Trubus.id — Sengon menjadi salah satu komoditas kayu yang banyak dibudidayakan. Sengon kerap dipilih karena waktu panennya terbilang cukup cepat dibanding jenis kayu lain. Budidaya sengon bisa dikatakan investasi lima tahunan karena saat usia 5 tahun pekebun bisa memanennya.
Panen yang cepat membuat perputaran uang juga cepat. Selain dari kaca mata bisnis, faktanya ada 7 hal unik yang jarang orang tahu seputar komoditas kayu sengon ini.
- Populasi sengon Paraserianthes falcataria alam banyak ditemukan di Maluku dan Papua.
- Sengon pertama kali dibawa ke Pulau Jawa pada 1871 dan ditanam di Kebun Raya Bogor dengan benih yang berasal dari Pulau Banda.
- Sengon dikenal dengan sebutan puah (Brunei); albizia, batai, Indonesian albizia, moluca, paraserianthes, peacock plume, white albizia (Inggris); kayu machis (Malaysia); white albizia (Papua Nugini); falcata, moluccan sau (Filipina).
- Di Kota Ambon, Maluku, kulit pohon sengon digunakan untuk bahan jaring penyamak. Kadang juga digunakan masyarakat setempat sebagai pengganti sabun.
- Sengon tercatat sebagai salah satu tanaman tercepat pertumbuhannya di dunia. Mampu tumbuh hingga tinggi 8 m pada tahun pertama sejak penanaman.
- Daun sengon memiliki panjang 40 cm, terdiri atas 8–15 anak tangkai dan 15–25 daun. Daun sengon bisa menjadi pakan ternak karena memiliki kandungan protein cukup tinggi.
- Limbah pengolahan kayu sengon tidak sepi peminat. Serbuk gergaji (sawdust) diekspor ke Jepang sebagai bahan untuk alas kandang ternak (animal bedding).
