Desa Akuaponik julukan untuk Desa Kandri, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, Jawa Tengah.

Julukan itu karena belasan warga di sana membudidayakan sayuran nirtanah antara lain dengan teknik akuaponik. Halaman rumah Jamari di perumahan Kandri Asri, misalnya, memanfaatkan saluran air dan bahu jalan di depan rumah untuk membudidayakan sayuran dengan teknik akuaponik. Di atas saluran air, ia membuat kolam ikan berukuran 70 cm x 300 cm x 50cm untuk membudidayakan lele.
Di permukaan kolam, Jamari meletakkan lembaran stirofoam berlubang tanam dengan jarak 10 cm. Ia lalu menempatkan gelas plastik bekas air mineral pada lubang itu sebagai wadah tanam. Gelas-gelas plastik itu berisi 4—6 benih kangkung. Sebulan kemudian, Jamari memanen kangkung untuk konsumsi keluarga. Untuk membudidayakan kangkung dengan sistem ebb and flow itu, Jamari mengandalkan nutrisi dari air kolam lele.
Pakan azola

Menurut Jamari air kolam lele mengandung amonium yang berasal dari kotoran lele. Bakteri dalam filter biologis kemudian mengolah amonium itu sehingga terurai. Tanaman pun siap memanfaatkannya. Jamari juga menerapkan teknik hidroponik secara substrat. Ia mengisi dua buah talang air dengan pecahan batu bata dan genteng sebagai media tanam. Kedua talang itu kemudian ditanami bayam.
Untuk memenuhi kebutuhan nutrisi, Jamari mengalirkan air dari kolam lele. Dengan memanfaatkan kedua teknik akuaponik itu keluarga Jamari tak perlu membeli sayuran lagi sehingga menghemat pengeluaran harian. Warga Perumahan Kandri Asri lainnya, Syafei Muhammad, lebih dahulu memanfaatkan halaman rumahnya untuk membudidayakan sayuran dengan teknik akuaponik.

Ia membuat kolam berukuran 8 m x 2 m di halaman rumahnya untuk membudidayakan nila. Syafei lalu membuat beberapa perangkat hidroponik dengan teknik nutrient filter technique (NFT) dan ebb and flow di sekeliling kolam. Ia juga membuat perangkat aeroponik. Untuk membudidayakan nila, Syafei hanya mengandalkan pakan berupa azola. Sementara sumber nutrisi untuk sayuran berasal dari kotoran ikan yang di olah melalui filter biologis.

Selain berperan menjaga kualitas air, filter biologis juga berfungsi mengurai amonium dari kotoran ikan sehingga menjadi sumber nutrisi yang siap diserap oleh tanaman. Dua bulan terakhir beberapa warga di Perumahan Kandri Asri memang gandrung berakuaponik. Itu bermula dari ide Syafei Muhammad yang mengajak warga di perumahan itu untuk membudidayakan sayuran dan ikan sekaligus.

Banyak warga tertarik dan akhirnya membentuk komunitas. Syafei lalu mengajarkan teknik akuaponik kepada mereka. Saat ini ada 10 warga dari 26 anggota komunitas yang sudah membuat perangkat akuaponik. Mereka merancang sistem akuaponik yang berbeda-beda sehingga masing-masing anggota mempunyai ciri khas. Contohnya Jamari yang menerapkan system ebb and flow.
Warga lainnya seperti Martono, mengembangkan teknik akuaponik dengan memanfaatkan jenis alga tertentu yang membuat warna air kolam menjadi merah. Menurut Syafei, alga menjadi sumber nutrisi yang baik bagi ikan sehingga tidak perlu pakan tambahan berupa pakan buatan. Warga lain yang mengembangkan akuaponik adalah Joko, Sarwono, dan Budi Kuncoro, dengan teknik berbeda-beda.
Dukungan

Mereka memanfaatkan berbagai jenis barang bekas, seperti kaleng cat, baskom bekas, talang air, dan jeriken untuk wadah tanam. Beberapa warga membuat kolam ikan tidak permanen menggunakan terpal. “Bahkan ada warga yang memanfaatkan kotak stirofoam bekas untuk menampung air,” tutur Syafei. Pompa air yang dipakai pun berdaya listrik rendah. Mereka memanfaatkan pompa akuarium yang harganya kurang dari Rp100.000.

Perangkat sederhana itu cukup untuk menanam kangkung, selada, sawi, dan seledri untuk kebutuhan sendiri. Antusiasme warga perumahan Kandri Asri mengembangkan akuaponik itu mendapat dukungan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Diponegoro, Semarang, Jawa Tengah. Mereka membantu dalam hal pembiayaan dan pengembangan teknologi akuaponik.

Menurut Hadi Wahyono, dari LPPM Universitas Diponegoro, Perumahan Kandri Asri cukup padat sehingga hampir tidak ada lahan untuk bercocok tanam. Perumahan itu juga berlokasi di ketinggian 300—400 m di atas permukaan laut sehingga kerap mengalami kesulitan air. “Teknik akuaponik cocok diterapkan di sana karena pemakaian air secara sirkulasi dapat menghemat penggunaan air,” tuturnya.
Menurut Syafei teknik akuaponik juga lebih hemat dan sederhana karena tidak perlu memberi nutrisi pada tanaman setiap saat. “Cukup memberi pakan ikan, selesai. Saya tidak harus mengawasi peliharaan setiap hari. Saya tetap bisa jalan-jalan dan saat pulang bisa memanen sayuran untuk dikonsumsi dadakan,” ujar Syafei. (Syah Angkasa)
