Sebanyak 40% panen wortel berkualitas prima.

Wibawa Sembiring Pandia tampak semringah. Pasalnya 40% setara 8 ton hasil panen wortel 25 ton laku dengan harga tinggi, yakni Rp3.000—Rp8.000 per kg. Harga itu jauh lebih tinggi daripada harga wortel kualitas biasa yang hanya Rp1.000 per kg. Dengan rata-rata harga jual Rp5.500 per kg, pekebun wortel asal Desa Merdeka, Kecamatan Merdeka, Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara, itu memperoleh omzet hingga Rp44-juta dari perniagaan wortel kualitas prima.
Belum lagi pendapatan dari penjualan sisa panen 12 ton ke pasar tradisional. Wibawa menuai sebanyak 20—25 ton per ha. Dengan harga jual ke pasar tradisional Rp1.000 per kg, ia memperoleh tambahan pendapatan Rp12-juta atau total Rp56-juta per hektare. Menurut Wibawa biaya produksi untuk membudidayakan wortel Rp35-juta—Rp50-juta per ha. Biaya produksi relatif rendah jika lahan siap olah, bukan membuka lahan baru.
Kualitas terbaik

Menurut Wibawa dengan hasil panen terendah, petani untung minimal Rp6-juta setiap musim tanam. Wortel siap panen pada umur 95—105 hari setelah tanam. Wibawa menuturkan pendapatan pekebun bisa lebih tinggi bila kondisi iklim ideal, ketika petani mampu berproduksi 40 ton per hektare. Pemasok pasar swalayan membeli wortel produksi Wibawa lebih mahal karena berkualitas A, yaitu panjang 15—25 cm, diameter 3—4 cm, warna jingga sempurna, dan mulus tanpa cacat.
Penampilan wortel Daucus carota dari kebun Wibawa hampir sama dengan wortel impor yang kerap dijual di pasar swalayan. Apa rahasia Wibawa menghasilkan wortel berkualitas prima? Salah satu kunci adalah benih berkualitas. Ia menggunakan benih wortel hasil seleksi, yaitu varietas lokal berastagi. Wibawa menuturkan pada 2004 ada program dari United State Agency for International Development (USAID) untuk meningkatkan kualitas wortel.

Ketika itu mereka menguji beberapa varietas wortel dari berbagai negara, seperti Tiongkok, Jepang, Australia, Belanda, dan varietas lokal berastagi. Hasilnya varietas lokal brastagi memiliki ketahanan penyakit dan adaptasi terbaik dibandingkan dengan jenis-jenis wortel lain dari mancanegara. “Dari segi kualitas bentuknya tidak kalah dengan wortel impor,” kata Wibawa.
Itulah sebabnya kini banyak pekebun di berbagai daerah, seperti Wonosobo, Jawa Tengah, dan Kota Batu (Jawa Timur), membudidayakan varietas berastagi. Petani di Kecamatan Dieng, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, Suhariono, mengebunkan wortel varietas berastagi di lahan 4 ha. Ia memanen 28 ton per ha. “Kualitas hasil panen bisa 80% masuk kelas reguler jika budidaya dilakukan dengan tepat,” katanya.

Suhariono menuturkan untuk menghasilkan wortel kualitas premium semua faktor sangat berpengaruh. “Terutama kualitas benih dan teknik budidaya, keduanya harus diperhatikan,” katanya. Menurut Suhariono dalam teknik budidaya yang harus diperhatikan yakni pemilihan lokasi, pengolahan tanah, pemupukan, teknis penanaman, penjarangan, pengendalian gulma dan hama penyakit, penyiraman, panen dan pascapanen.

“Jika benih jelek petani pasti tidak mau tanam, tapi kalau benih bagus tinggal optimalkan teknis budidayanya. Sebaliknya, meskipun benih bagus tetapi teknis budidaya tidak optimal hasilnya akan jelek,” paparnya. Dosen budidaya pertanian, Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, Dr Cecep Hidayat MP, mengatakan bahwa wortel menghendaki tanah gembur. “Kalau tanah gembur, umbi lebih mudah tumbuh besar asal pemupukan baik,” katanya. (Muhamad Fajar Ramadhan)
