Persoalan klasik seperti harga panen yang naik-turun, umur simpan produk yang singkat, hingga panjangnya rantai distribusi alias jeratan tengkulak sering kali membuat petani gigit jari. Belum lagi urusan pasar yang kerap tak pasti. Aangin segar kini berembus di Desa Tugu Mukti, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat.
Berkat kehadiran program One Village One CEO (OVOC) besutan IPB University, sederet masalah pelik tersebut perlahan mulai terurai. Lewat jurus pemetaan pasar yang jitu dan sentuhan teknologi, program ini sukses memberikan kepastian pasar sekaligus menaikkan pendapatan para petani setempat.
Mahasiswa Program Studi Silvikultur IPB University yang juga didapuk sebagai CEO OVOC Desa Tugu Mukti, Muhamad Rizki Hadi Pratama, membeberkan strateginya. Ia menyebutkan bahwa OVOC hadir membawa solusi lewat pemetaan tiga segmen pasar utama yaitu pasar modern, ritel daerah, dan pasar lokal.
“Skema ini membantu petani mendapatkan kepastian penyerapan hasil panen sekaligus mengurangi ketergantungan pada tengkulak. Pemetaan dan segmentasi pasar tersebut telah dijalankan secara konsisten sejak enam tahun lalu,” tutur Hadi.
Sentuhan Teknologi Cuaca dan Pascapanen
Bukan cuma urusan jualan, program ini juga membekali petani dengan inovasi teknologi di lapangan. Salah satunya adalah pemanfaatan automatic weather station (AWS) milik IPB University yang ternyata sudah diterapkan sejak 2020.
Alat ini sangat membantu petani dalam memantau kondisi cuaca secara lebih akurat. Data penting seperti curah hujan, suhu, hingga kelembapan dimanfaatkan sebagai acuan dalam mengambil keputusan budi daya. Hasilnya, risiko gagal produksi bisa ditekan seminimal mungkin.
Tak berhenti di lahan, inovasi juga menyentuh tahap pascapanen. Bersama para peneliti dari IPB University, program OVOC mengembangkan teknologi ozonisasi. Teknologi ini terbukti ampuh memperpanjang umur simpan komoditas hortikultura khususnya selada air hingga dua kali lipat. “Dengan adanya teknologi ozonisasi, umur simpan bisa dua kali lebih lama. Ini sangat membantu karena kami juga menembus pasar internasional,” kata Hadi.
Harga Stabil dan Rantai Distribusi Dipangkas
Dampak nyata dari intervensi pasar dan teknologi ini langsung terasa pada dompet petani. Stabilitas harga panen kini bukan lagi sekadar angan-angan.
“Dulu sebelum ada OVOC, selada bisa mencapai Rp500 per kilogram. Setelah kami bisa menjaga stabilitas pasok, harga bisa stabil di Rp15.000–Rp16.000 per kilogram,” ujar Hadi.
Perubahan yang tak kalah drastis juga terjadi pada rantai distribusi. Dulu, hasil jerih payah petani harus melewati banyak tangan perantara sebelum sampai ke pasar. Dari tengkulak lokal, ke tengkulak desa, kecamatan, hingga bos besar, baru ke pasar induk. Sekarang dipangkas, dari petani ke hub, lalu langsung ke pasar modern.
Untuk memastikan petani benar-benar untung, penetapan harga juga tidak dilakukan secara sepihak. Harga jual ditetapkan bersama petani dengan margin minimal 10 %di atas harga pokok produksi (HPP). Ia menegaskan adanya kesepakatan adil antara pengelola program dan para petani.
Melihat keberhasilan di Desa Tugu Mukti, Hadi menaruh harapan besar. Ia ingin program OVOC ini bisa terus diperluas ke berbagai daerah di Indonesia. Harapannya agar semakin banyak petani di tanah air yang bisa merasakan langsung manfaat inovasi, pendampingan, serta akses pasar yang lebih baik.
