Tuesday, May 5, 2026

Kapal Raksasa Bawa 17 Ribu Sapi Australia ke RI, Pakar IPB Ungkap Solusi Tekan Impor

Rekomendasi
- Advertisement -

Belakangan ini, pemberitaan media di Australia sedang ramai menyoroti pergerakan MV Al Kuwait. Kapal yang tercatat sebagai armada ekspor ternak hidup terbesar di dunia ini diketahui baru saja berlayar dari Pelabuhan Darwin menuju Indonesia dengan membawa lebih dari 17.000 sapi.

Usut punya usut, kapal raksasa ini sebenarnya dijadwalkan mengekspor domba menuju kawasan Timur Tengah. Namun, situasi perang yang tengah berkecamuk di Iran terpaksa membuat aktivitas perdagangan domba hidup tersebut dihentikan. Haluan pun dialihkan ke tanah air.

Bagi Negeri Kangguru, Indonesia memang bukan pemain baru. Kita sudah lama menjadi mitra utama sekaligus pasar paling gemuk untuk ekspor ternak hidup mereka. Bayangkan saja, berdasarkan data tahun 2025, Indonesia memborong sekitar 583.418 sapi dengan harga patokan US$4,00 per kilogram bobot hidup.

Mengapa Harus Sapi Australia?

Melihat tingginya angka impor tersebut, pertanyaannya tentu satu: mengapa kita begitu bergantung pada sapi Australia? Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University, Prof. Ronny Rachman Noor, menjelaskan bahwa akar masalahnya ada pada terbatasnya kapasitas produksi daging di dalam negeri.

“Populasi sapi potong di dalam negeri belum cukup untuk memenuhi kebutuhan daging nasional, khususnya di kota-kota besar. Ini terkait dengan produktivitas sapi lokal yang relatif rendah dibandingkan dengan sapi Brahman Cross dari Australia,” tutur Ronny.

Kita ambil contoh sapi bali. Pertumbuhannya memang terbilang lebih lambat dibanding sapi ras impor. Belum lagi urusan pakan dan lahan yang masih terbatas. Ditambah sistem peternakan rakyat kita yang rata-rata masih tradisional dan kurang efisien.

Masalah lainnya ada pada distribusi yang timpang. Sentra produksi sapi kita menumpuk di wilayah tertentu saja seperti Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi, dan Jawa Tengah. Di sisi lain, perut yang harus diisi dan permintaan tertinggi justru terpusat di kota-kota metropolitan seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan.

Permintaan daging sapi di Indonesia memang tak pernah sepi, malah terus merangkak naik seiring bertambahnya jumlah penduduk dan menguatnya kelas menengah. Roda industri makanan, restoran, hotel, hingga katering menuntut jaminan pasokan daging sapi yang ajek. Belum lagi jika kita bicara tradisi dan momen keagamaan seperti Iduladha.

Ketimpangan antara tingginya permintaan dan lambatnya produksi inilah yang membuahkan defisit. Untuk menambal lubang tersebut, jalan pintas yang diambil pemerintah yitu membuka keran impor sapi hidup dari Australia.

“Dari segi logistik dan infrastruktur, Australia memiliki sistem ekspor ternak hidup yang terintegrasi. Termasuk pelabuhan Darwin, Kimberley, dan Queensland. Didukung kapal-kapal besar seperti MV Al Kuwait yang mampu mengangkut puluhan ribu ekor sekaligus dengan harga yang relatif kompetitif,” kata Ronny.

Simalakama Impor: Antara Manfaat dan Risiko Kerugian

Impor sapi Australia memang memberikan napas lega berupa pasokan yang stabil sehingga daging sapi selalu tersedia di pasar. Harganya pun lumayan bersaing, memberi banyak opsi bagi pelaku industri. Bicara kualitas, sapi jenis Brahman Cross asal Australia punya laju pertumbuhan yang cepat dan sangat cocok untuk digemukkan di feedlot (kandang penggemukan). Secara makro, ini juga mengukuhkan jalinan perdagangan bilateral kedua negara.

Namun, ketergantungan ini ibarat pisau bermata dua. Tingginya angka impor membuat Indonesia sangat rentan tersenggol isu geopolitik, naik-turunnya harga global, hingga ancaman risiko logistik dan kesehatan hewan. Mari kita hitung kasarnya. Jika satu sapi berbobot 300 kg, maka nilai impor untuk 583.418 ekor pada tahun 2025 itu menembus angka US$700 juta setara Rp 11 triliun. Sebuah angka devisa yang tak main-main.

Jalan Keluar Mengurangi Ketergantungan

Pemerintah melalui Kementerian Pertanian sebetulnya tidak tinggal diam dan sudah berusaha menekan angka impor sapi hidup maupun daging beku. Sayangnya, Ronny melihat pergerakan ini belum dibekali strategi jangka panjang yang matang, sehingga di tengah permintaan yang terus meroket, dampaknya nyaris belum terasa.

“Upaya pengurangan ketergantungan ini memerlukan perencanaan jangka panjang, bukan tindakan instan. Strateginya meliputi penguatan pembibitan sapi lokal seperti sapi bali dan PO (peranakan Ongole), serta mendukung riset genetik untuk meningkatkan produktivitas,” ujar Ronny.

Tak berhenti di situ, ia juga mendorong tumbuhnya usaha feedlot yang mengandalkan pakan lokal, sebut saja jagung, singkong, hingga pemanfaatan limbah pertanian. Tujuannya demi memangkas ongkos pakan impor.

“Diversifikasi sumber impor seperti kerja sama dengan Brasil, India, dan negara-negara Asia Tenggara, sebaiknya dilanjutkan untuk mengurangi ketergantungan pada Australia,” ujar Ronny.

Sebagai langkah pamungkas, kebiasaan konsumsi masyarakat juga perlu sedikit digeser.

Fokus ke swasembada protein hewani melalui peningkatan konsumsi ayam, kambing, dan ikan, serta inovasi protein alternatif. Dari segi kebijakan dan insentif, subsidi bagi peternak lokal juga harus ditingkatkan. Termasuk pengaturan kuota impor agar tidak menekan harga sapi domestik.

Sumber: https://www.ipb.ac.id/news/index/2026/04/mengapa-indonesia-bergantung-pada-sapi-australia-ini-analisis-akademisi-ipb-university/


Artikel Terbaru

Cara Memilih Jeruk Manis di Pasar: Ciri Fisik, Aroma, dan Mutu

Menurut Said dan rekan dalam artikel Physicochemical Quality Indicators of Citrus Fruits, mutu jeruk manis ditentukan oleh kombinasi karakter...

More Articles Like This