Trubus.id — Makadamia merupakan tanaman bernilai ekonomi tinggi. Makadamia menghasilkan biji berharga paling mahal di antara berbagai kacang-kacangan seperti jambu mete, almond, dan kacang tanah. Makadamia berasal dari hutan hujan Queensland, Australia.
Biji makadamia kaya nutrisi dan unsur-unsur penting seperti lemak nabati, kalsium, besi, fosfor, magnesium, potasium, dan zat antioksidan. Harga biji kupas Rp800.000 per kilogram. Nektar dan tepung sari makadamia melimpah sehingga potensial untuk mendukung budidaya lebah madu atau apikultur. Makadamia juga sumber tanin dan minyak asiri.
Permintaan bibit makadamia dari masyarakat cukup tinggi. Sayangnya, belum banyak yang melakukan perbanyakan makadamia. Perbanyakan makadamia lebih mudah melalui biji. Persentase tumbuh perbanyakan secara generatif mencapai lebih dari 95%.
Adapun pembiakan secara vegetatif dengan menggunakan setek pucuk masih belum banyak yang melakukan karena pertumbuhan lamban. Adapun ciri-ciri buah matang untuk perbanyakan adalah berwarna kecokelatan dan buah mudah jatuh.
Biji yang baik adalah biji dari buah segar yang baru dibuka dari kulit. Biji harus berasal dari tanaman yang subur. Biji kemudian dijemur dengan sinar matahari selama dua hari dan selanjutnya ditanam.
Di Indonesia, makadamia banyak tumbuh di Kebun Percobaan Sipisopiso di Desa Negeri Tongging, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo, Sumatra Utara. Populasi makadamia di kebun itu sebanyak 1.400 tanaman.
Namun, kendala saat ini lahan hutan Gunung Sipisopiso sering terjadi kebakaran. Akibatnya, sumber pakan bajing berkurang, sedangkan populasi bajing bertambah. Dengan populasi yang banyak serta adanya jenis pakan baru yang lezat dan gurih, buah makadamia menjadi sasaran bajing.
Menurut pengalaman dan informasi dari petani kelapa, dengan memakai plat seng yang dililitkan pada batang yang berbuah terbukti mengurangi serangan bajing. Musababnya bajing yang memanjat tanaman tidak dapat melewati rintangan plat seng yang licin.
