Monday, November 28, 2022

1st Jogja Flora Contest : Gebrakan Lidah Mertua di Kota Gudeg

Rekomendasi

Kekalahan koleksi Edi Sebayang lantaran keliru memilih kategori yang diikuti. Semestinya fisherii variegata koleksinya itu bersaing di kategori unik warna. Kategori ini mewadahi peserta yang mengalami kelainan warna seperti variegata. Sedangkan Edi memilih terjun di kategori cylindrica. Oleh sebab itu, dewan juri yang dikoordinir Tito Salman mengabaikan keunikan variegata. Kelemahan lainnya, ‘Sosok tanaman kurang roset. Ada satu-dua celah daun yang tidak terisi,’ ujar Rahman Darmawan, juri asal Solo, Jawa Tengah.

Penampilan ehrenbergi milik Suyatno Subekti memang layak menjadi juara. Daunnya yang bergelombang di bagian tepi tampak roset. ‘Itu artinya si pemilik benar-benar merawat tanaman itu dengan baik,’ kata Tito. Itulah sebabnya anggota dewan juri sepakat memberikan nilai tertinggi untuk kesan keseluruhan, keserasian, dan kekompakan.

Langka

Ehrenbergi koleksi Suyatno itu juga tergolong langka. ‘Ehrenbergi yang banyak beredar di pasaran umumnya berukuran kecil, panjang daun hanya 15-20 cm,’ ujar Rahman. Panjang daun ehrenbergi milik Suyatno 30-40 cm. ‘Untuk mencapai setinggi itu sulit,’ ujar Rahman. Ehrenbergi tergolong jenis yang pertumbuhannya lamban. ‘Daun baru muncul setiap 4 bulan,’ kata pria ramah itu. Oleh sebab itu, ‘Dia menang di kelangkaan umur,’ katanya. Pantas bila kebanggaan kolektor ratusan jenis sansevieria itu mengempaskan 18 peserta lain.

Persaingan yang tak kalah seru terjadi di kelas nontrifasciata. Kategori ini diikuti 18 peserta. Peserta didominasi jenis-jenis masoniana hibrida dan kirkii beserta variannya. Meski demikian, yang tampil sebagai pemenang justru Sansevieria arborescens milik Entong Sutarto asal Yogyakarta. Padahal, penampilan lidah mertua itu tergolong sederhana. Warna daun hijau tua polos. Sosoknya menyerupai bangunan pagoda setinggi kira-kira 40 cm.

Keistimewaannya? Penampilan tanaman yang roset lagi-lagi menjadi alasan juri membubuhkan nilai tertinggi. Bila dilihat dari atas, susunan daun membentuk lingkaran utuh. ‘Nyaris tak ada celah,’ kata Rahman. Spesies ini juga langka beredar di tanahair. Oleh sebab itu, peraihan nilai dari segi kelangkaan melejit meninggalkan pesaing-pesaing lainnya.

5 kategori

Kontes yang diselenggarakan pada 8 Desember 2007 di Lapangan Multimedia Training Center (MMTC), Yogyakarta, itu boleh jadi merupakan tonggak sejarah kontes sansevieria di tanahair. Penyelenggara kontes membagi peserta ke dalam 5 kategori: trifasciata, nontrifasciata, cylindrica, unik bertema, dan unik warna. ‘Ini pertama kalinya di Indonesia,’ ujar Radjendra, ketua penyelenggara.

Yang mengejutkan, kategori unik ternyata mengundang antusiasme para peserta. Sebelas peserta berkompetisi di kelas unik bertema. Pada kategori ini, para peserta beradu unik dari segi bentuk fisik. Sansevieria patens koleksi Hanti asal Yogyakarta yang bertema cakar meraih gelar juara. Juara II diraih Sansevieria nelsonii bertema twins alias kembar. Disebut demikian karena koleksi Ojat asal Kebumen itu terdiri atas 2 tanaman yang bersosok mirip.

Pada kategori unik warna, tampil sebagai pemenang adalah sansevieria fla H-13 milik Fitra Mahardika. Koleksi pria asal Wonosobo itu sangat unik karena dari satu indukan melahirkan 2 anakan berbeda warna. Satu anakan berwarna hijau pekat dan satunya lagi variegata. Sedangkan sang induk berwarna hijau pucat.

Selain kompetisi lidah mertua, 1st Jogja Flora Contest juga menggelar 3 kontes tanaman hias lainnya: aglaonema, anthurium, dan puring. Ajang ini menjadi pembuktian berjayanya keempat tanaman hias itu di Kota Gudeg. (Imam Wiguna)

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Cara Membangun Rumah Walet agar Walet Mau Bersarang

Trubus.id — Rumah walet tidak bisa dibuat asal-asalan. Perlu riset khusus agar rumah itu nyaman ditempati walet. Mulai dari...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img