“Sughoii!” (luar biasa, red),” ujar Shigeyoshi Tanaka, juri asal Jepang berulang-ulang saat menunjuk sosok kohaku peraih GC A itu. Klangenan milik Hendrawan Sudarpo dari Jakarta sepanjang 64 cm itu memiliki bentuk tubuh bak perahu serta pattern warna yang tegas. Kecantikan kohaku itu diakui para peserta. Contoh Muhammad Subari. Hobiis dari Palu, Sulawesi Tengah, itu kedapatan sedang mengabadikan sang juara dengan telepon selular. “Bagus sekali ikannya,” kata Subari.
Menurut Dr Jim Phillips, juri asal Afrika Selatan, kohaku itu layak juara. “Tubuhnya besar dan proporsional. Warnanya solid dengan empat step pola merah yang tegas” ujar juri bersertifikat Zen Nippon Airinkai (ZNA) di Afrika Selatan itu. Pesaingnya kohaku milik Handy Yusran dari Jakarta, sebenarnya memiliki bentuk tubuh dan pola bagus. “Kohaku runner up GC A tahun depan bisa jadi juara,” ungkap Yasuaki Kaneko, juri dari Niigata, Jepang.
Kilau kujaku
Perebutan GC B memiliki kesan istimewa bagi para juri Jepang. Gelar itu diraih kujaku milik Yanto Wijaya di Bandung. Kilau warna dasar metalik dengan pola jingga tegas sangat disukai para juri. “Ahh…kujaku yang itu,” ujar Yasuaki Kaneko. Kaneko menyebutkan kujaku seperti itu jarang ditemui di Jepang. “Koi itu punya gen unggul,” kata Katsunori Miya, juri dan pemilik Miyatora Koi di Jepang.
Menurut Yanto Wijaya koi berumur 2 tahun itu sudah dipelihara selama setahun di Jepang. “Pemeliharaannya maksimal,” kata Yanto yang hanya menurunkan satu-satunya kujaku dan belum pernah mengikuti lomba itu.
Di kategori serupa penampilan kikushui tak kalah memukau para juri. Tubuh gempal sepanjang 41 cm itu dibalut warna putih metalik dengan belang jingga solid. Kilau warna metalik semakin memancar saat terpapar cahaya lampu. Tak heran dengan pesona kilau metalik itu gelar juara adult champion B digenggam.
Kohaku milik Achmad Soni berukuran 55 cm menjadi juara di kelas adult champion A. Koi juara itu memiliki hi – warna merah – bundar di kepala dan punggung alias maruten kohaku. Maruten kohaku hanya salah satu dari 26 koi yang diturunkan Soni pada kontes ini. Setidaknya ada 3 juara utama disabet pria asal Bandung itu sehingga meraup poin 11.425. Soni pun dinobatkan sebagai juara umum 7th All Young Koi Show. Pesaingnya Felix Denanta mendapatkan poin 8.950 dari 17 koi yang berlomba.
One day entry
Kontes skala nasional yang digelar di Surabaya Supermall Pakuwon, Surabaya, Jawa Timur, pada 29 – 1 Mei 2011 itu berlangsung meriah. Lomba diikuti 189 peserta dari 29 kota seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Blitar, dan Kediri dengan total kontestan 952 ekor “Ini pertama kali saya ke Indonesia dan melihat koi di sini. Saya terkesan kualitas koi pada even ini,” ujar Phillips.
Ada yang berbeda dari kontes kali ini.Lomba yang diadakan oleh Asosiasi Pecinta Koi Indonesia (APKI) itu memberlakukan one day entry. Panitia menyediakan tandon air dan oksigen yang diberi UV sterilisasi dan bak sterilisasi. “Dengan adanya kontes ini kami ingin menunjukkan bahwa sistem karantina di Indonesia untuk lomba sudah baik dan aman dengan sterilisasi,” ujar Budi Widjaja, ketua APKI. (Pranawita Karina)
