba, populasi nyamuk (Aedes aegypti) berpotensi meningkat. Hal itu karena telur akan menetas saat habitatnya mulai tergenang air. Peningkatan itu berbanding lurus dengan jumlah penyakit demam berdarah dengue.
Salah satu upaya menekan angka kejadian demam berdarah yakni menyebarkan nyamuk Wolbachia. Namun, sayang hal itu masih menjadi perdebatan. Bagaimana kata ahli mengenai penyebaran Wolbachia?
Guru Besar Fakultas Kedokteran, Universitas Airlangga (UNAIR) Prof Dr Aryati dr MKes SpPK(K) menuturkan penelitian mengenai Wolbachia telah berlangsung lama sejak 2011.
Prof Aryanti menjelaskan Wolbachia termasuk bakteri gram negatif. Secara alami ada pada serangga seperti kupu-kupu, lalat, dan lebah. Teknologi biologis itu bermanfaat dalam mengendalikan penyakit demam berdarah.
Periset yang telah tergabung menjadi Tim Ahli Kajian Risiko Wolbachia Kementerian Kesehatan Republik Indonesia sejak 2016 itu menjelaskan bahwa pada 2017 pemerintah mulai melakukan aksi itu melalui Applying Wolbachia to Eliminate Dengue (AWED). Proses pemantauan juga masih berlangsung hingga saat ini.
“Setelah melalui penelitian panjang, kini keberadaan nyamuk Wolbachia mampu menurunkan 77,1 persen kasus demam berdarah. Jumlah perawatan di rumah sakit akibat demam berdarah pun mengalami penurunan sebanyak 86 persen,” jelas Prof Ariyanti dilansir dari laman UNAIR.
Lalu, apa manfaat Wolbachia? Prof Aryanti menuturkan meski Wolbachia mengandung bakteri tetapi tidak menginfeksi manusia.
“Bakterinya tidak mungkin pindah, karena bakteri hanya berada pada tubuh nyamuk saja. Kalau tergigit tidak akan menyebabkan manusia sakit,” jelas Prof Aryati.
Wolbachia tidak mengurangi populasi nyamuk (Aedes aegypti). Namun dengan adanya nyamuk ini, akan menekan penyebaran virus dengue yang dapat terbawa oleh nyamuk (Aedes aegypti).
“Masyarakat tidak perlu khawatir. Kalau terlanjur tergigit tidak apa-apa, karena bakteri nyamuk tidak berpindah ke manusia,” tutu Prof Aryanti.
